PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 25


__ADS_3

"Apa yang kamu inginkan?" tanya Egi membuka suara.


"Dan apa yang aku dapatkan jika membantumu." lanjut Egi.


Amanda menoleh ke arah Egi. Dan Egi bisa melihat dengan jelas, jika raut wajah Amanda menampakkan ekspresi yang bercampur. Gelisah. Takut. Bingung. Dan juga perasaan tertekan.


"Aku tidak tahu." ucap Amanda lirih, menghela nafasnya dengan pelan dan panjang. Nampak ada beban besar dan berat pada helaan nafas tersebut.


"Aku sendiri bingung. Apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar tidak tahu." ucap Amanda menundukkan kepalanya. Kedua telapak tangan saling meremas.


"Pulanglah." ucap Egi. Amanda langsung menoleh, menatap ke arah Egi dengan bola mata yang sudah berair.


Egi tidak bisa membantunya. Bukan tidak bisa, tapi tidak ingin. Dan Amanda tahu alasan Egi tidak bisa membantu dirinya. Itulah sekarang yang ada di benak Amanda.


Siapa Amanda. Hanya orang asing. Rekan bisnis. Tidak lebih. Mana mungkin Egi dengan suka rela membantu dirinya.


Artinya Egi akan berurusan dangan Revan, jika Egi memutuskan untuk membantu dirinya. Dan pastinya Egi tidak ingin mencampuri masalah orang lain.


Amanda menghapus air mata yang sudah menetes di pipinya. Berusaha tersenyum dengan mata menatap ke arah Egi. "Terimakasih, sudah mendengarkan semua keluh kesahku. Setidaknya, sekarang bebanku sedikit berkurang." ujar Amanda.


Karena selain dengan Nanny, Amanda belum pernah menceritakan hal ini pada orang lain. Dirinya takut, jika orang yang di ajaknya berbicara, malah akan memberitahukan pada Revan.


Dan semua itu malah akan membuat hidupnya semakin tertekan. Dan juga dalam bahaya.


Amanda sebenarnya ingin menyelidiki masalah ini sendiri. Tapi semua ini sangat asing untuk Amanda. Dirinya merasa takut sebelum melangkah.


"Untuk sementara, ikuti saja semua perkataan Revan." ucap Egi, saat Amanda hendak memegang handle pintu mobil. Ingin keluar dari mobil Egi.


"Hah." Amanda melepaskan pegangan tangannya di handle pintu mobil. Membalikkan badannya dengan segera ke arah Viki.


"Mak-maksud kamu, maksudnya bagaimana?" tanya Amanda dengan polos. Karena dirinya memang tidak tahu arti perkataan dari Egi. Atau lebih tepatnya bingung dengan perkataan Egi.


"Ikuti semua perkataan Revan seperti biasanya." ucap Egi mengulang perkataannya.


"Jangan sampai Revan tahu, jika kamu sudah menceritakan padaku." imbuh Egi.


Sementara Amanda masih menatap ke wajah Egi dengan ekspresi bingung. "Kamu, kamu, kamu mau membantu aku?" tanya Amanda dengan ragu.


"Hemm." jawab Egi.


Seketika Amanda menangis. Membuat Egi menautkan kedua alisnya. "Dasar perempuan." gumamnya.

__ADS_1


"Maaf. Aku terlalu senang." cicit Amanda, segera menghapus air matanya yang jatuh di pipi.


"Keluar. Dan ingat perkataanku." ucap Egi.


"Baik. Pasti." ucap Amanda dengan semangat.


"Jangan pernah menghubungiku. Atau mendekatiku. Bersikaplah seperti biasa saat kita bertemu." kelas Egi.


"Tapi, bagaimana jika aku ingin menanyakan sesuatu."


"Jangan pernah menghubungiku. Jika kamu melanggar, aku tidak akan membantumu." tegas Egi.


"Maaf. Baik. Akan aku lakukan apapun. Asal kamu bersedia membantuku." ujar Amanda.


Amanda tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. "Terimakasih banyak." ucap tersenyum lebar.


"Turunlah dengan hati-hati. Jangan sampai anak buah Revan melihatmu turun dari mobilku." ucap Egi mengingatkan.


"Iya." sahut Amanda.


Segera Amanda keluar dari mobil Egi. Tapi sebelumnya, dia melihat sekelilingnya. Di rasa aman, barulah dia keluar dari dalam mobil.


Segera Amanda kembali ke gedung acara fashion show. Meski harus berjalan beberapa menit, dirinya rela. Asal anak buah Revan tidak mencurigainya.


Sebisa mungkin dia harus bisa belajar mengendalikan emosi dan juga perasannya. Jangan sampai Revan atau anak buahnya mencurigai dirinya.


Selain dirinya tidak ingin di ketahui Revan, dirinya sekarang harus memikirkan Egi. Karena jika sampai dia salah langkah, Egi pasti juga akan terseret dalam masalah ini.


Dan Amanda tidak ingin jika Egi sampai terkena imbas karena masalah ini. Padahal, dengan Egi sudah mau membantunya, itu berarti jika Egi sudah terlibat dalam masalahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mama." ucap Egi, melihat sang mama duduk di ruang tamu apartemennya, begitu Egi membuka pintu apartemen.


Terlihat baju yang dipakai oleh Nyonya Tiwi tampak berbeda. Menandakan jika beliau sudah membersihkan badan dan berganti pakaian.


"Mama tidak mengantuk?" tanya Egi basa basi.


"Kamu mau pergi ke mana?" tegur Nyonya Tiwi, saat Egi hendak meninggalkan ruang tamu.


"Ma.." ucap Egi, namun terhenti karena perkataan sang mama.

__ADS_1


"Jangan menjadi orang bodoh." sindir Nyonya Tiwi. Karena Egi pasti sudah tahu, kenapa beliau belum tidur. Dan malah duduk di kursi ruang tamu. Menunggu kedatangannya. Padahal pasti sang mama pasti juga capek.


"Duduk." pinta Nyonya Tiwi dengan tegas. "Jelaskan pada mama." imbuh Nyonya Tiwi.


"Jangan pernah mempermainkan perasaan perempuan." ucap Nyonya Tiwi dengan raut wajah tidak senang.


Egi duduk di samping sang mama. "Ma, Egi bukan lelaki seperti itu." ucap Egi dengan tenang.


"Lily." kata Nyonya Tiwi. Seperti menginginkann sebuah penjelasan mengenai hubungan dirinya dengan Lily.


"Egi sebenarnya juga tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba dia datang, memeluk Egi. Dan bilang pada semua orang, jika Egi kekasihnya. Salah Egi di mana?" ucap Egi menjelaskan serta bertanya.


Karena memang benar, bukan Egilah yang memulai semua ini. Tapi Lily sendiri.


Nyonya Tiwi memandang tajam ke arah putranya. "Aissh,,, ma. Pasti Beni sudah menceritakan semuanya pada mama bukan." tebak Egi.


"Kenapa mama harus bertanya lagi." imbuh Egi, sebab dirinya memang malas menjelaskan semuanya pada sang mama.


"Lantas, apa yang akan kamu lakukan pada Lily?" tanya Nyonya Tiwi. Yang berarti jika tebakan Egi tepat. Bahwa sang mama sudah mengetahui permasalahannya dengan Lily.


"Kamu itu." Nyonya Tiwi menjewer telinga Egi, saat lelaki tersebut mengangkat kedua bahunya.


"Lalu Egi harus bagaimana?" tanya Egi.


Nyonya Tiwi menyandarkan badannya di kursi. "Kelihatannya dia benar-benar menyukai kamu." tebak Nyonya Tiwi.


"Entahlah." sahut Egi dengan enteng.


"Ckk,,, jangan seperti itu. Kasihan jika kamu memberikan harapan padanya. Katakan yang sejujurnya. Suruh dia menjauh jika kamu tidak mempunyai perasaan apa-apa pada dia."


"Jangan membuat hati seorang patah. Mama tidak suka mempunyai anak seperti itu." oceh Nyonya Tiwi.


"Tanpa mama meminta, Egi sudah melakukannya. Tapi Lily tidak mau menjauh." ucap Egi.


Nyonya Tiwi mendesah pelan. "Lalu perempuan tadi. Siapa dia?" tanya Nyonya Tiwi.


"Amanda. Anak dari rekan kerja Egi. Karena papanya sedang sakit, dialah yang menggantikannya."


"Kamu yakin. Hanya sebatas rekan kerja?" tanya Nyonya Tiwi menuntut.


"Iya." jawab Egi dengan tenang.

__ADS_1


Nyonya Tiwi mencari tahu lewat ekspresi sang anak. Apakah dia berbohong, atau malah berkata jujur.


"Ma, mama bukan pakar ekspresi." goda Egi, saat sang mama melihatnya dengan tatapan rumitnya.


__ADS_2