
Egi menyerahkan ponsel pada pada Beni. Dengan sigap, Beni segera melajukan mobilnya ke tempat yang terlihat dilayar ponsel milik atasannya tersebut.
"Percepat." perintah Egi, tangan Egi melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya.
Menggunakan ponsel yang satunya lagi, Egi segera menghubungi bawahannya. Menyuruhnya untuk bergegas ke tempat yang dia katakan.
Tak lupa, Egi jiga mengingatkan untuk memperketat keamanan di mana Nando di sekap.
Sesekali Beni melihat Egi dari kaca spion. Raut wajahnya nampak tenang. Bahkan, sang asisten saat ini tak mampu untuk membaca langkah yang selanjutnya akan di ambil oleh atasannya tersebut.
"Pantau terus pergerakan Ebara. Jangan sampai kalian lengah." ucap Egi di ujung ponselnya.
"Jika sampai terjadi sesuatu dengan Lily. Akan aku ratakan semua miliknya." ucap Egi dalam hati. Namun dia masih memilih bersikap tenang. Egi yakin, kekasihnya bukan perempuan lemah.
"Aku bilang jangan sentuh." gertak Lily pada Beno, saat tangan Beno terulur hendak memegang Mauren.
Belum sempat menyentuh lengan Mauren, Lily sudah mencekal lengan Beno. Dan mendorong dengan kasar tubuh lelaki tersebut ke samping.
Beno tampak melangkah beberapa langkah ke belakang. "Besar juga nyalimu." Beno menggerakkan kepalanya sedikit, sambil menaikkan sebelah alisnya.
Seorang anak buah Beno maju dan langsung menyerang Mauren. Dengan sigap, Lily membalikkan badan dan menangkis serangan tersebut.
Mauren yang terkejut secara reflek berlindung di belakang tubuh Lily. "Brengsek, tahu begini aku tidak memakai pakaian seperti ini." ucap Lily dalam hati.
Meski belum menguasai ilmu bela diri secara benar dan sempurna, namun setidaknya Lily sudah memahami dan mengerti sedikitnya teknik untuk menahan serangan dan juga menyerang.
Berbekal dengan sedikit ilmu tersebut, Lily memberanikan diri. "Aku berjanji, setelah ini aku akan berlatih dengan giat dan serius." ucap Lily dalam hati. Karena sebelumnya, Lily hanya asal-asalan saat berlatih.
Lelaki tersebut nampak hendak menyerang Lily, tapi Lily masih sanggup menghadapinya, meski tendangannya beberapa kali mengenai anggota tubuh Lily.
Prok,,, prok,,, prok,,, Beno bertepuk tangan. Dengan duduk layaknya seorang bos besar, Beno menyaksikan pertarungan salah satu bawahannya dengan Lily.
Terlihat nafas Lily mulai ngos-ngosan. Bahkan, sudut bibir Lily juga sedikit berdarah karena pukulan dari lawan.
"Boss, apa tidak sebaiknya kita hentikan pertarungan mereka." saran bawahan Beno yang lain.
__ADS_1
Bukan hanya dia yang merasa khawatir, melainkan semua bawahannya. Dan juga lelaki yang bertarung dengan Lily.
Pertarungan di hentikan. Beno tampak menatap tajam ke arah bawahannya yang berani mengganggu kesenangannya.
"Maaf Boss, kami hanya takut jika Lily terluka. Pasti Tuan Ebara akan murka." jelasnya.
"Ternyata ada sesuatu yang mereka inginkan dariku." ucapan Lily tersenyum samar. Sepertinya Lily mempunyai sebuah rencana licik.
"Benar Boss. Sebaiknya kita bawa perempuan ini ke tempat Tuan Ebara sekarang juga." saran bawahannya yang lain.
"Aku harus tetap di sini. Sampai Egi datang." ucap Lily dalam hati.
"Beno,,,!! Aku tidak akan membiarkanmu membawa Lily. Selangkah saja kamu keluar membawa Lily, aku akan menghabisi kamu!!" ancam Vincen.
Lily memandang Vincen dengan tatapan kesal. Dia seorang pemimpin perusahaan besar. Tapi kenapa otaknya tidak dipergunakan dengan baik di saat genting seperti ini.
"Apa selama ini orang lain yang bekerja. Dan Vincen hanya mengakui kinerjanya" tebak Lily dalam hati dengan sebal.
Dengan Vincen mengatakan pada Beno untuk tidak membawa Lily pergi secara langsung, sama saja membuat Beno semakin ingin membawa Lily segera meninggalkan tempat tersebut.
Beno menggerakkan tangannya. Seorang bawahan Beno mendekat ke arah Vincen. Dan mulai memukuli tubuh, bahkan wajah Vincen.
Lily dan Mauren hanya bisa membuang muka. Mereka tidak tega melihat Vincen di jadikan samsak tinju oleh bawahan Beno.
Tampak Vincen lemas tak berdaya. Dengan tubuh di ikat menjadi satu dengan kursi, tentu saja Vincen tidak dapat bergerak dan mengelak dari serangan.
Lily meludah ke samping. Mengusap sudut bibirnya, tersenyum sinis memandang ke arah Beno. "Katanya pemimpin. Tapi menurut sekali dengan bawahan. Yang aku tahu, Egi saja tidak pernah tunduk pada anak buahnya." Lily mencoba untuk memprovokasi Beno.
Mauren yang mengerti arah rencana Lily, memutar otaknya untuk ikut membantu sahabatnya tersebut. Memang, saat awal Mauren merasa takut yang luar biasa.
Namun ketakutannya seakan terkikis perlahan dengan melihat bagaimana Lily terus berjuang sendirian. Sementara Vincen tidak berdaya, dan dirinya hanya diam. Menjadi penonton. Seolah malah menjadi beban untuk sahabatnya.
"Benar. Kita harus mengulur waktu. Sampai bantuan datang." ucap Mauren mulai optimis.
"Jangan samakan dia dengan Egi. Sudah jelas, kelas mereka berbeda Lily." sahut Mauren, menyiram bensin dalam kobaran api.
__ADS_1
Beno memandang seluruh bawahannya, mereka juga memandang ke arah Beno dan menggeleng pelan. Berusaha membuat Beno tidak termakan perkataan dua perempuan tersebut.
"Boss, jangan dengarkan perkataan mereka." bujuk bawahannya. Yang memang tidak bermaksud menggurui pimpinan mereka.
"Lihatlah, hanya dengan ucapan lembut dan terdengar manis. Dia langsung luluh. Oohhh." cibir Mauren, dengan wajah menggoda lucu.
"Jika Egi. Bahkan satu bawahannya tidak ada yang berani membuka mulut, saat dia berdiri memberikan perintah." timpal Lily.
"Diam semua!!!!" teriak Beno, mengeratkan kedua rahangnya. Hingga terdengar suara gemeletuk dari gigi-giginya yang beradu.
"Dan kamu." Beno mendekat ke arah Lily.
"Aaa....!!" teriak Lily, saat lehernya di cekik oleh Beno.
Seluruh bawahannya segera melepaskan cengkeraman tangan Beno di leher Lily. "Boss, lepas boss. Dia bisa mati. Kita masih ingin hidup." seru bawahannya.
"Lepaskan!!" teriak Mauren memukul-mukul lengan Beno.
Ada yang memeluk Beno dari belakang. Menarik kedua tangan Beno, dan juga melepaskan telapak tangan Beno di leher Lily.
"Uhukk,,,, uhukk,,,," Lily langsung memegang lehernya sambil terbatuk dengan Mauren menepuk punggungnya perlahan setelah bawahan Beno berhasil melepaskan tangan Beno di leher Lily.
Segera Mauren pergi ke meja dan mengambil air minum. "Pelan-pelan." Lily minum dengan tergesa-gesa, dan nafas tersengal.
"Kalian...!!!" geram Beno, memandang tajam pada seluruh bawahannya. Bahkan ada dari mereka yang berdiri di depan Lily.
Seakan melindungi Lily. Padahal, nyatanya mereka menyelamatkan nyawa mereka sendiri. Jika sampai terjadi sesuatu dengan Lily, pasti Tuan Ebara akan marah besar.
Dan tak ayal, mereka juga yang akan terkena imbasnya. "Kalian lebih membela dia!!" hardik Beno, yang sudah gelap mata. Bahkan Beno tidak dapat berpikir lagi dengan jernih. Kenapa bawahannya melakukan semua ini.
"Kita berhasil Mauren." bisik Lily. Mauren mengangguk sambil meneteskan air mata. Dia tidak tega melihat keadaan Lily.
Di leher Lily nampak memerah bekas tangan Beno. Wajahnya lebam, dengan satu sudut bibir berwarna merah, yakni darah yang telah mengering.
Di lengan kanan kiri Lilypun tambak lebam akibat perkelahiannya dengan bawahan Beno.
__ADS_1