
"Ayolah kak, kenapa kakak malah memikirkan nasib Nando?!" tanya Lila dengan nada tidak suka.
"Bukan Nando. Tapi Egi. Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu pada Egi. Astaga.... Tuan Ebara itu sangat kejam dan sadis." ucap Lily dengan heboh, berjalan mondar mandir seperti setrika.
"Kejam dan sadis. Apa kakakku yang cantik tidak mengetahui, jika calon suaminya lebih dari itu. Bagaimana jika kak Lily mengetahui, jika kak Egi jelmaan iblis." ucap Lila dalam hati.
Lila menggelengkan kepala. "Tidak. Pokoknya kak Lily hanya boleh menikah dengan kak Egi. Lila percaya, hanya kak Egi yang bisa melindungi kak Lily." lanjut Lila dalam hati.
Lily berhenti dan menatap ke arah Lila yang sedang menggelengkan kepala. "Hey,,, kamu kenapa?!" seru Lily.
"Ahh,,,, oh tidak apa-apa. Lila hanya pusing melihat kakak berjalan mondar-mandir di depan Lila." ujar Lila beralasan.
"Ckk,,, mana lagi kak Mauren, katanya mau datang membantu. Malah nggak kelihatan batang hidungnya." gumam Lila memandang ke arah samping, sebab kini keduanya sedang berada di teras rumah bagian samping. Dengan Lila duduk di atas kursi.
"Selamat siang menjelang sore....!!" teriak Mauren ketika baru saja datang.
"Mauren, syukurlah kamu datang." Lily dengan heboh menarik lengan Mauren dan menyuruhnya duduk.
Lila memandang ke arah Mauren sambil mengerlingkan sebelah matanya. Di balas senyum samar dari Mauren.
Sementara Lily, dirinya tidak tahu. Jika sang adik sedang bekerja sama dengan sahabatnya untuk membuat dirinya percaya dengan semua rencana Egi.
Sebelumnya, Lily sudah menceritakan semuanya pada Mauren, tentang apa yang terjadi pada Nando. Tentu saja Mauren tidak terkejut.
Mauren malah setuju dengan apa yang di lakukan Egi pada Nando. Karena menurut Mauren, seorang psikopat seperti Nando tidak akan pernah bisa berubah atau sembuh. Hanya kematian yang bisa membuat Nando tidak lagi berbuat ulah.
"Memang ada apa?" tanya Mauren, berpura-pura tidak tahu masalahnya.
Lily mendesah pelan, tampak rasa cemas di raut wajahnya. "Aku juga tidak tahu, tiba-tiba Beni mencabut tuntutan pada Nando. Pasti semua itu karena perintah dari Egi." papar Lily.
"Dan yang aku dengar, sekarang Nando ada di tangan Egi. Mauren, kamu tahukan, bagaimana kejamnya Tuan Ebara. Aku hanya takut, terjadi apa-apa pada Egi." tutur Lily dengan nada khawatir.
"Lily, seharusnya kamu sudah bisa menebak, bagaimana sifat Egi." ucap Mauren dalam hati. Sebab dirinya dan Lily melihat dengan mata kepala mereka sendiri, bagaimana Egi dengan mudah menumbangkan Beno.
__ADS_1
Mauren tersenyum, memegang kedua telapak tangan Lily. "Kenapa kamu berpikir sejauh itu, Egi pasti baik-baik saja. Percaya pada dia. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu di khawatirkan." ujar Mauren menenangkan Lily.
Lily memeluk Mauren. "Aku sangat mencintai dia." cicit Lily. Mauren menepuk bahu Lily dengan pelan.
Lila tersenyum melihat kakaknya sudah mulai tenang. Tidak seheboh tadi.
Seperti yang di perintahkan Egi. Keesokan harinya terjadi kegemparan di dunia bisnis. Perusahaan raksasa milik Tuan Ebara mengalami kebangkrutan.
Bukan hanya perusahaan utama. Semua anak cabangnyapun juga mengalami hal yang sama. Dan yang membuat semua orang kebingungan adalah sosok Tuan Ebara sendiri.
Tuan Ebara bersama sang putra, Nando. Keduanya hilang bagai di telan bumi. Bahkan pihak pencari beritapun tidak ada yang mengetahui di mana keberadaan keduanya.
Tentunya, mereka tidak akan bisa menemukannya. Lantaran keduanya kini sudah masuk ke dalam perut buaya peliharaan Egi.
Dan Vincen, sesuai keinginan Egi. Papa dari Vincen segera menjemput sang putra. Beliau tidak ingin membangkitkan sisi iblis dari Egi.
Tentunya papanya Vincen tahu siapa putra dari almarhum temannya tersebut. Jika Egi sudah berkata, maka sudah di pastikan. Perkataannya akan menjadi kenyataan.
Bahkan papanya Vincen datang sendiri untuk menjemput sang putra. Sempat terjadi penolakan dari Vincen. Namun dengan tegas, sang papa mengancam akan mencoretnya dari daftar waris.
"Tuan, semua sudah saya selesaikan." lapor Beni pada Egi.
Egi mengangguk pelan. "Besok aku akan mengunjungi mama bersama Lily. Persiapkan semuanya." perintah Egi.
"Baik."
Di dalam kamar, Lila tersenyum senang. Matanya sedang membaca informasi yang baru saja di berikan padanya. Tentunya dia mendapatkannya dari Beni.
"Vincen. Enyahlah dari negara ini." sinis Lila.
Lila berdiri, memandang dirinya di depan cermin full body. "Semoga kakak dan kak Egi segera menikah." ucap Lila dengan tulus.
Di perusahaan Tuan Joshua, Amanda berdiri di dekat jendela, dengan pandangan jauh ke depan. Setelah kejadian yang menimpa keluarganya, kini Amanda dengan senang hati membantu sang papa mengelola perusahaan.
__ADS_1
"Nona,, Nona Amanda." Zeo memegang pundak Amanda.
Membuat Amanda sedikit terjingkat kaget. "Maaf Nona, saya sudah mengetuk pintu berkali-kali. Tapi anda tidak menyahut. Saya lancang masuk karena khawatir. Tapi anda tetap melamun saat saya memanggil nama anda, tepat di belakang anda." jelas Zeo terperinci.
Amanda tersenyum. "Maaf, saya sedang tidak fokus." ujar Amanda.
Amanda berjalan ke arah meja kerjanya. Duduk dengan anggun di balik meja tersebut. "Ada apa?" tanya Amanda.
"Tuan Joshua memberitahu saya, jika beliau tidak bisa menemui salah satu klien perusahaan. Lantaran beliau masih berada di jalan. Sementara waktunya sangat mendesak."jelas Zeo.
Meski Zeo tidak mengatakan secara menyeluruh, Amanda mengerti kemana arah pembicaraan Zeo.
"Baiklah, persiapkan semuanya. Dan temani aku." pinta Amanda.
"Segera." Zeo keluar dari ruangan Amanda dan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.
Zeo, kenapa dia masih berada di sisi Amanda. Jawabannya karena Zeo sendiri yang menginginkannya. Namun Zeo beralasan jika Egilah yang menyuruhnya untuk tetap berada di sisi Amanda.
Lalu bagaimana dengan Egi. Yapp,,, Zeo mendatangi Egi sendiri. Mengatakan pada atasannya apa yang dia inginkan.
Awalnya Zeo merasa khawatir, apabila Egi tidak mengizinkan. Tapi ternyata kekhawatirannya tidak terjadi. Egi membebaskan Zeo untuk memilih sendiri apa yang ingin dia lakukan.
Tapi Zeo berjanji, meski dia akan berada di samping Amanda. Dia akan tetap menjadi bawahan Egi. Dan Zeo akan segera kembali, ketika Egi memanggilnya.
Sementara Zea, dia kembali ke tempatnya. Dia merasa jika tugas dari Egi sudah selesai. Membuat Zea memutuskan untuk kembali ke markas. Membantu rekannya di markas.
Untuk tindakan yang di ambil Zeo, Zea tidak ingin ikut campur. Meski keduanya adalah saudara kembar. Zea sadar, jika Zeo adalah lelaki dewasa. Dan dia sudah bisa memutuskan apapun dalam hidupnya. Sama halnya seperti dirinya.
Amanda kembali melamun, sepeninggal Zeo. Amanda memejamkan kedua matanya dan menghela nafas panjang.
Dibenak Amanda, terus berkelebat bayangan Egi. Padahal Amanda sudah tidak ingin memikirkannya. Namun entah kenapa, rasanya sangat sulit.
"Astaga, padahal aku dan Egi sudah tidak pernah berkomunikasi sama sekali. Tapi kenapa rasanya sangat tersiksa." ucap Amanda lirih.
__ADS_1
"Tuhan, hilangkan rasa ini. Aku sadar, jika perasaan ini adalah rasa yang salah." ucap Amanda mendesah pelan.