
Saat melihat Lily keluar dari ruang latihannya, Egi langsung keluar dari dalam mobil. Menyandarkan tubuhnya di badan mobil dengan bersedekap dada.
Dari arah lain, Lily tersenyum sempurna. Dan berlari kecil menghampiri pujaan hati. "Sudah lama?" tanya Lily setelah berada di dekat Egi.
"Belum." Egi membuka pintu mobil, mempersilahkan Lily untuk masuk ke dalam.
"Terimakasih." ucap Lily masuk ke dalam.
"Mau kemana?" tanya Egi.
"Pulang. Gerah banget." tutur Lily. Karena memang badannya penuh dengan keringat sehabis latihan bela diri.
"Kenapa? Memang kamu mau ke mana?" tanya Lily, melihat ekspresi datar dari Egi.
"Tidak ada. Aku antar kamu pulang." sahut Egi tersenyum.
Tidak ada percakapan selama Egi dan Lily berada di dalam mobil. Karena memang sebenarnya Egi tipe lelaki dingin dan cuek.
Beberapa kali Lily mencuri pandang ke arah Egi. "Sudah makan siang?" tanya Lily memecah kesunyian.
"Sudah." jawab Egi singkat. Lily hanya manggut-manggut.
"Mampir dulu. Mama pasti senang." ajak Lily, setibanya mereka di depan rumah Lily.
"Boleh." Egi memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumah Lily. Membuat Lily tersenyum senang, karena Egi mau di ajak masuk ke dalam rumah.
"Ma,,,,!" teriak Lily memanggil sang mama, sambil menggandeng tangan Egi.
"Egi." Nyonya Tya sedikit terkejut, lantaran sang anak pulang bersama dengan Egi.
"Egi tadi jemput Lily ma." jelas Lily, dapat membaca rasa penasaran sang mama.
"Tante tinggal ke belakang dulu ya, nggak apa-apa kan? Nanti sekalian makan malam di sini." tutur Nyonya Tya.
"Baik tante." sahut Egi ramah.
Egi duduk di ruang tengah, Lily segera ke belakang. Membuatkan air minum dan membawa camilan untuk di berikan pada Egi.
"Silahkan." Lily menurunkannya dari nampan. "Aku tinggal sebentar nggak apa-apa. Mau mandi." tukas Lily.
Egi mengangguk. Segera Lily berlari menaiki anak tangga. Sementara Nyonya Tya segera mencuci tangannya, menemani Egi berbincang. Meski sebentar.
Karena saat ke belakang, Lily mengatakan pada sang mama jika hendak mandi terlebih dulu.
Tidak lama Nyonya Tya dan Egi berbincang, Lila datang, sepulang dari kuliah. "Kak Egi." sapa Lila.
"Pas ada kamu. Sini, kamu temani kak Egi. Mama mau siapkan makan malam. Kakak kamu sedang mandi." tutur Nyonya Tya.
__ADS_1
"Siap." Lila duduk tak jauh dari Egi.
Lila memandang ke kanan dan ke kiri. "Makasih ya kak." ucap Lila pelan.
"Untuk?" tanya Egi, berpura-pura tidka tahu. Padahal Egi dapat menebak, untuk apa Lila berterimakasih.
"Ckk,, kak Egi. Sok nggak tahu." cibir Lila.
"Iya. Lain kali hati-hati. Jangan mudah percaya dengan orang." ingat Egi, dengan tangan mengangkat cangkir berisi kopi dan menyeruputnya sedikit.
"Kakak sudah lama?" tanya Lila, meletakkan tas dan beberapa buku yang masih berada di tangannya di kursi sebelahnya.
"Belum." mata Egi memandang tumpukan buku yang baru saja di letakkan oleh Lila.
"Seni musik." kata Egi, katena dengan hanya melihat sampul bukunya saja, Egi dapat menebaknya.
"Piano." jelas Lily singkat. "Kalau kakak hukum." imbuh Lila.
Tampak Egi dan Lila berbincang ringan. Bahkan sesekali Egi tersenyum mendengar celotehan lucu dari adik Lily tersebut.
Tanpa mereka berdua sadari, sepasang mata melihat dati lantai atas. Lily memandang ke arah keduanya dengan tatapan rumit.
Lily menghembuskan nafas panjang. "Singkirkan pikiran negatif kamu Lily. Jangan biarkan hal kotor menguasai pikiranmu." gumam Lily.
Sempat terbesit rasa cemburu di hati Lily, saat Lila mempu membuat seorang Egi tersenyum dan memandang ke arahnya.
"Dia adik kamu. Tidak mungkin akan menusuk kamu dari belakang." ucap Lily, menyakinkan dirinya sendiri.
"Kak Egi, Lila ke atas dulu. Lila ogah jadi nyamuk." ucap Lila sambil cengengesan.
Setelah Lila pergi, Lily mengajak Egi berpindah tempat. "Kita ke belakang." ajak Lily pada Egi untuk ke taman yang berada di pekarangan belakang.
"Bagaimana dengan latihan kamu?" tanya Egi, setelah mereka berdua duduk di kursi panjang, seperti ayunan.
"Seperti kemarin. Lagi pula aku kan baru beberapa kali ikut latihan." jelas Lily. Egi mengangguk pelan.
"Emmm,,, tadi Vincen menemuiku." tutur Lily dengan hati-hati. Dirinya tidak ingin menyembunyikan apapun dari Egi. Lily hanya tidak ingin Egi salah paham terhadapnya. Terlebih Egi baru saja membuka hari untuk Lily.
Sontak Egi menoleh ke arah Lily setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Lily. "Dia mengajak berteman." ucap Lily, juga menatap ke arah Egi.
"Lalu?" tanya Egi tenang, tidak ada raut wajah cemburu, marah, ataupun tidak senang.
"Aku terima. Karena menurutku, jika tidak aku terima, pasti dia akan terus mengejar aku." jelas Lily.
"Jangan marah ya." pinta Lily dengan wajah polos, menatap penuh harap ke arah Egi.
Egi terkekeh pelan. Mencubit pelan dagu Lily. "Untuk apa marah. Silahkan berteman dengan siapapun. Asal tahu batasannya." ucap Egi.
__ADS_1
Lily merasa lega mendengar perkataan Egi. "Dan satu lagi." imbuh Egi.
"Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku." Egi mencubit gemas hidung Lily.
Lily merapatkan duduknya dengan Egi. Menyandarkan kepalanya di pundak Egi. "Pasti." ujar Lily.
"Eh iya, bagaimana dengan Amanda?" Lily sedikit mendongakkan wajahnya untuk melihat ke arah Egi.
Egi mengangkat kedua bahunya. "Aku sudah menempatkan kedua bawahanku di samping Amanda." jelas Egi.
"Egi." panggil Lily pelan. Kembali meletakkan kepalanya di pundak Egi dengan nyaman.
"Bagaimana jika Amanda menyukai kamu?" tanya Lily pelan, tapi jelas tersirat nada cemas di dalamnya.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh." tegur Egi, mencium pucuk kepala Lily.
"Harum. Kamu pakai sampo apa?" tanya Egi mengendus wangi rambut Lily.
Lily sedikit menjauhkan badannya. Memukul gemas ke lengan Egi. "Kenapa?" tanya Egi tersenyum simpul.
Padahal Lily sedang berbicara serius, bisa-bisanya Egi bertanya hal yang tidak penting.
"Perempuan mana yang tidak akan tertarik dnegan kamu. Sungguh kamu sangat sempurna." batin Lily, melihat senyum Egi yang sangat jarang dia lihat.
"Jangan tersenyum ke sembarang perempuan." celetuk Lily, membuat kening Egi mengerut.
"Termasuk Lila." imbuh Lily lirih, sambil menundukkan kepalanya.
Egi tersenyum samar. Membawa Lily ke dalam pelukannya. "Baik. Aku tidak akan senyum ke semua perempuan. Selain kamu dan mama aku." ucap Egi.
"Biar saja, nanti mama kamu dan Lila mengira jika aku sombong." goda Egi.
"Kok begitu?" tanya Lily, masih dalam pelukan Egi. Mendongakkan wajahnya untuk melihat ke arah Egi.
"Kan kamu bilang, tidak boleh tersenyum pada lawan jenis. Kamu tadi juga bilang" Egi mendekatkan bibirnya ke telinga Lily.
"Jangan tersenyum kepada Lila." bisik Egi. Lily memukul dada Egi dengan pelan. Tak lupa menunjukkan bibirnya yang cemberut.
"Tenang saja. Aku bukan lelaki yang gampang mengumbar rasa cinta. Lagi pula, Lila itu adik kamu. Berarti, dia juga adik aku. Apa kamu pikir aku tidak waras. Menyukai adik dari perempuan yang aku cintai." ucap Egi panjang lebar.
Lily meregangkan pelukannya. "Kamu bilang apa?" tanya Lily dengan wajah berbinar.
"Apa?" tanya Egi.
"Perempuan yang kamu cinta. Siapa?" tanya Lily tersenyum, dengan tangan menarik pelan lengan Egi berkali-kali.
Ini pertama kalinya Lily mendengar kalimat itu keluar dari mulut Egi. "Ckk,, kamu salah dengar." decak Egi, melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Tidak. Ayo ulangi." rengek Lily dengan nada dan ekspresi manja. Membuat Egi sedikit terpana. Karena sebelumnya, Lily belum pernah melakukannya.
"Khemmm...." suara deheman di belakang mereka membuat keduanya menghentikan obrolannya dan menoleh ke sumber suara.