
"Apa Tuan?!" tanya Beni dengan tatapan tidak percaya. Bahkan menaikkan sedikit oktaf suaranya.
"Maaf." cicit Beni, saat Egi memandangnya dengan tatapan yang tajam.
"Lepaskan Nando." ujar Egi mengulangi lagi perkataannya.
"Maat Tuan. Tapi kenapa?" tanya Beni dengan wajah bingungnya.
Egi hanya menatap ke arah Beni tanpa berbicara apapun. "Baik." ucap Beni, segera memberi perintah pada anak buahnya yang menjaga Nando.
Sama halnya seperti Beni, kini bawahan Egi yang berada di markas juga sedang bingung atas keputusan atasan mereka.
Namun, mereka sadar. Jika keputusan tertinggi tetap berada di tangan Egi. Dan sebagai bawahan, mereka hanya akan mengikuti. Apapun perintah dari atasan mereka.
Dan Nando, keluar dari markas Egi dengan senyum mengejek pada semua bawahan Egi. Dirinya mengira, sang papalah yang membuat dirinya keluar dari tempat tersebut.
Semua bawahan Egi hanya bisa menggenggam erat telapak masing-masing. Sungguh, ingin sekali mereka membuat wajah Nando tidak dapat di kenali sama sekali.
Bahkan mereka juga ingin membuat seluruh tulang di badan Nando terlepas dari tempatnya. Sungguh sadis dan kejam.
Di bebaskan dengan mudah, membuat Nando menjadi semakin besar kepala. Dia mengira jika kekuasaan dan kekuatan Egi masih berada di bawah sang papa. Sehingga Egi takut dengan sang papa.
Bahkan, Nando berpikir akan membuat perhitungan dengan Egi. Menghancurkan semua milik Egi. Perusahaan dan juga Lily.
Tanpa Nando ketahui, sesuatu yang besar sedang menunggunya untuk esok hari.
"Segera laporkan kasus Nando pada pihak kepolisian." perintah Egi.
"Lily yang menyuruh. Mana mungkin aku menolaknya." jelas Egi, saat Beni masih memandangnya dengan rasa penasaran.
Egi tersenyum aneh. "Tapi tenang saja, kita akan memastikan Nando masuk ke dalam hotel mewah itu. Dan mendapatkan pelayanan yang terbaik." ucap Egi tersenyum licik. Saat melihat Beni menatap dengan rasa tidak puas.
Melepaskan Nando. Melaporkan pada polisi. Dan dapat di tebak hasil akhirnya. Nando pasti tidak akan di penjara. Melainkan di bawa ke rumah sakit untuk di rehabilitasi. Yang artinya Nando akan keluar dan kembali menghirup udara bebas.
Bebas melakukan apapun. Bebas menyalurkan kegilaannya pada para perempuan di luar. Dan membuat korbannya menjadi lebih banyak lagi.
__ADS_1
Tapi tidak untuk kali ini. Beni percaya, jika Tuannya tidak akan melepaskan dan membiarkan Nando begitu saja. Terlebih Nando menjadikan Lily sebagai salah satu objeknya.
"Sayangnya, keberuntungan kamh kali telah selesai. Kamu salah dalam memilih korban." Beni manggut-manggut. "Pasti Tuan. Saya sendiri yang akan memastikannya." ucap Beni.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tapi kamu baik-baik sajakan?" tanya Mauren cemas.
Lily mengangguk sambil tersenyum. "Gila, hampir celaka tapi malah senang." sungut Mauren kesal.
Lily memeluk gulingnya dengan erat. "Kamu tahu, kemarin Egi so sweet banget. Aku suka itu." ucap Lily tersenyum cerah.
"Dasar bucin akut." ucap Mauren, menimpuk kepala Lily menggunakan bantal di sampingnya.
"Eh,,, tapi Egi tidak marahkan?" tanya Mauren, teringat saat Egi meninggalkan pergi begitu melihat Lily dan juga Vincen di rumahnya.
"Awalnya iya. Tapi sekarang tidak." jawab Lily membuat Mauren bingung.
"Bicara yang jelas. Aku tidak suka main tebak-tebakan." kesal Mauren.
"Awalnya Egi marah. Eh,,, bukan marah. Tapi tepatnya cemburu." jelas Lily tersenyum, Mauren hanya memutar kedua bola matanya jengah. Mendengar Lily berkata jika Egi cemburu.
"Tapi semuanya hilang. Berganti dengan rasa khawatir. Kamu tahu, karena apa?"
"Nando." jawab Mauren singkat.
"Tepat." kata Lily sambil menjentikkan jari tangannya. "Tapi aku sudah menyuruh Egi melepaskan Nando." imbuh Lily dengan santai.
"Apa!!!?" teriak Mauren menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. "Dan Egi mau??!" tanya Mauren. Dengan segera Lily mengangguk.
Mauren langsung memukul tubuh Lily dengan bantal seperti orang kesetanan. "Mauren...!!! Hentikan...!!!" teriak Lily.
Hingga membuat Lila masuk ke dalam kamar sang kakak. Tapi tidak dengan Nyonya Tya, karena beliau mengikuti Tuan Ardes ke luar negeri untuk sebuah bisnis.
"Ada apa ini??!" tanya Lila berteriak. Melihat sang kakak di pukul oleh Mauren menggunakan bantal.
__ADS_1
Mauren menghentikan aksinya. Berjalan ke arah Lila dengan tatapan marah yang menggebu-gebu. "Kamu tahu?!" ucap Mauren dengan menahan amarah. Lila menggeleng, dengan rasa takut. Melihat Mauren seperti hewan buas.
"Dia." Mauren menunjuk kepada Lily yang sedang duduk di atas ranjang besar dan empuk. Dengan tangan merapikan rambutnya yang berantakan.
"Dia sangat bodoh!!" teriak Mauren, berkacak pinggang menatap Lily dengan sengit.
"Kamu tahu Nando??!" tanya Mauren, dengan nafas terengah, Lila hanya mengangguk cepat. Karena dirinya memang sudah pernah mendengar cerita dari sang mama.
"Egi sudah menangkapnya." jelas Mauren, Lila tersenyum lega. "Tapi dia menyuruh Egi melepaskannya." tutur Mauren menatap Lily dengan tatapan permusuhan.
"Apaaa!!!" teriak Lila menggeleng kesal. "Kakak,,,!!! Apa yang kakak lakukan?!" tanya Lila menahan dongkol di hatinya.
Lily memandang dua perempuan di depannya. Lalu menghembuskan nafas dengan kasar. "Biarlah polisi yang menangani semuanya. Bukankah ada hukum. Biar Nando di hukum sesuai hukum yang berlaku." ucap Lily dengan bijak.
Mauren dan Lila memukul kening mereka sendiri. "Kakak Lily yang cantik. Nando punya kelainan. Psikopat. Bukan penjara tempatnya. Tempatnya, adalah,,, rehabilitas. Kakak paham." ucap Lila.
"Dak kamu tahu artinya, Lily yang cantik. Sama saja kamu membuat Nando kembali bebas dengan masuk tempat tersebut." imbuh Mauren.
Lily menatap ke arah Mauren dan Lila dengan bergantian. "Tidak. Aku tahu, jika Nando akan di masukkan ke tempat rehabilitasi. Tapi, setelah sembuh, dia akan mendapat hukuman sesuai kejahatannya." sahut Lily.
"Yakin." kata Mauren tersenyum sinis dengan tangan bersedekap.
"Kakak, kakak lupa. Siapa orang tau dari Nando. Tuan Ebara." tegas Lila. "Dengan uang dan kekuasaan, dia bisa melakukan semuanya. Apa kakak lupa, apa yang pernah papa katakan." lanjut Lila.
"Sudahlah, tidak penting." Mauren kembali berjalan ke arah Lily dan duduk di samping Lily. Begitu juga dengan Lila.
"Apa kak Egi sudah melepaskan Nando?" tanya Lila. Lily mengangkat kedua bahunya. "Mungkin sudah." ucap Lily menebak.
Tubuh Lila seketika menjadi lemas. "Aku berharap, Egi melakukan yang seharusnya dia lakukan." gumam Mauren masih terdengar oleh indera pendengaran dari Lily.
"Tapi tenang saja. Bukankah kekuasaan kak Egi melebihi kekuasaan Tuan Ebara." ucap Lila.
"Jangan lupa, dia sangat licik." ucap Mauren mengingatkan.
Setelahnya, Lily mencari tahu tentang Nando. Dan ternyata benar. Jika Nando sudah pernah di laporkan kepada pihak berwajib. Namun berakhir di tempat rehabilitasi.
__ADS_1
Namun sayang, Nando di dalam dana kurang dari seminggu. "Apa aku salah mengambil keputusan." Lily merasa menyesal karena menyuruh Egi melepaskan Nando.
"Egi, aku harus bertemu dengan Egi. Dan menanyakannya." cemas Lily.