
"Begini....." Egi menceritakan semua yang dia peroleh dalam penyelidikannya. Termasuk beberapa kekayaan Tuan Joshua yang sudah beralih tangan kepada Revan.
Tapi Egi tidak mengatakan penyelidikannya mengenai keadaan kedua orang tua Amanda di negeri tetangga. Bahkan Egi juga tidak mengatakan jika mama Amanda saat ini tengah berbaring sakit.
Egi tidak ingin jika Amanda lepas kendali. Dan semua itu malah akan membahayakan Amanda. Sementara Egi, belum menemukan cara mengenai kedua orang tua Amanda.
"Ternyata, Revan sangat menakutkan." ucap Amanda, dengan mata mulai berair. Karena rasa takutnya.
Amanda menatap ke arah Egi dan Ditya bergantian.
"Apakah,,,,, Jika aku memberikan apa yang Revan minta, dia akan melepaskan keluargaku?" tanya Amanda.
Ditya tertawa sumbang mendengar perkataan Amanda. "Apa kamu pikir, dia akan melepaskan keluargamu, jika sudah menguasai seluruh harta papa mu." ucap Ditya.
"Jangan berharap banyak." desis Ditya, seolah dia tahu sepak terjang atau cara main dari Bob.
Amanda menatap ke arah Egi. "Apa aku sama sekali tidak bisa bernegosiasi dengan dia." ucap Amanda, terlihat serius.
"Negosiasi seperti apa?" tanya Egi.
"Pembagian harta. Mungkin." ucap Amanda, dengan polosnya.
Membuat Ditya tertawa terbahak-bahak. Sampai memegang perutnya. Saat Egi hendak mengambil bantal kursi di sampingnya, Amanda telah melakukannya.
"Heyy,,, hey,, hey...!!" seru Ditya dengan tangan menghalau serangan dari Amanda.
Yaps,, Amanda yang merasa kesal. Mengambil bantal kursi di sampingnya, lantas berdiri dan memukul keras pada Ditya.
Hap,,, Ditya dapat menangkap bantal tersebut. Dengan kuat Amanda menarik bantalnya. Terjadilah saling tarik antara Amanda dan Ditya.
Dan......
"Aaaaawww...." teriak Amanda, saat Ditya melepaskan bantal tersebut. Lagi-lagi Ditya tertawa lepas karena menjahili Amanda.
"Ckk,,,," Egi mendaratkan telapak tangannya dengan keras di kepala Ditya. Hingga Ditya berhenti tertawa dan mengaduh. Serta mengelus kepalanya yang sakit karena pukulan dari Egi.
Sementara Amanda, dia masih dengan posisi duduk di bawah, dengan menatap kesal pada Ditya. "Bantu dia berdiri." bentak Egi, menatap tajam ke arah Ditya.
Ditya hanya tersenyum, dan membantu Amanda. Saat Ditya hendak berdiri. Amanda sudah mengeluarkan kalimat penolakan. "Stop." ucap Amanda dengan mengangkat tangannya, mengarah pada Ditya.
"Aku tidak perlu bantuanmu. Tuan." sarkas Amanda.
"Kamu dengarkan." ucap Ditya acuh, memandang ke arah Egi. Dan kembali duduk dengan nyaman.
Amanda memandang ke arah Egi dengan mata sudah berair dan juga bibir cemberut. Egi segera berdiri dan menolong Amanda, saat Amanda kesulitan berdiri. Karena high hell yang di pakainya.
"Minum dulu." Egi memberikan minuman kaleng pada Amanda. Dengan wajah masih kesal, Amanda meminum hingga tandas.
"Mereka bukan orang yang mudah untuk diajak bernegosiasi." ucap Egi.
Amanda meletakkan kaleng yang sudah kosong di atas meja. "Bagiamana mereka bisa menargetkan kami?" tanya Amanda lirih.
Mendengar pertanyaan Amanda, Egi dan Ditya saling pandang. Benar kata Amanda. Bob tidak mungkin menargetkan keluarga Amanda, jika mereka tidak saling kenal. Atau, Tuan Joshua pernah berhubungan dengan Bob.
Tiba-tiba Amanda memeluk Egi dari samping. Membuat Egi, terdiam. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Amanda, mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Egi.
Egi malah menatap ke arah Ditya, seolah mencari jawaban padanya. Sembari melepaskan dengan pelan pelukan Amanda. "Maaf." cicit Amanda.
"Asal ada bayaran yang sepadan. Aku sih oke." ucap Ditya. Mengetahui arti tatapan dari Egi. Seakan mau membantu Amanda, jika dia memperoleh sesuatu.
"Bagiamana?" tanya Egi, menatap ke arah Amanda.
"Dia..." tunjuk Amanda pada Ditya.
"Iya." jawab Egi. Sementara Ditya menatapnya dengan senyum misterius.
"Di tatap saja aku takut. Apalagi berdekatan." batin Amanda.
"Kenapa bukan kamu?" tanya Amanda, berharap Egi yang akan menolongnya.
"Bukannya aku tidak mau. Tapi, beberapa minggu ke depan. Proyek kerja sama kita akan berjalan. Dan pastinya aku akan sibuk dengan hal itu." ucap Egi.
__ADS_1
"Bukankah Revan tidak setuju, jika proyek tersebut di tangani oleh Beni. Asistenku." imbuh Egi.
"Tenang saja. Aku akan tetap membantu. Dan juga memantau. Bagaimana?" tanya Egi, memastikan.
Amanda memegang lengan Egi. "Bisa bicara berdua." pinta Amanda.
Egi menatap ke arah Ditya. "Ckk,,, oke. Sepuluh menit." ucap Ditya, berdiri dari duduknya dan meninggalkan ruangan Egi. Untuk sementara.
"Jujur. Aku takut pada Ditya." ucap Amanda tidak berbohong.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Egi.
"Dia menatapku seperti singa lapar." cicit Amanda.
Egi terkekeh pelan. "Tenang saja, dia tidak akan menyentuhmu. Aku jamin itu." ucap Egi menyakinkan.
"Dia memang casanova. Tapi dia tidak akan melakukan kejahatan, jika orang tersebut tidak jahat padanya." ujar Egi.
"Dan jika perempuan tersebut tidak menginginkannya." imbuh Egi.
"Kamu yakin?" tanya Amanda. Dan Egi mengangguk pelan.
"Lagi pula, jika aku yang melakukannya, itu akan lebih berbahaya untuk kamu. Apalagi Revan punya orang di belakangnya."
"Mungkin aku bisa melindungi diriku sendiri. Tapi bagaimana dengan kamu. Kita butuh sekutu yang sama kuat. Untuk mengalahkan mereka." jelas Egi.
"Baiklah. Aku menurut saja." ucap Amanda patuh.
"Aku tetap akan membantumu. Dengan diam, aku akan menyerang dari dalam. Dan Ditya, bisa bertindak frontal di luar." ucap Egi.
Amanda mengangguk. "Terimakasih." ucap Amanda.
Pintu terbuka dari luar. "Lebih dari sepuluh menit." ucap Ditya masuk dan langsung duduk di kursi.
"Sekarang kita akan membahas pekerjaan." ucap Egi.
"Dan kamu, lebih baik diam. Jangan sampai membuka suara." imbuh Egi. Padahal Ditya naru saj duduk.
Egi memutar rekaman sebelumnya. "Kamu tahu, harus mulai dari mana?" tanya Egi, memastikan.
"Iya." jawab Amanda mengerti. Amanda menarik nafas panjang. Dan duduk dengan tenang.
Dan.... klik. Egi menyalakan kembali rekamannya.
"Selamat siang Tuan Egi."
"Siang, Nona Amanda. Silahkan duduk."
"Emm,, maaf. Mengganggu waktu anda."
"Baiklah. Ada perlu apa? Bukankah kita tidak ada janji temu sebelum ini."
"Benar. Tapi ini ada beberapa dokumen, yang memerlukan tanda tangan anda."
"Oh iya, anda sendirian? Di mana Tuan Revan?"
"Revan sedang menangani pekerjaan lain. Jadi, untuk menghemat waktu. Saya datang ke sini. Sendirian."
"Biar saya baca dulu." ucap Egi. Tangannya terulur mengambil berkas di atas meja. Segera Amanda membantunya.
"Maaf." ucap Amanda tanpa mengeluarkan suara. Karena membiarkan map berisi berkas masih rapi di atas meja. Tanpa menyodorkan pada Egi.
"Bagaimana?" tanya Amanda.
Egi tersenyum sinis. "Ternyata ini, kenapa dia mengirim Amanda seorang diri." batin Egi. Saat dia menemukan ada salah satu poin yang janggal di salah satu berkas tersebut.
Egi mengambil berkas tersebut. Dan memberikan pada Amanda, dengan jari telunjuk mengarah pada poin yang janggal.
"Eeemmm,,, maaf Nona Amanda. Bagaimana kalau berkas ini saya simpan dulu. Karena sekarang, saya sedang ada sesuatu yang penting. Sehingga saya tidak bisa membaca semua berkas ini." ujar Egi.
Amanda masih diam. Dengan pandangan mata mengarah ke berkas yang di berikan Egi, dengan ekspresi kesal. Segera Egi menepuk pelan pundak Amanda.
__ADS_1
"Maaf, maksud Tuan bagaimana?" tanya Amanda, yang memang tidak mendengarkan perkataan Egi.
"Saya sedang ada sesuatu yang penting. Sehingga saya tidak bisa membaca semua berkas ini. Jadi saya belum bisa memberikan tanda tangan." ujar Egi.
Amanda teringat pesan dari Revan. Jika dirinya tidak bisa memperoleh tanda tangan Egi, Amanda harus membawa kembali berkas tersebut.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan kembali, jika Tuan Egi sudah tidak sibuk." ucap Amanda.
"Kalau begitu, saya permisi dulu." ucap Amanda.
"Oke. Baiklah kalau begitu." ucap Egi.
Dan,,,, klik. Egi kembali mematikan rekaman tersebut. "Apa Revan mengatakan sesuatu, sebelum kamu datang ke sini?" tanya Egi.
"Iya." ucap Amanda. "Dia bilang untuk membawa kembali berkas tersebut. Jika kamu belum menandatanganinya." imbuh Amanda.
Amanda dan Egi benar-benar tidak menyangka, jika Revan akan berbuat hal seperti ini. Licik. Tapi sayangnya, kali ini dia salah sasaran.
"Sebaiknya kamu segera kembali. Sebelum Revan curiga." ucap Egi.
"Kamu sendiri, atau di antar?" tanya Egi.
"Di antar sopir." jelas Amanda.
"Lebih baik kamu mampir sebentar ke kantin perusahaan. Membeli sesuatu." saran Egi.
"Saya tadi juga berpikir seperti itu." ujar Amanda. Segera Egi menyalakan rekamannya kembali dan menarik di map milik Amanda.
Amanda meninggalkan ruangan Egi tanpa berkata apapun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lily berangkat ke kampus bersama Mauren. Dan di antar oleh Vincen. Dengan Mauren duduk di depan bersama Vincen. Sementara Lily duduk di belakang seorang diri.
Sejak mobil meninggalkan pekarangan kediaman Mauren, tak ada obrolan di dalam mobil. Tampak hening dan sepi.
Mauren sibuk mengerjakan tugasnya yang belum selesai. Dan pastinya, dia menyontek jawaban dari milik Lily. Karena memang keduanya satu jurusan.
Sementara Lily, hanya diam. Dengan memandang ke luar mobil. Seolah pemandangan di luar lebih menarik untuknya.
Sesekali Vincen mencuri pandang pada Lily lewat kaca mobil. "Bagaimana kalau akhir pekan kita jalan-jalan." celetuk Mauren dengan tiba-tiba.
"Boleh. Kebetulan aku lagi tidak ada janji, maupun kegiatan." jawab Vincen.
"Lily." panggil Mauren, membalikkan badan ke belakang.
"Belum tahu. Nanti aku kabari." ucap Lily.
"Ya,,, nggak adik dong. Bisa ya.. please." pinta Mauren, menyatukan kedua telapak tangannya.
"Belum tahu Mauren. Tahu sendiri, bagaimana papa. Tiba-tiba ada acara keluarga. Atau acara apa." jelas Lily.
Karena memandang Lily dan Mauren pernah beberapa kali batal pergi karena Tuan Ardes mengatakan pada Lily, jika ada acara secara tiba-tiba.
Padahal Lily ingin pergi bersama Nyonya Tiwi. Tapi Lily belum membuat janji dengan beliau. Dan Lily bermaksud mendatangi apartemen Egi nanti. Sepulang kuliah.
"Kenapa kamu?" tanya Mauren, melihat Lily tersenyum sendiri.
"Apa?" tanya Lily. Mauren mengibaskan tangannya. Dan menggelengkan kepala. "Apa sih." sungut Lily.
Segera Lily memberitahu pada Egi, jika dirinya ingin pergi ke apartemen nanti. Setelah jam kuliah sore selesai.
Ting,,, Segera Lily membuka pesan balasan dari Egi. "Yesss....!!!" seru Lily dengan senang.
Membuat Mauren segera membalikkan badan lagi. Dan Vincen, bahkan sampai kaget. Beruntung, Vincen mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
"Lily!!" teriak Mauren, menatap kesal ke arah Lily.
"Iya, maaf." ucap Lily cengegesan.
Bagaimana Lily tidak merasa sangat senang. Saat Egi meminta alamat tempat Lily kuliah. Dan juga, Egi meminta Lily memberitahunya jika sudah selesai pelajaran.
__ADS_1
"Berarti, Egi mau jemput aku." tebak Lily dengan wajah bersemu, merasa sangat senang.