
"Kenapa tidak di makan?" tanya Egi, melihat Lily malah memandang ke arahnya. Dan membiarkan makanan di piringnya masih utuh.
Saat ini, kedua pasangan kekasih tersebut sedang berada di restoran. Sedang melakukan makan malam. "Kenapa tidak bilang jika makan di tempat seperti ini?" keluh Lily dengan bibir cemberut.
"Memang kenapa?" bukannya menjawab, Egi malah balik bertanya.
Lily memasang wajah kesal. Bagaimana tidak kesal Lily merasa tidak nyaman makan di tempat seperti ini. Terlebih Egi yang memakai pakaian rapi. Kemeja dengan celana panjang.
Sementara dirinya memakai kaos lengan pendek dengan celana jeans panjang. "Lihat pakaianku." ucap Lily lirih.
Kening Egi mengerut. "Memang kenapa dengan pakaian kamu. Yang terpenting rapi dan sopan." ucap Egi mencoba membuat Lily percaya diri.
Tapi tetap saja Lily merasa minder. "Tahu begitu aku tadi pakai kemeja juga. Seperti kamu." cicit Lily.
Egi tersenyum samar. Egi mengira jika Lily akan mengatakan memakai gaun. Ternyata Lily malah berkata akan memakai kemeja. "Kamu memang beda." ucap Egi dalam hati.
"Baiklah, jika begitu aku akan meminta pemilik restoran mengosongkan tempat ini." ujar Egi.
"Eehhh,,,, jangan." seru Lily, saat Egi hendak memanggil pelayan restoran.
Lily membulatkan kedua matanya. "Jangan. Tidak perlu." sanggah Lily. Menurut Lily itu terlalu berlebihan.
"Katanya kamu tidak nyaman." ucap Egi.
Lily tersenyum. Dirinya tahu jika sebenarnya Egi melakukannya untuk dirinya. "Aku tidak apa-apa. Lebih baik sekarang kita nikmati makanan ini." ajak Lily.
Egi menuruti keinginan Lily. Keduanya tampak menikmati makan malam dengan tenang dan nyaman. Sesekali Lily memandang ke arah Egi.
"Kamu memang tampan. Pantas saja banyak perempuan yang menyukai kamu." Lily sadar, jika sedari awal mereka masuk ke dalam restoran. Keduanya menjadi pusat perhatian.
Terlebih bagi kamu hawa. Dan Lily sangat paham betul. Kemana arah pandangan mereka tertuju. Egi. "Apa kamu akan kenyang, hanya dengan memandang wajahku terus?" tanya Egi tanpa melihat ke arah Lily.
Lily langsung menundukkan wajahnya dan makan dengan lahap. Egi melirik dan tersenyum samar melihat tingkah dari Lily.
Egi mengisi kembali piring Lily yang tinggal sedikit. Membuat Lily memandang ke arah Egi. "Makan yang banyak." Egi sedikit menggeser kursinya untuk duduk lebih dekat dengan Lily.
"Nanti aku gemuk." keluh Lily.
"Tidak masalah. Aku tetap suka." Egi menyuapkan sesendok makanan ke mulut Lily.
"Tidak perlu." tolak Lily. Dirinya merasa malu, pasti akan banyak mata yang memandang ke arah mereka.
__ADS_1
"Ayo, buka mulutmu." paksa Egi. Lily hanya bisa menurut dan patuh pada permintaan Egi. "Sudah, perutku sakit." keluh Lily beralasan.
Jujur, Lily belum pernah di perlakukan seperti ini. Membuat Lily merasa kurang nyaman. Apalagi sekarang mereka berada di tempat umum. Tapi sejujurnya Lily merasa sangat bahagia dengan apa yang di lakukan oleh Egi.
"Setelah ini kita kemana?" tanya Egi.
"Jalan-jalan." ajak Lily antusias.
Malam ini, Egi akan menuruti semua kemauan Lily. Dan setelah makan malam, keduanya terlihat berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan.
"Kenapa?" tanya Lily, saat Egi berhenti di depan toko pakaian perempuan.
Egi menggandeng tangan Lily, membawanya masuk ke dalam toko tersebut. "Eehhh,,, mau ngapain?" tanya Lily.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan dengan ramah, menyambut kedatangan Egi dan Lily.
"Ambilkan itu." Egi menunjuk ke arah sebuah dress lengan panjang dengan panjang bagian bawah tepat di bawah lutut yang di pasang di patung.
Dengan sigap, karyawan mengambilkan dress yang di maksud oleh Egi. "Kamu coba." pinta Egi menatap ke arah Lily.
Lily hanya diam dan mengerjap bingung menatap ke Egi. "Ayo." Egi mendorong tubuh Lily ke dalam ruang ganti.
Egi duduk dengan santai di kursi tunggu. Beberapa karyawan perempuan mencuri pandang ke arah Egi yang sedang memainkan ponselnya.
Dan Lily, di dalam ruang ganti masih menatap dengan tatapan tidak percaya. Matanya memandang ke arah dress yang di pilihkan Egi untuk dia coba.
"Apa iya. Aku harus memakai pakaian seperti ini." gumam Lily, yang sama sekali tidak pernah memakai dress ataupun gaun.
Lily menarik nafasnya dalam-dalam. "Sepertinya aku tidak bisa." keluhnya tidak percaya diri.
Hanya sebuah dress sederhana. Mampu membuat seorang Lily dilema. "Mama, Lily harus bagaimana?" ucap Lily merasa bingung.
Astaga Lily. Tinggal pakai saja. Kenapa mesti ribet. Lagi pula dress yang dipilihkan Egi sangat sopan. Hanya memperlihatkan betis saja.
Lily keluar dari ruang ganti tanpa mencoba dress yang di pilihkan oleh Egi. Pandangan Egi yang awalnya berfokus pada ponsel, kini beralih pada sosok Lily yang berdiri di hadapannya.
Masih menggunakan pakaian yang sama. Seperti pakaian yang dipakainya masuk ke dalam ruang ganti. Dengan dress berada di tangan Lily. Kini, giliran Egi yang menatap dengan penuh kebingungan.
"Maaf, aku tidak nyaman memakai pakaian seperti ini." ucap Lily lirih, dirinya takut jika Egi marah. Dan kecewa padanya.
Egi memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. "Ya sudah, tidak apa-apa." ujar Egi tersenyum.
__ADS_1
"Mbak." panggil Egi pada karyawan di toko tersebut. Egi mengambil dress di tangan Lily. "Saya beli ini." ucap Egi menyerahkan dress tersebut pada karyawan toko. Sekaligus memberikan kartu kredit sebagai tanda pembayarannya.
Lily terdiam. Dalam benaknya sedang berpikir. Kenapa Egi tetap membeli dress tersebut. Padahal dirinya sudah mengatakan jika tidak nyaman memakainya.
"Tidak apa-apa. Kalau kamu tidak mau memakainya. Biar di pakai orang lain." ucap Egi tersenyum. Egi merasa tidak enak pada karyawan toko, jika dia masuk tapi tidak membeli. Dasar Egi.
"Ini Tuan." ucap karyawan toko, memberikan paper bag berisi dress dan kartu kredit milik Egi.
Egi dan Lily kembali berjalan-jalan. Lily tampak merasa tidak enak pada Egi. Padahal ini pertama kalinya mereka berjalan berdua.
Dan ini pertama kalinya Egi meminta dan ingin membelikan serta ingin melihat Lily memakai dress. "Apa aku keterlaluan ya." ucap Lily dalam hati.
Lily ingin meminta kembali dress yang sekarang berada di tangan Egi. Namun Lily bingung harus mengucapkan perkataan apa pada Egi. Karena tadi Lily sudah menolaknya.
"Lily...!!" panggil seseorang dengan setengah berteriak.
Egi dan Lily menghentikan langkahnya. Menoleh ke sumber suara. "Mereka." gumam Lily, melihat teman-temannya satu kelas termasuk Mauren.
"Kalian." sapa Lily, setelah mereka mendekat ke tempatnya dan Egi berdiri. Semua teman Lily memandang ke arah Egi. "Dia Egi, kekasih Lily." celetuk Mauren menjelaskan.
Mauren merasa risih, saat semuanya menatap ke arah kekasih sahabatnya tersebut dengan tatapan memuja dan mendamba.
"Ooo,,,, Kalian sedang berbelanja." ucap salah satu dari mereka berbasa-basi.
"Beruntung banget Lily." bisik temannya pada Mauren. Dan Mauren tahu arti perkataan tersebut.
Egi menatap ke arah paper bag yang dia bawa. "Ini, jika ada yang mau." Egi mengangkat paper bag tersebut. Membuat semuanya memandang Lily.
"Lily kurang menyukai dress ini." jelas Egi.
"Terimakasih." ucap salah satu dari mereka. Langsung menyerobot paper bag tersebut.
"Aaaaa..." serunya dengan mata berbinar, melihat apa isi paper bag tersebut.
"Apasih..." kesalnya saat temannya yang lain ingin melihatnya. "Ini mahal banget. Pantas bagus." imbuhnya.
Mauren memandang Lily dengan tatapan tajam. "Lily." geramnya dengan nada rendah tertahan.
"Lily, serius. Kamu nggak suka." tanya temannya yanga membawa dress tersebut.
"Lily mana mungkin suka dengan pakaian seperti ini. Diakan suka kaos sama kemeja saja." celetuk yang lain. Semuanya lantas memandang ke arah Egi.
__ADS_1
Dan Lily tahu betul apa arti tatapan mereka pada Egi dan juga pada dirinya.