PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 42


__ADS_3

Pagi hari, rumah sakit di mana sebelumnya Tuan Joshua beserta sang istri di rawat tampak gaduh dan panik. Dokter yang merawat keduanya, mendapati jika kedua pasien yang selama beberapa bulan terakhir di tanganinya hilang.


Sang dokter mendapati seorang lelaki dan seorang perempuan yang tidak di kenalnya tengah tertidur lelap di atas ranjang pasien, yang seharusnya digunakan oleh Tuan Joshua beserta sang istri.


"Bagiamana ini bisa terjadi?" ucapnya dengan nada bergetar ketakutan.


Tentu saja dirinya ketakutan. Karena Bob menyerahkan keduanya dalam pantauan dirinya. Terlebih dirinya sangat tahu, bagaimana sifat dan sikap dari seorang Bob. Bengis dan kejam. Tanpa ampun.


"Tunggu. Jika mereka hilang, bukankah itu bukan menjadi tanggung jawabku. Karena Bob hanya menyuruhku untuk membuat kesehatan mereka menurun. Tapi jangan sampai membunuhnya. Iya benar." pikir sang dokter, menyelamatkan dirinya sendiri.


"Semoga Bob tidak menyalahkanku." ucapnya dalam hati, sebab dirinya sudah menerima uang dalam jumlah besar dari Bob.


Segera sang dokter mengatakan pada anak buah Bob yang berjaga di depan ruangan. "Pasien di dalam.... emm Tuan dan Nyonya Joshua tidak ada. Keduanya tidak ada di dalam ruangan." ucapnya memberitahu anak buah Bob yang berjaga di depan ruangan.


Mereka masuk ke dalam. "Mereka orang asing. Dan kelihatannya mereka telah diberikan obat bius oleh seseorang." jelas sang dokter, saat anak buah Bob melihat ada dua orang tengah berbaring di ranjang berbeda.


Segera mereka mendekat. "Bagaimana ini bisa terjadi." ucap salah satu dari mereka. Dirinya merasa bahwa dia dan rekan-rekannya sudah berjaga dengan sangat baik.


Bahkan menurut mereka, seekor lalatpun tak dapat masuk dengan mudah. Tapi ternyata semuanya salah.


Lantas bagaimana bisa mereka kecolongan. "Periksa CCTV." segera mereka memeriksa CCTV yang berada di dalam ruangan serta beberapa CCTV yang memperlihatkan pintu dan jalan menuju rungan tersebut.


"Siapa mereka?" tanya sang dokter, saat melihat ada empat orang dengan menggunakan pakaian petugas kesehatan masuk ke dalam, membawa dua orang yang sudah berada di atas ranjang pasien. Saat malam hari.


Pandangan mereka tertuju pada keempat orang tersebut. Yang masuk dengan santai, tanpa membuat bawahan Bob yang berjaga di depan ruangan tidak menaruh rasa curiga sedikitpun.


Beberapa menit kemudian, mereka keluar ruangan dengan kembali membawa dua ranjang pasien. Dan bisa dipastikan siapa yang mereka bawa keluar. Yakni Tuan Joshua dan sang istri.


Seperti saat masuk, mereka juga keluar dengan santai. Seolah mereka tidak perlu dan tidak mempunyai rasa khawatir jika seandainya mereka ketahuan.


"Pindahkan CCTV ke area depan." perintah bawahan Bob, pada petugas yang berjaga di CCTV. Menyuruhnya memperlihatkan CCTV depan rumah sakit beserta area parkir.


Lagi, mereka memindahkan tubuh Tuan Joshua beserta sang istri dengan santai dan tenang. Memasukkan keduanya ke dalam mobil ambulance milik rumah sakit.


Mereka juga mengembalikan ranjang pasien ke tempat semula dengan tenang. Bahkan, mereka meninggalkan rumah sakit dengan tenang.


"Siapa mereka?" gumamnya, karena keempat orang tersebut memakai masker, sehingga akan sulit mengenali ke empatnya.


"Bagaimana dengan ambulancenya. Dimana keberadaannya?" tanyanya, berharap dapat menyelidiki lewat mobil ambulance tersebut.


"Mobil ambulance tersebut sudah kembali ke parkiran rumah sakit sejak semalam." ucap pihak keamanan di rumah sakit tersebut.


"Siapa mereka. Kenapa merek bisa bekerja dengan sangat baik dan tenang?" tanyanya dalan hati. Melihat setiap gerakan dari ke empat orang tersebut.


"Terlebih bisa mendapatkan akses kunci mobil ambulance." gumamnya, menatap layar CCTV.


"Kemarin, memang ada satu kunci ambulance yang hilang. Tapi hanya sebentar. Jadi kami tidak memberitahukan pada pihak rumah sakit. Terlebih setelahnya, kunci tersebut sudah ada di tempatnya semula." jelas pegawai rumah sakit.


"Maaf Boss, apakah kita perlu memberitahu Tuan Bob?" tanya bawahan Bob pada seseorang yang di panggil Boss. Karena dia adalah salah satu orang kepercayaan Bob.


"Tentu. Tapi kita juga harus mencari mereka berdua." ucapnya.


"Apapun resikonya." imbuhnya lirih. Karena sudah bisa dipastikan jika majikannya pasti akan marah. Dan mereka juga sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Karena nyawa mereka menjadi taruhannya.


"Apaaaa!!!??" teriak Bob saat bawahannya menghubungi lewat sambungan ponselnya. Memberitahu jika Tuan Joshua beserta sang istri hilang.


Tapi dia tidak menceritakan secara detail kronologisnya. Karena Bob segera memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. "Cari keberadaan mereka. Segera?!!" teriak murka dari Bob pada bawahannya.


Bagaimana tidak murka dan marah. Dengan begitu banyak orang yang sudah dia tempatkan di rumah sakit tersebut. Dua orang yang tengah berbaring di atas ranjang pasien bisa hilang dengan mudah.

__ADS_1


Segera Bob pergi ke negara tetangga menggunakan jet pribadi miliknya. Dan tentunya dia memperoleh jet pribadi dari uang yang di hasilkan dari menyakiti dan membuat rugi orang lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keduanya keluar dari dalam kamar. Menuju dapur. "Apa dia belum bangun?" tanya Amanda karena belum melihat keberadaan Egi, sementara Lily membuka kulkas.


"Mungkin belum. Biarkan saja." jawab Lily.


"Ada apa?" tanya Amanda.


Lily tersenyum cengengesan. "Aku tidak bisa masak. Bagaimana kalau kita pesan saja." saran Lily.


"Tidak perlu." ujar Amanda, melihat ada beberapa bahan makanan di dalam kulkas. "Biar aku yang memasak." lanjut Amanda.


Lily memandang Amanda yang dengan terampil memainkan segala alat dapur. Sementara Lily hanya membantu setiap kali Amanda menyuruhnya untuk memotong, membersihkan, atau mengambilkan bahan makanan yang diperlukan Amanda.


"Selesai." ucap Amanda. Keduanya lantas membawa makanan tersebut ke meja makan..Menyiapkannya, sambil menunggu pemilik apartemen bangun.


"Sumpah, kamu keren banget. Bagaimana bisa." ucap Lily takjub. Memandang makanan di atas meja. Semuanya Amanda yang memasak.


"Biasa saja Lily. Sebenarnya dari dulu aku senang memasak. Ya,,, cita-cita jadi koki. Tapi apa daya, keadaan papa mengharuskan aku untuk meneruskan dan memegang kendali perusahaan." ucap Amanda, dengan tangan sibuk di atas meja makan.


Lily memandang sekilas ke arah Amanda. "Memang kamu anak tunggal?" tanya Lily. Yang memang sebenarnya belum mengetahui keadaannya.


Amanda menghentikan kegiatannya dan memandang ke arah. Amanda menebak jika Egi tidak pernah menceritakan apapun pada Lily tentang dirinya.


Amanda mengangguk dan tersenyum. "Dan sekarang papa sedang berada di negara sebelah." jelas Amanda.


"Emmm,,, papa kamu sedang ada perjalanan bisnis ke sana?" tanya Lily dengan polos.


"Tidak." jawab Amanda. "Papa sedang sakit. Papa melakukan perawatan di sana." lanjut Amanda tersenyum.


"Maaf." ucap Lily merasa tidak enak.


Lily melihat, meski Amanda tersenyum. Ada raut sedih dalam ekspresi wajahnya. Dan itu sangat wajar.


"Kalian sedang apa?" suara serak dari seorang lelaki membuat kedua perempuan tersebut spontan menoleh ke arah suara tersebut berasal.


Degggg,,,,, serrr.... siapa yang tidak terpesona melihat penampilan Egi yang baru bangun tidur.


Egi tampak menggoda dengan boxer yang dia pakai dengan kaos polos tipis pas di badannya. Rambut acak-acakan.


Tanpa menghiraukan kedua perempuan yang masih menatapnya, Egi mengambil air minum begitu saja. Meneguknya hingga tandas.


Amanda dan Lily bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun melihat Egi berjalan kesana kemari di sekitar mereka.


Suara keduanya seakan tercekat di tenggorokan. Keduanya seperti berada dalam suasana, dimana mereka sama sekali tak mengharapkannya.


Amanda dan Lily hanya memandang kemana saja tubuh Egi bergerak. Seakan ada magnet yang berada dalam tubuh Egi yang membuat kedua mata Amanda dan Lily mengikuti setiap geraknya.


"Aku akan kembali. Tunggu sebentar." Egi kembali lagi ke dalam kamar. Dengan santai dan seakan tidak peduli. Memang, seperti itulah sifat dari putri Nyonya Tiwi tersebut.


"Kheemmm..." Lily berdehem untuk mengalihkan suasana yang sedang dirasakannya. Sebab Amanda juga tampak masih memandang ke arah, ke mana Egi menghilang.


Amanda segera tersadar. Segera mengalihkan suasana seperti yang dilakukan oleh Lily. "Sebaiknya kita segera menyelesaikan. Sebelum Tuan rumah datang kembali." sahut Amanda.


"Iya, segera." Amanda dan Lily mengambil beberapa makanan yang masih berada di dapur untuk di sajikan di meja makan.


Tak lupa keduanya segera membawa piring beserta teman-temannya untuk alat mereka sarapan.

__ADS_1


Tepat setelah Amanda dan Lily selesai menyiapkan, Egi juga keluar. Egi tidak mengganti kaos yang dia kenakan. Hanya mengganti celananya saja.


Dan wajahnya tampak lebih segar. Tidak seperti tadi. Mungkin Egi hanya membasuh wajahnya saja, tanpa mandi.


"Kamu tidak bekerja?" tanya Lily, melihat pakaian yang dikenakan oleh Egi.


"Mungkin nanti. Sudah ada Beni yang mengurus semuanya." Egi duduk di kursi meja makan.


"Kenapa tidak memesan makanan saja?" tanya Egi, karena dia tahu jika makanan yang di sajikan adalah makanan rumahan. Dan tampak masih hangat.


"Maaf, jika kami lancang. Kami melihat ada beberapa bahan makanan di dalam kulkas. Dari pada memesan kita masak dengan bahan yang sudah ada." jelas Amanda dengan hati-hati, takut Egi akan marah. Karena dirinya dan Lily memasak tanpa meminta izin dari pemilik apartemen.


"Lagi pula, pasti nanti kamu buang juga. Tante Tiwi kan sudah tidak tinggal di sini." lanjut Lily dengan santai.


Amanda memandang sebentar ke arah Lily yang duduk di depannya. Merasa jika antara Egi dan Lily memiliki hubungan. Semua begitu terlihat saat dengan santai Lily berbicara pada Egi.


Egi hanya memandangi semua makanan di depannya. "Kalian yang memasak?" tanya Egi.


"Iya."


"Tidak."


Amanda dan Lily menjawab bersama. "Amanda yang memasak semuanya. Aku hanya membantu. Kamu kan tahu sendiri, aku mana bisa memasak." ucap Lily tersenyum getir.


Amanda melihat perubahan ekspresi pada Lily. "Sama saja. Kalau kamu tidak membantu, mana bisa semuanya selesai secepat ini. Mungkin sekarang aku masih berkutat di dapur." ucap Amanda, membuat Lily tersenyum senang mendengar perkataan Amanda.


Egi mengambil beberapa makanan. "Sebaiknya kita segera makan. Ada yang akan aku katakan pada Amanda." ucap Egi, memulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Memangnya ada apa?" tanya Amanda, tapi Egi tetap menunduk dan menikmati makanannya.


"Egi." panggil Amanda pelan.


Lily segera mengalihkan perhatian Amanda, dirinya sangat tahu jika Egi tidak suka di ganggu saat makan. "Amanda, sebaiknya kita segera menyelesaikan sarapan. Setelahnya, akan kita bicarakan nanti." jelas Lily.


Amanda hanya mengangguk patuh pada permintaan Lily. Saat sarapan berlangsung, tidak ada suara apapun. Hanya ada denting sendok, garpu, dan piring yang tanpa sengaja bertabrakan.


Sesekali ujung ekor mata Amanda bergantian melirik ke arah Egi dan juga Lily.


"Apa Revan sudah menghubungi kamu?" tanya Egi, setelah mereka bertiga selesai melakukan sarapan. Dan kini ketiganya tengah duduk di ruang tamu.


"Tidak tahu. Aku saja tidak tahu dimana tasku berada." jawab Amanda.


Amanda mengingat jika dirinya keluar dari toilet karena dipaksa keluar oleh Aldric. "Apa mungkin tertinggal di restoran." ucap Amanda ragu, memandang Egi dan Lily bergantian.


Egi mengeluarkan ponselnya. "Cari tahu dan temukan di mana tas Nona Amanda berada." perintah Egi pada seseorang di seberang ponselnya.


"Terimakasih, kalian datang tepat waktu." ucap Amanda tertunduk. "Seandainya...." lanjut Amanda terhenti.


"Sudahlah, tidak per-" ucap Lily terhenti karena perkataan Egi.


"Ada yang lebih penting. Dari kata seandainya." serobot Egi.


Egi meletakkan beberapa kertas di depan Amanda. "Apa ini?" tanya Amanda.


"Ambil dan baca." ucap Egi tegas.


"Ini,,,," tubuh Amanda bergetar. Bahkan air matanya tiba-tiba jatuh meluncur ke pipi mulusnya.


"Papa,,, mama,,,," isak Amanda. Segera Lily mendekat. Membawa Amanda dalam pelukannya. Mencoba meringankan beban hati Amanda. Meski Lily tidak tahu apa yang terjadi.

__ADS_1


Egi diam. Memandang Amanda dan Lily yang berpelukan. Egi memutuskan untuk memberitahu pada Amanda. Mengenai keadaan kedua orang tuanya.


Egi berharap jika dengan mengetahui keadaan kedua orang tuanya, bisa menjadi motivasi untuk Amanda dalam melawan Revan.


__ADS_2