PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 33


__ADS_3

"Setelah makan, aku akan mengantar kalian pulang." ucap Egi, mengusap bibirnya dengan tisu dengan gaya elegan.


Sesuai janji, Egi mengantarkan Lily dan Lila sampai rumah. Bahkan, Egi menjalankan mobil, setelah Lily serta adiknya masuk ke dalam rumah.


"Kak, setelah mandi, ada yang Lila pengen tanya." ucap Lila, begitu pintu rumah tertutup.


"Sama. Kakak juga. Kamu mandi dulu. Kakak tunggu di kamar kakak." perintah Lily.


Sedangkan Egi, melajukan mobilnya untuk kembali ke apartemen. Mempersiapkan diri untuk semua pertanyaan yang akan terlontar dari bibir sang mama.


Lantaran dirinyalah yang memberitahu, jika Lily tidak bisa datang ke apartemen. Bukan yang bersangkutan sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Vincen menghempaskan pantatnya di kursi empuk di rumah Mauren. "Jadi dia Egi?" tanya Vincen dengan nada rendah dan lirih. Tapi masih terdengar jelas di telinga Mauren.


Tersirat rasa tidak suka dalam nada bicara Vincen saat menyebutkan nama Egi.


"Benar." ucap Mauren. Dengan tangan mengambil air dingin yang baru saja diturunkan dari nampan oleh pembantu rumahnya.


"Kenapa?" tanya Mauren, mencoba memancing Vincen.


"Tidak ada." jawab Vincen datar.


"Lily,,,,,. Emmm. Seperti yang sudah aku ceritakan. Jika sebenarnya, Egi sama sekali tidak menyukai Lily. Tapi, Lily. Aku kurang yakin. Dia sepertinya tertarik dengan sosok Egi." jelas Mauren, sedikit sulit menjelaskan pada Vincen.


"Egi. Dia lelaki cerdas. Berpura-pura tidak tertarik, hanya untuk menarik. Benar-benar licik." ucap Vincen dalam hati.


Vincen melihat jika Egi menyimpan perasaan pada Lily. Hanya saja, Vincen menyimpulkan jika Egi bermain tarik ulur.


"Eh,,, mau ke mana?" teriak Mauren pada saudaranya tersebut. Yang tanpa berkata apapun pergi meninggalkannya.


"Kelihatannya Vincen menyukai Lily." gumam Mauren.


"Tapi apa iya. Mereka baru bertemu beberapa kali. Dan, mereka bahkan sangat jarang berkomunikasi." imbuh Mauren.


"Mauren, kenapa kamu cerita semua tentang Lily pada Vincen. Astaga." ucap Mauren.


Memegang dahinya sendiri, sambil berjalan seperti setrika. Mauren sungguh tidak menyangka, jika Vincen akan memiliki rasa suka pada Lily.


Karena setahu Mauren, saudaranya tersebut tipe lelaki yang sulit untuk membuka hati pada kaum hawa. Bahkan kedua orang tuanya sempat menjodohkan Vincen dengan seorang perempuan. Tapi perjodohan tersebut gagal sebelum terjadi.


"Pasti. Pasti Lily akan marah. Jika dia tahu, kalau aku menceritakan semuanya pada Vincen." ucap Mauren frustasi.


Karena dirinya benar-benar tidak mengira jika akan menjadi seperti ini. "Bodoh kamu Mauren. Mulutmu...!!!" geram Mauren, meremas sendiri mulutnya.


"Sepertinya besok aku akan menceritakan pada Lily, jika aku sudah bercerita tentang dirinya dan Egi." ucap Mauren.


"Semoga Lily tidak marah." ucap Mauren berharap.


Entah apa yang ada dalam benak Vincen. Dia mengendarai motornya, berhenti di seberang rumah Lily. Memandang ke arah rumah perempuan tersebut.


Seorang lelaki dalam mobil yang tak jauh dari rumah Lily memperhatikan Vincen dengan sangat teliti dan jeli. "Ada seorang lelaki di depan rumah Nona Lily." ucapnya pada rekan kerjanya, melalui benda kecil yang terhubung dengan telinganya.


"Di terima." sahut rekannya. Segera, dia membawa tempat sampah keluar halaman rumah. Berpura-pura membuang sampah ditempat yang sudah di sediakan di depan rumah Tuan Ardes. Yang nantinya akan di angkut oleh bak sampah.


Ternyata, Beni juga memasukkan seorang penjaga untuk Lily meski di dalam rumah. Seperti perintah dari Egi. Dia bekerja sebagai tukang kebun. Dan baru hari ini, dia bekerja.


Tidak akan ada yang menyangka, jika dia sangat terampil dalam bela diri dan juga bermain senjata api. Karena badannya yang kurus kerempeng, apalagi dengan postur tinggi. Seperti tiang bendera.


Apalagi wajahnya terlihat pucat. Dengan ekspresi wajah seperti orang yang sakit-sakitan.


Klik. Dia mengaktifkan kamera jarak jauh, yang memang sudah di sembunyikan di balik sakunya. Memudahkan Beni untuk melihat lebih jelas orang tersebut.


Segera dia kembali, setelah di rasa pekerjaannya selesai. Memencet sesuatu di kancing bajunya. Jika dilihat, dia seperti sedang menggaruk dadanya.


"Berhasil." ucapnya lirih. Dan kembali bekerja merapikan taman samping rumah Tuan Ardes.


Vincen meninggalkan rumah Lily setelah dirinya berada di sana selama kurang lebih sepuluh menit.


Di tempatnya, Beni segera memeriksa laporan yang dikirimkan oleh anak buahnya yang berada di kediaman Tuan Ardes.


"Vincen Diandro." gumam Beni, setelah memeriksa dengan benar pemilik nomor plat kendaraan beroda dua tersebut. Karena saat berhenti, Vincen tetap memakai helmnya untuk menutupi kepala sekaligus wajahnya.


"Diandro." gumam Beni. Nama yang sangat tidak asing untuk di dengar. Segera Beni menggerakkan jarinya yang lincah di atas keyboard.

__ADS_1


"Untuk apa dia berada di negara ini." ucap Beni dalam hati.


Karena Vincen adalah pengusaha muda yang meneruskan perusahaan milik keluarga. Dan berada di tangannya, perusahaan tersebut berkembang dengan sangat baik.


"Tidak mungkin." ucap Beni tidak percaya, saat melihat jika Vincen, adalah salah satu mahasiswa di universitas tempat Lily. Dan dia terdaftar sebagai mahasiswa baru.


Seseorang yang sudah mempunyai perusahaan. Kenapa harus meninggalkan negaranya. Hanya untuk meneruskan pendidikannya. Sangat mustahil.


Dan pendidikannya tersebut melenceng jauh dari profesinya sebagai seorang pengusaha. Karena Vincen mengambil jurusan psikologi.


Segera Beni menghubungi Egi. Dan memberitahukan semuanya. "Kirimkan lewat email." ucap Egi. Karena dirinya tidak mungkin kembali ke perusahaan.


Karena sekarang Egi sudah di area parkir apartemen. Belum sempat Egi membuka pintu mobil, ada sebuah notifikasi. Padan tertulis dari bawahannya.


DIA MENGINTAI ANDA TUAN.


Egi tersenyum samar, dan memasukkan kembali ponselnya. Keluar dari dalam mobil dengan santai dan tenang. Seolah Egi tidak tahu apa-apa.


Di dalam lift, ada sebuah pesan tertulis masuk kembali ke dalam ponselnya.


DIA PERGI.


"Rupanya dia ingin menyelidiki tentang semua kegiatanku." ucap Egi lirih.


Nando Ebara, adalah lelaki yang sempat mengancam keselamatan nyawa Lily, dan membuat Lily trauma atas kejadian tersebut.


Dengan uang dia dengan mudah keluar dari rumah sakit jiwa. Dan sekarang, dirinya berkeliaran dengan bebas. Seolah tidak pernah terjadi apapun.


Balas dendam. Kemungkinan terbesar Nando berkeliaran di sekitar Egi adalah untuk balas dendam. Karena Egi telah menggagalkan kesenangan dan hobinya, saat terakhir kali.


"Egi, ada yang mama ingin bicarakan." ucap Nyonya Tiwi, begitu sang putra baru saja masuk ke dalam apartemen miliknya.


"Mama kapan pulang?" tanya Egi, membuat Nyonya Tiwi berdiri dan menjewer telinga sang putra.


"Aw.. aw... ma,,,, sakit." seru Egi dengan badan sedikit membungkuk, dan kepala mensejajarkan tinggi sang mama.


"Kamu mengusir mama!!" bentak Nyonya Tiwi, melepas tangannya di telinga sang putra.


"Cuma bertanya mama." ucap Egi beralasan, mengusap daun telinganya yang sakit.


Sebenarnya bukan tanpa alasan Egi bertanya seperti itu pada sang mama. Jujur, Egi merasa sedikit khawatir dengan keselamatan sang mama. Apalagi Nando sudah dengan berani membuntuti Egi.


"Kenapa tidak kamu selesaikan di kantor." teriak Nyonya Tiwi, tapi tidak di gubris oleh Egi.


Egi segera menghubungi Beni, setelah sampai di ruang kerjanya. Menutup pintu. Memastikan sang mama tidak mengikutinya.


"Perketat keamanan di apartemen." perintah Egi, segera menutup panggilan teleponnya, tanpa mendengarkan jawaban dari Beni.


"Aku tidak bisa begitu saja menangkap Nando. Mengingat siapa orang tuanya. Menjebloskan ke penjara, pasti dengan mudah dia akan keluar." ucap Egi. Teringat Nando bisa keluar dari rumah sakit jiwa dengan mudah.


"Satu-satunya cara adalah membuat Nando terkurung di penjara, atau rumah sakit untuk selamanya. Tapi aku tidak mungkin melakukannya secara frontal dan terang-terangan." ucap Egi berpikir jernih.


Egi segera melihat, laporan yang di kirimkan oleh Beni pada emailnya. "Tunggu." gumam Egi, memperbesar foto Vincen di layar laptopnya.


"Bukankah dia lelaki yang ada di kampus Lily. Dan teman Lily, emm Marem. Miren. Entahlah, siapapun namanya." ucap Egi, teringat saat Lila menyebutkan nama sahabat Lily.


"Bukankah mereka tadi bersama." ucap Egi.


Jari jemari Egi segera bergerak lincah mencari informasi yang ingin di ketahuinya. "Mereka saudara." ucap Egi mencoba menebak sesuatu.


"Lily dan Mauren. Seperti apa persahabatan mereka. Aku harus mencari tahu." ucap Viki.


"Dan kamu. Vincen Deandro. Apa yang sedang kamu cari di negara ini. Lebih tepatnya, apa tujuanmu datang ke negara ini, sebagai mahasiswa psikolog." ucap Egi tersenyum sinis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Amanda berjalan menuju ke dalam kamarnya. Saat Nanny hendak menghampirinya, Amanda malah melotot dan bergegas pergi.


Membuat Nanny heran dengan sikap Amanda. "Ada apa dengan Nona Amanda?" tanya Nanny pada dirinya sendiri.


Saat berbalik, Nanny melihat ada seorang pelayan perempuan di belakangnya. Pelayang yang bekerja beberapa bulan terakhir.


Dia di terima bekerja, sebelum Tuan dan Nyonya Joshua meninggalkan negara ini untuk berobat ke negara tetangga.


Setelah dia bekerja selama kurang lebih satu bulan. Kesehatan Tuan Joshua menurun. Dan di bawa ke rumah sakit luar negeri untuk pengobatan.

__ADS_1


Nanny hanya melewatinya, tanpa menyapanya. Bahkan, Nany terkesan tidak peduli. Padahal, dari tadi dirinya selalu memperhatikan setipa gerak gerik pembantu tersebut.


"Siapa yang merekomendasikan dia bekerja di sini?" batin Nanny. Mulai sedikit menaruh rasa curiga. Lantaran, tiba-tiba dia diperkenalkan oleh Nyonya Joshua secara pribadi.


"Aku harus mencari tahu." ucap Nanny dalam hati. Entah kenapa Nanny merasa ada yang tidak beres dengan pembantu tersebut.


Nanny membawa nampan berisi minuman dengan makanan ringan. Berjalan menaiki tangga, menuju ke kamar Amanda.


Tok,,,,


Ceklek. Amanda yang memang berada tepat di belakang pintu, segera membuka pintunya. Saat indera pendengarannya mendengar suara ketukan.


"Cepat masuk." ucap Amanda. Segera menarik Nanny untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Bantu Amanda supaya bisa keluar dari rumah dengan aman." rengek Amanda, secara langsung.


"Ada yang ingin Amanda lakukan Nanny." pinta Amanda.


"Sebenarnya, Nanny juga sedang ingin melakukan sesuatu. Dan membutuhkan bantuan Nona Amanda." jelas Nanny.


"Bantuan Amanda." kata Amanda, menunjuk ke arah wajahnya.


Nanny segera mengangguk. "Sebentar." Nanny meletakkan minuman dan juga makanan ringan di atas nakas.


"Ada apa?" tanya Amanda penasaran.


Nanny menceritakan kecurigaannya pada pembantu baru di rumah ini. "Saya sudah mengamatinya sekitar satu bulan. Dan saya rasa, ada yang aneh dari gelagatnya Nona." jelas Nanny.


"Lalu?" tanya Amanda, karena Nanny mengatakan jika membutuhkan bantuannya.


"Jadi begini....." Nanny menceritakan rencananya. Dan Amanda, mendengarkannya dengan benar.


"Jika ternyata kecurigaan Nanny benar. Aku bisa sekalian menceritakan pada Egi. Jadi sekarang, aku lebih baik membantu Nanny terlebih dahulu." ucap Amanda dalam hati.


"Oke." kata Amanda dengan yakin. Segera Nanny keluar dari kamar Amanda. Bersikap seperti biasa. Dan lagi-lagi, pembantu tersebut terlihat seperti sedang memperhatikan Nanny.


Tanpa berkata apapun, Nanny pergi ke kamarnya. Seperti sebelumnya, seolah-olah dia tidak tahu apapun.


Tak berselang lama, telepon di ruang tengah yang terhubung dengan kamar Amanda berbunyi. "Kamu ke kamar ku sekarang." ucap Amanda. Tanpa bertanya siapa yang mengangkat telepon.


Karena Amanda yakin, jika Nanny sudah mulai menjalankan rencananya. Seperti dugaan Nanny, pembantu tersebut naik ke atas. Dan masuk ke dalam kamar Amanda.


Ini pertama kali dirinya masuk ke dalam kamar Amanda. Matanya dengan lancang memindai kamar Amanda. Dan Amanda, hanya tersenyum samar.


"Pijat badan saya." perintah Amanda, dengan posisi badan sudah tengkurap.


"Tapi Nona." ucapnya. Amanda memandangnya dengan tajam.


"Saya akan panggilkan Nanny." ucapnya.


"Tidak perlu, tenaga Nanny sudah tidak terlalu kuat. Tidak berasa di badan saya." ujar Amanda mencari alasan.


"Baik." ucapnya dengan senang.


"Lagi pula Nanny sudah tua. Pantas tenaganya tidak sekuat tenagaku." ejeknya dalam hati.


Tangannya memijat punggung Amanda. Tapi pandangan matanya jelalatan ke mana-mana. Bahkan dia mengintip ke arah layar ponsel milik Amanda yang sedang di pegang pemiliknya.


"Ternyata bermain game." ucapnya dalam hati.


Dan di bawah Nanny mulai beraksi. Dirinya dengan cepat, masuk ke dalam kamar pembantu tersebut. Karena di rumah Amanda, setiap pembantu akan mendapatkan satu kamar. Tapi kamar tersebut berukuran kecil.


Dengan rapi dan juga cepat, tangan Nanny mulai mencari sesuatu. Dari dalam almari, laci meja, kolong tempat tidur. Dan beberapa tas.


"Tidak ada apa-apa." gumam Nanny, saat dirinya sama sekali tidak menemukan apapun.


"Sepertinya tidak ada sesuatu di sini." gumam Nanny. Tapi saat Nanny tidak sengaja melihat ke atas, tepatnya atas pintu. Karena di atas pintu terdapat angin-angin berjumlah dua dengan ukuran kecil.


"Itu dia." segera Nanny mendekatkan kursi dan menaikinya. Tangannya meraih sebuah kresek hitam kecil yang ditaruh di angin-angin tersebut.


"Apa ini." ucap Nanny, menemukan serbuk di dalam kantong kresek tersebut.


"Tidak berbau." ucap Nanny, menciumnya.


Segera Nanny mengambil sedikit bubuk tersebut, dan mengembalikannya di tempat semula. Dan bergegas meninggalkan ruangan. Setelah memastikan semua barang di ruangan tersebut dia taruh dengan posisi awal.

__ADS_1


"Kelihatannya Nona Amanda berhasil membuat dia berada di dalam kamar." ucap Nanny, menaruh bubuk tersebut ke dalam wadah kecil.


"Besok saja, aku berikan pada Nona Amanda." ucap Nanny, memandang ke benda tersebut.


__ADS_2