PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 68


__ADS_3

"Apa Tuan Egi sudah menghubungi anda, Dok?" tanya Tuan Joshua pada dokter Matias. Dokter yang selama ini dipercaya Egi untuk merawat dirinya dan juga sang istri.


Dokter Matias tersenyum kecil. "Sabar Tuan. Baru saja saya mendapat berita. Jika sekarang di perusahaan anda sedang terjadi kemelut." ucap Dokter Matias, dengan tangan sibuk memeriksa bagian tubuh Tuan Joshua.


"Amanda." kata Nyonya Iren seketika. Mama dari Amanda, istri Tuan Joshua.


Tersirat rasa takut di wajah Nyonya Iren. Mengingat sang putri sendirian di sana. Begitu juga Tuan Joshua. Meski beliau bersikap tenang. Namun Dokter Matias bisa menebak rasa khawatir Tuan Joshua pada putri semata wayangnya.


"Tenang saja. Apa yang perlu di cemaskan. Bukankah tidak ada. Egi Yoga Pratama ada di sana. Tidak mungkin kalian lupa." ucap Dokter Matias tersenyum hangat. Menenangkan kedua pasien ekslusifnya.


Tuan Joshua dan sang istri menatap ke arah sang Dokter dengan tatapan meminta penjelasan akan kelanjutan perkataannya. "Coba kalian pikirkan." jeda Dokter Matias, memasukkan alat medisnya yang berbentuk kecil ke dalam saku jasnya.


"Apa mungkin akan terjadi kemelut dan permasalahan di perusahaan anda. Jika Egi tidak menghendakinya." ucap Dokter Matias tersenyum penuh maksud.


Tuan Joshua mengangguk pelan. "Perusahaan. Benar juga. Terlebih Amanda tidak akan mungkin berjalan dan mengambil keputusan seorang diri." papar Tuan Joshua.


Beliau mengetahui jika putrinya tidak terlalu tahu menahu mengenai permasalahan atau urusan perusahaan selama ini. Karena memang Amanda tidak ingin meneruskan perusahaan milik sang papa. Dia berencana akan membuka usaha sendiri.


Tapi takdir kehidupan berkata lain. Hal yang sama sekali tidak di inginkan, sekarang malah harus dia pahami dan dia jalankan sebaik mungkin. Amanda melakukan semua ini tidak lain karena kedua orang tuanya.


Terlebih Amanda mengetahui, jika perusahaan tersebut adalah usaha yang di bangun sang papa dari nol. Karena memang notabennya, baik papa maupun mama Amanda bukan dari kalangan keluarga atas dan kaya raya.


Keduanya berasal dari keluarga sederhana yang damai dan harmonis.


"Bahkan saya tidak peduli jika harus kehilangan semua harta benda saya. Karena bagi saya dan istri saya, harta satu-satunya milik kami adalah Amanda. Putri kami." ucap Tuan Joshua penuh makna.


Menatap ke arah sang istri yang juga menatap ke arahnya dengan senyum penuh cintanya.


Dokter Matias tersenyum haru. "Tenang saja. Saya tahu siapa Egi. Jika dia sudah mempunyai niat menolong, pasti dia akan menolong dengan sungguh-sungguh." jelas Dokter Matias.

__ADS_1


Nyonya Iren bernafas lega. "Ingin sekali saya bertemu dengan dia. Egi." ucap Nyonya Iren tersenyum simpul.


"Pasti. Kita akan segera bertemu dengannya. Dan mengucapkan terimakasih." ujar Tuan Joshua.


"Dia lelaki yang hebat dan pastinya baik." puji Nyonya Iren, meskipun hanya beberapa kali bertemu dengan sosok Egi. Itupun hanya melihat saja, tanpa bertegur sapa. Karena saat itu beliau ikut sang suami menghadiri pertemuan atau acara bisnis.


"Tapi ingat. Jangan pernah mempunyai niat menjodohkan anak anda dengan Egi." jelas sang Dokter secara langsung. Karena sepertinya Dokter Matias bisa menebak jalan pikiran kedua orang tua Amanda.


Lagi pula, orang tua mana yang tidak menginginkan Egi menjadi menantunya. Meskipun sosok Egi dikenal dingin terhadap perempuan.


Dan pastinya mereka mengira jika Egi menolong Amanda karena Egi mempunyai perasaan pada sang putri.


Tuan Joshua beserta sang istri memandang dengan tatapan rumit penuh penasaran pada Dokter Matias. "Egi sudah mempunyai kekasih. Dan dia menolong putri anda karena tulus ingin menolong. Jadi jangan mempunyai pikiran lebih." tutur Dokter Matias.


Tuan Joshua tersenyum. "Pasti." ucapnya tegas. Tuan Joshua mengerti arti perkataan Dokter Matias. Karena memang setahu Tuan Joshua, Egi memang sosok yang tidak terlalu suka jika kepentingan pribadinya di umbar di hadapan publik.


Berbeda dengan Nyonya Iren yang menampilkan ekspresi sulit di tebak. Ada rasa tidak mengenakkan di hati Nyonya Iran saat mendengar perkataan Dokter Matias. "Seperti apa kekasih dari Egi. Jadi penasaran. Apa lebih cantik dari putriku." ucap Nyonya Iren dalam hati.


Lily memilih tidak menghubungi Egi. Karena Lily berpikir, pasti Egi tidak akan mengangkat panggilan telepon darinya. "Semoga Egi percaya dengan ku." harap Lily, jika Egi tidak akan salah paham.


"Baju sialan." omel Lily berjalan sedikit menjauh dari keramaian. Tujuannya ingin mencari tempat berteduh, meski sebentar. Karena terik matahari membuat kepalanya seakan mau pecah.


Lily mengibas-ngibaskan telapak tangannya, untuk mengurangi rasa gerah di tubuhnya. Duduk di bawah pohon, menghindari terik matahari yang seakan terus mengejarnya kemanapun dia pergi.


"Aku pesan taksi saja." Lily kembali mengeluarkan ponselnya sembari duduk di bawah pohon. Tapi.... "Heyyy....!!!!" teriak Lily, saat ponsel di tangannya di sambar seseorang dan di bawa lari, sebelum dia sempat menyalakan ponsel miliknya.


Tanpa menunggu, Lily berlari mengejar orang tersebut. Bahkan Lily mengejar hingga jauh. "Berhenti..!!!!" teriak Lily.


Lily berhenti di sebuah jalan pertigaan. Tangannya memegang kedua lututnya dengan nafas terengah-engah. "Kemana perginya." ucapnya tersengal kecapekan.

__ADS_1


Pandangan mata Lily melihat ke dua jalan yang berbelok di depannya. "Mana sepi lagi." gumamnya. Lily berniat ingin bertanya, namun sialnya tidak ada segelintir orang di sekitarnya.


Lily mengusap keringat di dahinya. "Aaaa.... Keluar!!!" teriak Lily. Seseorang memakai jaket berdiri tak jauh dari tempat Lily berada dengan posisi membelakangi Lily.


"Hey....!!!" Lily berlari ke arahnya. Karena memang itulah orang yang mengambil ponsel milik Lily. Karena Lily mengenalinya dari jaket yang dia pakai sewaktu mengambil ponselnya tadi.


Saat Lily semakin mendekat ke arahnya, dia juga berlari. Namun tidak sekencang tadi. Sehingga Lily dapat melihat sosoknya dan mengejarnya.


Terkesan di sengaja. Ya,,,, sepertinya dia sengaja memperlihatkan diri pada Lily. Dan tujuannya sudah dapat di tebak. Supaya Lily mengejarnya.


Lily sudah mulai kehabisan nafas. "Kembalikan ponselku!!" seru Lily saat dia berhenti.


Lelaki tersebut melepas jaketnya. "Panas sekali." ucapnya, dengan membuangnya ke tanah. Begitu juga topi yang dia kenakan di atas kepalanya.


Dia melepas topi tersebut, mengibaskannya pada wajah sebagai kipas. Mengurangi rasa panas di wajahnya.


"Suara itu." ucap Lily dalam hati. Merasa jika suara lelaki tersebut sangat familiar di indera pendengarannya.


"Hay, Lily. Kita bertemu lagi." ucapnya membalikkan badan dengan senyum yang terlihat polos.


Kaki Lily melangkah beberapa langkah ke belakang. Tatapan mata terkejut tak bisa Lily sembunyikan. Melihat lelaki yang sekarang ada di depannya.


"Kamu." ucap Lily lirih.


"Iya. Aku, Nando." ucapnya menyeringai bagai iblis.


Lily menenangkan dirinya. Pandangan mata Lily memindai sekelilingnya. Tempat yang tampak asing bagi Lily.


Entah, berapa jauh Lily berlari dari tempat mobilnya berhenti karena mogok. "Oke, Lily. Tenang. Jangan tunjukkan ketakutan kamu pada orang psikopat seperti Nando." ucap Lily dalam hati.

__ADS_1


Lily yang belajar di bangku hukum pasti mengetahui bagaimana cara kerja seorang psikopat seperti Nando. Dan semua cara itu Lily pergunakan saat ini untuk melawan Nando.


__ADS_2