
"Egi." panggil seseorang. Seketika semuanya menoleh ke arah suara yang memanggil Egi.
"Kamu ada di sini?" tanya Amanda, sedikit terkejut. Lantaran seorang lelaki seperti Egi berada di acara seperti ini.
"Sedang apa?" tanya Amanda melihat Egi dengan tatapan aneh.
"Jawab." seru Amanda memegang lengan Egi dengan menariknya pelan. Tampak Amanda merasa penasaran dnegan keberadaan Egi.
"Hahh,,,," Egi menghela nafas.
"Aku." ucap Amanda menunjuk dirinya sendiri, saat Egi menatap pada dirinya.
"Aku sedang melihat acara fashion." oceh Amanda.
"Aaa." seru Amanda saat Egi menoyor pelan kepala Amanda.
Seketika Amanda tersadar, jika semua orang di sekeliling Egi menatapnya dengan tatapan aneh.
"Bukankah dia." batin Lily, teringat wajah Amanda. Yang tadi siang dia tabrak di perusahaan milik Egi.
"Kamu." ucap Amanda dengan wajah senang.
"Hai." sapa Lily.
Egi menatap ke arah Lily. "Kita bertemu tadi siang, di perusahaan kamu. Aku tidak sengaja menabrak Nona.." ucap Lily memandang Amanda.
"Amanda." sahut Amanda, seraya memperkenalkan diri.
"Lily." ucap Lily.
"Sayang." ucap Nyonya Tiwi.
"Mama capek?" tanya Egi, mendekat ke arah sang mama.
"Mama." gumam Amanda.
"Bukankah beliau Nyonya Tiwi. Salah satu desainer yang mengikuti acara ini." batin Amanda. Dirinya mulai mengerti, kenapa Egi berada di sini. Pasti karena sang mama.
"Maaf Nyonya, saya tidak tahu jika anda mama dari Egi." ucap Amanda dengan sopan.
"Iya. Tidak apa-apa." ujar Nyonya Tiwi.
"Senang sekali bisa berbincang secara langsung dengan desainer dunia seperti Nyonya." ucap Amanda memuji Nyonya Tiwi.
"Terimakasih." ucap Nyonya Tiwi.
__ADS_1
"Tuan, Nyonya. Maaf, kami permisi dulu." pamit Egi kepada kedua orang tua Lily. Karena Egi melihat mamanya juga terlihat kelelahan.
"Aku ikut." celetuk Amanda. Membuat semua mata memandang ke arahnya.
"Emm,,, ada sesuatu yang harus kita bicarakan. Mengenai kerja sama kita." jelas Amanda. Dan tentunya itu hanyalah sebuah alasan.
Egi memandang ke arah sang mama. Tapi Nyonya Tiwi malah membuang muka. Seolah menyerahkan keputusannya pada sang anak.
"Ini sudah terlalu malam." tolak Egi dengan lembut. Seketika raut wajah Amanda berubah sendu. Padahal ini adalah satu-satunya waktu yang di dapat Amanda untuk berbicara dengan Egi.
Karena Revan sedang ada acara yang tidak bisa ditinggalkan. Sehingga Revan menyuruh anak buahnya yang menjaga Amanda.
"Aku ingin bicara sebentar." ucap Amanda. Memandang ke arah Egi dengan tatapan serius.
"Ma, Beni yang akan mengantar mama pulang." ucap Egi. Segera menghubungi Beni, sang asisten.
"Iya." ucap Nyonya Tiwi.
"Aku ikut." ucap Lily, dengan tiba-tiba memegang erat lengan Egi.
Nyonya Tiwi tersenyum dan menggelengkan kepala dengan pelan. Melihat drama yang tersaji di depannya.
Demikian juga dengan Tuan Ardes beserta Nyonya Tiwi. Keduanya tersenyum samar melihat mereka.
"Seperti anak kecil saja." gumam Lila.
"Biarkan Egi berbicara dengan rekan bisnisnya. Sebaiknya kamu pulang. Ini sudah malam." ucap Tuan Ardes.
"Bukankah besok kamu akan menemani Nyonya Tiwi." imbuh Tuan Ardes mengingatkannya.
Nyonya Tiwi pulang di antar oleh Beni, asisten Egi. Sementara Lily, pulang ke rumah bersama keluarganya.
"Lily." seru Nyonya Tya, memanggil sang anak yang tampak cemberut, berjalan menuju kamar.
"Pa, seharusnya papa membiarkan Lily mengikuti Egi." ucap Nyonya Tya.
"Pa, Ma. Lila ke kamar dulu." ucap Lila. Dijawab anggukan oleh kedua orang tuanya.
Dirinya sudah lelah. Dan ingin segera merebahkan badannya di kasur empuk dan besar miliknya. Sama sekali tidak ingin mengikut sertakan diri dalam masalah sang kakak.
"Dia Amanda. Rekan bisnis Egi." jelas Tuan Ardes.
"Lantas kenapa. Mama tidak menanyakan siapa dia. Pasti sekarang Lily sedang kesal dan cemburu." ucap Nyonya Tya. Melihat bagaimana putrinya bersikap.
"Egi adalah pebisnis muda. Tampan dan sukses. Perempuan mana yang tidak akan tertarik. Seharusnya mama bisa memberitahu Lily." jelas Tuan Ardes.
__ADS_1
"Jika Lily memang sudah menjatuhkan hati pada Egi, seharusnya dia juga tahu konsekuensinya. Dan dia juga harus bisa menjaga emosi. Karena Egi pasti akan terus di kelilingi perempuan cantik." imbuh Tuan Ardes.
Nyonya Tya diam, beliau sekarang mengerti maksud perkataan sang suami. Apalagi ini pertama kalinya Lily menaruh perasaan pada seorang lelaki.
"Maaf pa, mama tidak berpikir sampai sana. Mama akan mencoba menasehati Lily." ucap Nyonya Tya.
Di dalam kamar miliknya, Lily benar-benar emosi. Dia meluapkan emosinya dengan memukul bantal berkali-kali.
Lily merasa khawatir, cemas, dan takut. Egi pergi berdua dengan seorang perempuan cantik. "Apa yang sedang mereka lakukan." gumam Lily.
Lily mencoba mengatur emosinya. "Tunggu, kenapa aku seperti ini." tanyanya pada diri sendiri.
"Iya, pasti karena kami pura-pura berpacaran. Dan aku tidak mau semua orang tahu. Iya benar. Makanya aku marah melihat Egi pergi berdua dengan Amanda." ucap Lily pada dirinya sendiri.
Menyakinkan dirinya jika dia marah bukan karena cemburu. Tapi karena dirinya takut jika sampai semua orang tahu jika Egi dan dirinya hanya menjalin hubungan pura-pura.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ada apa?" tanya Egi pada Amanda.
Sekarang keduanya tengah berada di dalam mobil milik Egi. "Kemana asistenmu?" tanya Egi lebih mengarah kepada sindiran halus. Amanda mengangkat kedua bahunya.
"Bisa minta tolong." ucap Amanda lirih.
Egi menoleh, tampak wajah sedih dan sayu dari Amanda. Raut wajah ceria dan juga bahagia yang sempat dia tunjukkan di hadapan semua orang, seakan lenyap dan hilang.
"Tolong aku." ucapnya kembali dengan lirih.
Amanda menyandarkan tubuhnya di jok kursi mobil. Menghela nafasnya dengan panjang. "Aku lelah. Aku capek." ucap Amanda.
"Entah apa yang sudah Revan katakan pada papa. Sehingga papa selalu percaya semua perkataan Revan."
Amanda tersenyum miris. "Aku, putri pemilik perusahaan. Tidak lebih dari boneka hidup yang dipergunakan oleh Revan."
"Setiap apa yang aku lakukan semua karena ucapan yang keluar dari mulut Revan. Bahkan mungkin, nyawaku juga milik dia." ucap Amanda menerawang jauh ke depan.
Sejenak Amanda terdiam. Lalu terkekeh pelan. "Astaga. Kehidupan seperti apa yang aku lalui kedepannya." ucapnya tersenyum pahit.
Egi hanya terdiam. Menjadi pendengar yang baik untuk Amanda. Tanpa Amanda bicara, sebenarnya Egi sudah mengetahuinya.
Bukan karena Egi menyelidikinya. Melainkan cara Revan yang selalu mendikte Amanda pada setiap kesempatan. Saat dirinya dan Amanda mengadakan pertemuan untuk membicarakan bisnis yang mereka kerjakan bersama.
Terlihat, Amanda hanya akan membubuhkan tanda tangan saja. Tanpa bisa mengeluarkan suara untuk sekedar mengeluarkan pendapat.
Tapi Egi tak mau ambil pusing. Karena Egi tidak mau terlalu mengurusi kehidupan orang lain. Dirinya tidak ingin dipusingkan oleh masalah orang lain.
__ADS_1
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Egi membuka suara.
"Dan apa yang aku dapatkan jika membantumu." lanjut Egi.