
Lily berhambur memeluk tubuh Egi. Pastinya dengan air mata kebahagiaan. Egi mengelus dengan lembut rambut panjang sang kekasih.
"Keluarga korban yang sudah tiada, juga akan ikut bergabung. Mereka bersedia menjadi saksi." ujar Egi lirih.
"Sudah tiada." gumam Lily, seraya melepas pelukannya.
"Sudah tiada, maksudnya?" tanya Lily dengan tatapan bingung, dengan kepala mendongak melihat ke arah Egi tanpa melepas tangannya yang melingkar di pinggang Egi.
Egi mencium kening Lily. Mengelus pipinya dengan penuh kasih sayang. "Beberapa perempuan korban kebiadaban dari Nando ada yang tidak selamat." Lily menggeser duduknya ke belakang. Membungkam mulutnya menggunakan telapak tangannya.
Lily tidak menduga, jika ada kejadian seperti ini. Lily mengira jika Nando hanya melakukannya seperti yang dilakukan padanya. "Jangan bercanda." Lily tidak percaya dengan ucapan Egi.
"Itu nyata. Dan aku tidak sedang mengarang cerita." sahut Egi dengan tatapan serius.
"Lagi pula, kamu adalah mahasiswa dengan jurusan hukum. Pasti lebih tahu dari aku. Apa yang pantas di dapat oleh keluarga korban. Dan apa yang pantas diterima oleh Nando."
Egi merasa, ini waktu yang tepat untuk Lily mengetahui semuanya. Mungkin dengan begini, Lily akan mau menjadi saksi. Seperti yang lainnya.
"Ada beberapa perempuan yang meninggal karena siksaan Nando di bagian vital di tubuh mereka. Sehingga nyawa mereka tidak terselamatkan, bahkan setelah di bawa ke rumah sakit oleh keluarga mereka. " Egi menjeda kalimatnya.
Lily memandang ke arah Egi dengan tatapan tidak percaya. "Beberapa dari mereka ada yang bunuh diri. Karena tekanan mental, mengingat perlakuan yang Nando berikan pada mereka. Membuat mereka stres. Dan memilih untuk mengakhiri hidup. Entah saat mereka sadar atau tidak. Saat melakukannya." jelas Egi.
Lily sungguh tidak menyangka. Jika dirinya termasuk masih beruntung, karena Egi datang tepat waktu. Lily merasa Tuhan masih menyayanginya. "Terimakasih Tuhan, atas pertolongan Mu melalui tangan Egi." ucap Lily dalam hati, merasa bersyukur.
Nando merasa senang melihat korbannya menangis dan meronta, juga berusaha kabur dari tangannya. Dan saat-saat seperti itulah, membuat Nando yang notabennya seorang psikopat merasa permainan semakin menarik jika korban berusaha melawan.
Tapi, setelah korban merasa tidak berdaya dan pasrah, Nando merasa tidak lagi menginginkan mereka. Membuat Nando melepaskan mereka.
Kebanyakan dari korban hanya di sekap tidak lebih dari satu hari oleh Nando. Sehingga keluarga tidak akan ada yang curiga jika anggota keluarganya mereka hilang.
Tapi meskipun waktunya tidak ada satu hari itulah, yang akan menjadi neraka para korban. Dan akan menjadi surga bagi Nando.
Nando akan melepaskan korbannya di sembarang tempat. Sesuka hati. Dia juga tidak punya tempat khusus untuk mengeksekusi korbannya.
Dan semua korbannya adalah seorang perempuan. Dengan umur di atas dua puluh tahun sampai dua puluh lima tahu.
Karena memang Beni sudah menyelidiki setiap korban dari Nando tanpa meninggalkan hal kecil yang mungkin akan berguna untuk kasus tersebut.
__ADS_1
"Nando..." gumam Lily dengan ekspresi wajah rumit.
"Apa aku juga harus menceritakan tentang Nando yang selalu menguntit Lily." ucap Egi dalam hati.
Lily melihat Egi seperti sedang memikirkan sesuatu. "Egi, ada apa?" tanya Lily.
"Aku ingin memberitahu sesuatu. Namun, kamu harus tetap tenang." ujat Egi.
"Ada apa?" tanya Lily semakin di buat penasaran dengan perkataan Egi.
"Nando. Selama ini, dia selalu membuntuti kamu." ucap Egi.
Lily mengerjap pelan. "Be-benarkan?" tanya Lily dengan terbata-bata.
Egi memegang telapak tangan Lily, memegang dagunya. "Itu kenapa, aku menyuruh kamu untuk belajar bela diri." Egi mengusap lembut pipi Lily.
Kedua mata Lily berkaca-kaca. Antara perasaan senang dan juga perasaan khawatir bercampur rasa takut.
"Kenapa,, hemmm." Egi memajukan posisi duduknya. Merapatkan tubuhnya kepada Lily.
"Apa kamu pikir aku akan membiarkan Nando menyentuh kamu lagi. Bahkan mendekati kamupun dia tidak akan bisa." jelas Egi.
Egi menempelkan dahinya dengan dahi milik Lily. "Tidak akan pernah aku biarkan, seseorang memegang bahkan menyakiti orang yang aku sayang." ucap Egi lirih tepat berada di depan wajah Lily.
Lily dapat mencium langsung aroma mint yang keluar dari dalam mulut Egi. Membuat jantung Lily berubah tempo dan berdebar semakin kencang.
"Aku memang menyuruh kamu untuk latihan bela diri. Bukan karena aku tidak mau dan tidak mampu melindungi kamu. Namun aku ingin kamu menjadi perempuan kuat. Dan tidak akan mudah di tindas. Oleh siapapun." ucap Egi lirih.
Lily tersenyum manis mendengar perkataan Egi. Tangan Lily terukur mengelus dengan lembut dan pelan rahang milik Egi.
Membuat Egi memejamkan kedua matanya. Menikmati sentuhan jari jemari Lily di wajahnya. Pandangan mata Lily berfokus pada bibir tebal yang terlihat seksi dan menggoda milik Egi.
Lily memajukan sedikit demi sedikit wajahnya. Hasrat ingin menikmati bibir seksi milik sang kekasih membutakan mata hati dan rasa malunya.
Dengan pelan, Lily menempelkan bibirnya pada bibir milik Egi. Membuat Egi tersenyum samar dan segera membuka kedua matanya.
Saat Lily hendak menarik kembali kepalanya ke belakang, tangan Egi dengan sigap dam cepat memegang tengkuk Lily dan memperdalam ciuman keduanya.
__ADS_1
Lily meremas kedua pundak Egi. Rasanya berjuta kupu-kupu terbang di sekeliling. Namun sayang, ciuman keduanya harus berhenti karena ponsel milik Egi terus berbunyi.
Egi dengan wajah muram melepaskan tautan bibirnya dengan Lily. Segera Lily memalingkan wajahnya ke arah lain. Dan menghapus sisa air liur di sekitar bibirnya.
"Amanda." gumam Egi, melihat nama ID yang tertera di layar ponselnya. Tampak jelas, Egi merasa terganggu.
Lily segera membuat supaya Egi tidak badmood. "Angkat saja, siapa tahu penting." Lily bergelayut manja di lengan Egi.
Egi pun mengangkat penggilan telepon dari Amanda. "Halo. Ada apa?" tanya Egi. Tampak Egi terdiam. Menyimak perkataan dari Amanda dengan wajah serius. Terlihat jika Egi dan Amanda sedang membicarakan hal serius.
"Apa Zea dan Zeo ada di sana?" tanya Egi.
……………………………
"Katakan padanya untuk segera berada di sampingmu." ucap Egi.
……………………………
"Aku akan mengirim bawahanku ke sana. Ingat, jangan meninggalkan perusahaan apapun yang terjadi. Inilah saatnya kamu menunjukkan kekuatan dan kekuasaanmu." perintah Egi tak dapat di bantah.
Lily menatap Egi, seolah dirinya merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Amanda. Biar bagaimanapun, Lily sudah menganggap Amanda sebagai sahabatnya.
"Apakah Amanda baik-baik saja?" tanya Lily dengan raut wajah khawatir, setelah Egi mengembalikan ponselnya ke dalam saku celananya kembali.
Egi tersenyum. "Egi....!!" seru Lily. Bukannya menjawab, Egi malah menghujami wajah Lily dengan kecupan.
Lily sendiri sedang dalam masalah. Namun, mendengar nama Amanda. Langsung membuat Lily merasa mengkhawatirkannya.
Egi terkekeh pelan melihat bibir Lily yang cemberut. "Awalnya Amanda ingin memecat seluruh karyawan yang menjadi antek-antek Revan. Namun aku menyarankan supaya Amanda berpikir lagi." jelas Egi.
"Lalu?" tanya Lily masih penasaran.
"Amanda meminta pendapatku. Aku menyarankan untuk Amanda mengakhiri kerja sama dengan beberapa perusahaan karena Revan." ucap Egi.
"Lalu?" tanya Lily lagi.
"Dan benar tebakanku. Revan marah. Dan sepertinya akan ada badai besar di perusahan Amanda." tukas Egi.
__ADS_1