
"Benar, jika kamu berhubungan dengan putri dari Tuan Ardes?" tanya Ditya yang sekarang duduk di kursi depan mobil milik Egi. Bersebelahan dengan Beni, yang sedang mengemudikan mobil.
"Tidak." jawab Egi dengan menyandarkan badannya di kursi belakang mobil.
"Lantas?" tanya Ditya merasa penasaran. Karena terlihat jika Lily mengenal Egi.
"Aku juga tidak tahu. Kami berdua bertemu secara tidak sengaja. Hanya dua kali." jelas Egi.
"Mungkin dia jatuh cinta pada pandangan pertama." ejek Ditya. Mendapat kekehan dari bibir Egi.
"Biarkan saja, dia bermain sesuka hatinya." ujar Egi.
"Tapi jika di lihat-lihat, dia lumayan. Hanya saja, penampilannya terkesan tomboy." ucap Ditya, mengingat kembali wajah Lily.
"Kalau kamu suka, kamu kejar saja." ucap Egi.
"Maaf, aku tidak ingin bersaing dengan sahabatku sendiri." goda Ditya.
"Sialan. Lagi pula, siapa juga yang menyukai perempuan bar-bar seperti itu." ucap Egi.
"Dari pada mengejar Lily, lebih baik mengejar Ella. Sempurna." ucap Ditya menghadap ke depan membayangkan wajah cantik dan tubuh seksi milik Ella. Juga senyumnya yang manis.
Rahang Egi mengeras. "Bukankah sudah ku bilang. Buang jauh-jauh pikiran kotormu itu." ucap Egi tegas.
"Aissshhh,,, kenapa sepertinya kamu sangat tidak menyukai jika aku mengejar Ella?" tanya Ditya penuh selidik.
"Dia sudah punya suami. Apa kamu amnesia." ucap Egi mencoba mencari alasan.
"Terserah." ucap Ditya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan suasana hati yang bahagia, Lily masuk ke dalam rumah. Senyum merekah di bibir Lily. Membuat Nyonya Tya dan Lila heran dengan tingkah Lily.
"Kakak baik-baik saja?" tanya Lila aneh. Nyonya Tya memukul bahu Lila pelan, mendengar pertanyaannya pada kakaknya.
"Senang banget anak mama, ada apa?"
"Lila juga anak mama." celetuk Lila mendapat pelototan dari sang mama. Lila hanya mencebik.
"Perjodohan di batalkan." ucap Lily dengan senang.
"Kok bisa?" tanya Lila.
__ADS_1
"Kan Lily punya kekasih." ucap Lily dengan sombong. Membuat sang mama dan juga Lila saling pandang.
"Mana. Bawa ke sini dong kak. Kenalin sama kita." tantang Lila.
"Jika kekasih kakak nyata." imbuh Lila mendapat timpukan di kepalanya oleh Lily menggunakan topi.
"Kakakk..." seru Lila mengusap kepalanya yang sakit.
"Sudah, sebaiknya kamu segera berangkat. Nanti terlambat." ucap Nyonya Tya mengingatkan Lila jika dirinya hendak berangkat kuliah.
"Kami pikir kekasih kakak hantu." omel Lily.
"Bisa saja." ejek Lila dengan berlari meninggalkan sang kakak dan juga mamanya.
"Kamu juga, jangan keseringan bolos. Mau jadi apa kamu nanti." omel Nyonya Tya pada anak pertamanya.
"Bolos nggak ada seminggu ma." jawab Lily santai.
"Iya, iya." Lily melihat bola mata mamanya hendak keluar dari sarang.
"Nanti Lily masuk siang mama yang cantik." Lily mencium singkat pipi mamanya dan berlalu menuju kamarnya.
Lily dan Lila kuliah di universitas yang sama. Tapi mengambil jurusan berbeda. Kelas keduanya juga berbeda. Karena keduanya berbeda dua tahun.
"Lily..." seorang perempuan merangkul pundak Lily dari belakang.
"Eh,, itukan Lila." tunjuk Mauren saat melihat Lila berjalan dengan seorang lelaki.
Lily hanya menatap dengan tatapan yang sulit di artikan. Entah apa yang ada di dalam benaknya.
"Dia kekasih Lila?" tanya Mauren, Lily mengangkat kedua bahunya.
Siapa yang tidak kenal dengan Lila. Gadis cantik dengan penampilannya yang anggun. Serta murah senyum dan juga ramah. Yang mengambil jurusan seni. Khusus untuk piano.
Berbeda dengan Lily. Gadis tomboy dengan wajah datar. Yang mengambil jurusan hukum.
Jika Lila dengan mudah mendapatkan banyak teman, berbeda dengan Lily. Dia cenderung menutup diri. Hanya ada Mauren yang selalu bersama dengan dirinya.
Lily pergi ke rumah Mauren setelah kelas yang diikutinya selesai. Keduanya langsung masuk ke dalam kamar. Lily menceritakan semua yang di alaminya hari ini pada sahabatnya tersebut.
"Astaga Lily..." ucap Mauren setelah mendengarkan cerita Lily mengenai dirinya dan Egi.
"Bagaimana jika sampai papa kamu tahu?" tanya Mauren. Dirinya tidak habis pikir, kenapa sahabatnya ini berani dan nekat berbohong pada papanya.
__ADS_1
"Jangan sampai tahu. Cuma kamu yang tahu." jawab Lily santai.
"Siapa bilang hanya aku yang tahu. Lelaki itu juga pasti tahu." ungkap Mauren.
Sejenak Lily merenung. Menatap sahabatnya, memikirkan apa yang baru saja di katakan oleh Mauren.
"Iya juga sih." gumam Lily.
"Kamu coba berpikir. Kenapa lelaki bernama Egi itu mau menolong kamu."
"Sumpah, aku nggak berpikir sampai sana." ujar Lily.
"Tunggu. Sebenarnya kenapa kamu menggunakan Egi. Maksudnya, kalian baru bertemu dua kali. Dan itupun nggak sengaja." protes Mauren, pada sahabatnya.
"Kesel saja. Dia nggak mau nolongin aku pas di tangkap bawahan papa." jelas Lily, seketika membuat Mauren melongo tidak percaya mendengar alasan Lily.
"Terus sekarang kamu mau gimana?" tanya Mauren, di balas gelengan kepala dari Lily.
Mauren menepuk pelan dahinya sendiri. Dan menjungkalkan badannya ke belakang. Membuat posisi tubuhnya menjadi terlentang.
"Kamu tahu siapa dia?" segera Mauren duduk kembali. Dirinya bertanya pada sahabatnya, sudah seperti seorang polisi yang mengintrogasi tersangka.
"Rekan kerja papa." jawab Lily polos.
"Selain itu?"
Lily kembali menggelengkan kepala. Karena dirinya nggak tahu apapun tentang Egi.
"Lily.....!" gerak Mauren berdiri.
"Bagaimana kalau misalnya dia sudah punya kekasih. Atau mungkin punya istri." omel Mauren dengan berjalan mondar mandir seperti setrika.
"Jika papamu tahu. Bagaimana? Pasti papamu akan marah besar. Otak mu kamu taruh mana sih." ucap Mauren.
"Sudahlah Ren,,, aku tambah pusing. Kamu bertanya yang aneh-aneh." seru Lily.
"Lagi pula nggak mungkin papa tahu. Santai saja." imbuh Lily seperti tidak ada beban.
"Baiklah. Jika ada apa-apa jangan cari aku. Jangan minta tolong sama." ucap Mauren kesal dengan pikiran sahabatnya tersebut.
Dengan mudah menjadikan seorang lelaki sebagai kekasihnya. Hanya untuk menggagalkan perjodohan yang akan di lakukan papannya.
Apalagi Lily benar-benar tidak tahu identitas dari lelaki tersebut. Mauren hanya takut jika Lily di manfaatkan oleh orang.
__ADS_1
Apalagi selama ini Mauren tahu jika Lily tidak pernah dekat dengan seorang lelaki. Bahkan sahabat Lily hanya dirinya. Tidak ada lelaki yang ada di sekitar Lily. Kecuali papanya.
Mungkin itulah, kenapa Tuan Ardes ingin menjodohkan Lily dengan lelaki pilihannya.