
"Makan yang banyak. Mama memasak khusus untuk kamu." ucap Nyonya Lita.
"Terimakasih ma." sahut Amanda tersenyum.
Keluarga tersebut kini sedang makan bersama. "Ada apa?" tanya sang mama, melihat Amanda seperti sedang mencari sesuatu.
"Zea dan Zeo." jawab Amanda dengan manik mata mengarah ke sekeliling, mencari keberadaan dua orang tersebut.
Senyum Nyonya Lita seketika menghambar mendengar Amanda mencari kedua bodyguardnya. "Mungkin mereka sedang berada di luar." timpal Tuan Joshua sambil menikmati makanannya.
"Mau kemana?" tanya Nyonya Lita, saat Amanda berdiri dari duduknya.
"Mencari mereka ma. Zea dan Zeo juga belum makan." ujar Amanda.
"Sayang...." ucap sang mama, namun terpotong oleh perkataan Tuan Joshua.
Nyonya Lita tidak menyukai sikap Amanda, yang begitu perhatian pada kedua orang tersebut.
"Kamu panggil mereka. Ajak makan bersama kita di sini." saran sang papa.
"Makasih pa." Amanda berlari kecil ke arah depan. Mencari keberadaan Zea dan Zeo.
Tuan Joshua menghentikan gerakan tangannya. "Biarkan Amanda melakukan sesuatu. Apapun itu, asal itu hal yang baik." ucap Tuan Joshua.
Nyonya Lita hanya diam tidak menyahuti perkataan sang suami dengan memasang ekspresi acuh. Tuan Joshua hanya mendengus dan menggelengkan kepala.
Sifat keras keras kepala dari Nyonya Lita tampak tetap berada dalam dirinya, beruntung Tuan Joshua selalu bersabar dalam memghadapinya.
Amanda berjalan ke meja makan bersama Zea dan Zeo, dan dia langsung mendaratkan pantatnya di kursi yang semula dia tempati. "Ayo duduk. Kenapa kalian malah berdiri seperti patung." gurau Amanda.
"Silahkan duduk. Kita makan bersama." Tuan Joshua mempersilahkan keduanya dengan ramah. Sementara Nyonya Lita tampak acuh dengan kedatangan mereka berdua.
Seolah kedatangan keduanya sama sekali tidak dia harapkan. Dan memang benar adanya. Nyonya Lita ingin sekali mengusir mereka. Namun dirinya tidak seceroboh itu.
"Kenapa kalian seperti ini. Kaku sekali. Bukankah biasanya kita makan bersama." ujar Amanda dengan senyum ramahnya.
Nyonya Lita tersenyum sinis dan samar. "Biasanya. Seberapa dekat mereka." ucap Nyonya Lita dalam hati.
__ADS_1
"Amanda, ayo." ujar Tuan Joshua, saat melihat Zea dan Zeo seperti sungkan.
"Biar kami sendiri Nona." Zea mengambil centong yang berada di tangan Amanda, sebab Amanda hendak mengambilkan nasi untuk keduanya.
Tuan Joshua nampak tersenyum senang. Melihat kedekatan putrinya dengan dua orang tersebut. Amanda terlihat sangat nyaman.
"Terimakasih banyak. Sudah menjaga dan menemani Amanda." ucap Tuan Joshua setelah makan malam usai.
"Anda tidak perlu sungkan Tuan. Itu memang sudah tugas dan kewajiban kita." papar Zea.
"Papa tahu, mereka baik banget sama Amanda. Semenjak ada mereka, Amanda tak pernah kesepian." tutur Amanda tersenyum tulus.
"Sudah kewajiban kami Nona." ucap Zea dengan sopan.
Amanda menyenggol lengan Zea. Karena saat ini, Amanda dan Zea duduk berdampingan. "Idih,,, kamu kenapa. Biasanya juga pecicilan." ucap Amanda jujur.
Zea hanya bisa tersenyum kaku mendengar perkataan Amanda. Zea tahu, jika kehadirannya bersama dengan saudara kembarnya tidak di inginkan oleh Nyonya Lita.
Berbeda dengan Tuan Joshua. Beliau dengan tangan terbuka menerima keduanya. Sifatnya sama seperti Amanda. Baik dan ramah terhadap siapapun. Tanpa memandang status.
"Tapi kalian di bayarkan?" tanya Nyonya Lita, sekalinya membuka mulut. Langsung menanyakan perihal materi.
Zea dan Zeo tampak tenang dan tidak terpancing emosinya. Karena keduanya sudah terbiasa dengan hal seperti ini. "Iya Nyonya. Kami di bayar oleh Tuan Egi. Menggunakan uang Tuan Egi." jawab Zea dengan lugas, tersenyum manis.
Langsung Nyonya Lita memasang wajah kesal. Dirinya merasa di rendahkan dengan perkataan Zea. Dari perkataan Zea, seperti mengatakan jika dirinya tidak bekerja untuk keluarga Tuan Joshua.
"Apa kamu tidak mampu membayar mereka Amanda." tegas Nyonya Lita melirik ke arah Zea.
"Ma,,," tegur Tuan Joshua menaikkan nada suaranya.
"Jika sekarang Amanda kuat ma. Tidak dengan dulu. Sewaktu mama dan papa berada dalam genggaman tangan Revan." jelas Amanda menohok Nyonya Lita. Membuat Nyonya Lita terdiam.
Karena dulu, sang mama berniat menjodohkan Amanda dengan Revan. Beruntung Amanda menolak dengan tegas. Jika saja Amanda saat itu menerima di jodohkan dengan Revan. Entahlah, bagaimana kehidupannya sekarang.
"Egi sangat beruntung. Mempunyai bawahan seperti kalian. Hebat." puji Tuan Joshua.
"Bukan Tuan Egi yang beruntung. Namun kamilah yang beruntung. Bertemu dengan seseorang seperti Tuan Egi. Terlebih kami terima untuk bekerja dengannya." jelas Zeo.
__ADS_1
"Beliau adalah atasan yang sangat tegas dan bijaksana. Tuan Egi juga tidak pernah memperlakukan kami dengan sewenang-wenang. Beliau atasan yang sangat baik." sahut Zea.
Tuan Joshua tersenyum lega, mendengar jawaban dari keduanya. "Bagaimana jika saya membayar kalian lebih. Bekerjalah dengan saya." tawa Tuan Joshua dengan nada bercanda, namun serius.
"Pa..." rengek Amanda, merasa tidak enak dengan Zea dan Zeo.
"Terimakasih Tuan. Tapi seberapa besar dan banyaknya uang yang anda berikan pada kami. Kami akan tetap berada di bawah perintah Tuan Egi." papar Zea tersenyum, menolak dengan lembut.
"Kalian memang setia. Hahh,,, andai saja saya mempunyai bawahan seperti kalian. Pasti keluarga saya tidak akan seperti ini." ucap Tuan Joshua.
"Papa, jangan berbicara seperti itu." tegur Amanda.
"Amanda justru bersyukur dengan kejadian yang menimpa kita. Dengan begitu Amanda bertemu dengan banyak orang. Dan ternyata, masih ada orang baik di dunia ini." lanjut Amanda dengan binar kebahagiaan.
Amanda berpindah duduk, berada di samping sang papa. Memegang lengan Tuan Joshua. "Amanda belajar banyak hal dari kejadian ini. Amanda sekarang, meski sedikit. Sudah mengerti tentang bisnis. Dan mereka berdua gurunya Amanda." ucap Amanda dengan bangga.
Nyonya Lita tersenyum miring. "Apa semua bantuan kalian pada Amanda, murni pemikiran kalian sendiri?" tanya Nyonya Lita, seakan ingin menjatuhkan Zea dan Zeo.
"Bukan Nyonya, Tuan Egilah yang menghandle semuanya. Kami hanya menjalankan."ucap Zeo tersenyum ramah.
"Tapi tetap saja, kalian hebat. Hanya dengan Egi menyuruh kalian, kalian sudah bisa bergerak dengan sempurna." puji Tuan Joshua.
"Pa, Amanda sekarang juga mempunyai teman baik. Namanya Lily." ucap Amanda.
"Lily." tanya Tuan Joshua memastikan.
Amanda mengangguk cepat. "Lily, dia kekasih dari Egi." jelas Amanda. Nyonya Lita langsung memandang sang putri. Saat mendengar kekasih dari Egi.
"Kalian berhubungan baik?" tanya Tuan Joshua.
"Iya, dia juga selalu membantu Amanda. Papa tahukan, jika Egi itu orangnya dingin dan cuek. Jadi, jika Amanda ingin berbicara dengan Egi. Amanda akan meminta tolong pada Lily." jelas Amanda dengan antusias.
Tuan Joshua menengok ke arah sang istri. Tuan Joshua berharap sang istri bisa mencermati perkataan dari Amanda.
Dan tidak membicarakan, jika akan menjodohkan Amanda dengan Egi.
Keesokan harinya, semua sudah bersiap. Setelah dinyatakan sembuh, Tuan Joshua dan Nyonya Lita di keluarkan dari rumah sakit.
__ADS_1
Dan Egi tidak langsung membawa keduanya kembali ke negaranya. Egi ingin Amanda sendiri yang menjemputnya. Dengan begitu, musuh akan mengira jika selama ini. Yang menyembunyikan keduanya adalah sang putri mereka sendiri.