
Dengan pelan, Egi melajukan mobilnya kembali ke apartemen setelah mengantar Lily pulang. "Jika saja Ditya di sini." ucap Egi. Lantaran Ditya sekarang berada di negara kelahiran Egi.
"Lebih baik gue beli makanan." gumam Egi, lantaran dirinya belum makan malam. Egi mampir ke warung makanan. Bukan restoran dengan banyak bintang.
"Egi." panggil seorang perempuan yang berdiri di samping Egi, yang baru beberapa langkah berjalan dari mobil miliknya.
Egi diam tanpa kembali menyapa orang tersebut. Lantaran dia memang tidak mengenal orang tersebut. "Suaranya perempuan, tapi kenapa kayak laki-laki." ucap Egi dalam hati, melihat penampilan seseorang yang baru saja memanggil namanya.
"Hay." ucapnya melambaikan tangannya di depan wajah Egi yang masih menatapnya.
Dia tersenyum melihat Egi. "Pasti Egi juga nggak tahu siapa aku." batinnya.
"Aneh, malah senyum nggak jelas." batin Egi melihat orang di depannya membenarkan letak kacamatanya dan tersenyum.
Membuat Egi sedikit merinding. "Waras apa nggak sih ni orang." batin Egi.
"Aku Amanda." ucapnya lirih, sedikit mencondongkan badannya ke arah Egi. Membuat Egi melangkahkan kakinya ke belakang.
Tapi karena badannya tersenggol seseorang yang berjalan di belakangnya, membuat Amanda jatuh tepat di pelukan Egi. "Eehh.." ucap Amanda terkejut sekaligus kaget.
Amanda mendongakkan kepalanya, menatap wajah tampan Egi beberapa detik. "Bukannya minta maaf, malah pergi begitu saja." gumam Egi melihat seorang lelaki yang menyenggol Amanda pergi acuh, dan terus asyik berbincang dengan teman perempuannya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Egi membenarkan badan Amanda yang masih menempel padanya.
"Nggak apa-apa." ucap Amanda.
"Kamu,,, serius. Kamu benar, Amanda." tanya Egi karena masih tidak percaya.
"Aku malah senang kamu peluk." batin Amanda merasa bahagia.
"Hey..." seru Egi, karena Amanda malah tersenyum melihat ke arahnya. Membuat Amanda kembali sadar.
"Ehh,,, iya." sahutnya setengah gugup dan terkejut.
__ADS_1
Egi kembali menatap ke arah Amanda. "Pasti kamu heran ya, kenapa aku berpakaian seperti ini?" tebak Amanda melihat ekspresi Egi.
Amanda memakai kemeja laki-lakk dan celana kain kebesaran. Memakai sepatu lelaki. Bahkan dia menutupi rambut indahnya menggunakan wig lelaki.
Tak lupa, kacamata dengan kaca yang besar bertengger di pangkal hidungnya. Dan juga ada tahi lalat besar menempel di pipi kanan, sebelah bawah.
"Kamu mau makan, aku juga. Kita makan di dalam yuk, nanti aku jelasin." tanpa meminta persetujuan dari Egi, Amanda memegang lengan Egi dan menariknya masuk ke dalam warung.
Egi hanya diam, mengikuti kemana Amanda membawanya. Toh dirinya juga memang berniat untuk makan.
Keduanya memesan makanan sambil berbincang. "Aku sengaja berpenampilan seperti ini. Aku,,,, aku ingin sedikit kebebasan." cicit Amanda lirih.
"Kamu tahukan, papaku menyuruh Revan untuk menjagaku. Tapi dia sungguh keterlaluan. Dia mengikuti kemanapun aku pergi." imbuh Amanda kesal.
Egi menyuapkan makanan sambil memandang ke arah Amanda yang sedang bercerita. "Maksudnya selain kamar dan tempat wanita." jelas Amanda.
Dirinya tidak ingin Egi salah paham dengan perkataannya. Padahal Egi juga tidak mempermasalahkannya. Semua punya hak dan privasi. Dan Egi tidak ingin mencampuri urusan orang.
Amanda menatap ke arah Egi yang lahap memakan makanan di depannya. "Dia kaya, tapi masih mau makan di tempat seperti ini." ucap Amanda dalam hati merasa takjub.
Amanda jadi kesal, teringat saat Revan melarangnya untuk makan di tempat seperti ini. Dia pasti akan mengajak Amanda makan di restoran berbintang banyak.
Dengan banyak pelayang yang mengelilinginya. Yang selalu melayani mereka. Mengambilkan makanan untuk di taruh di atas piring mereka. Sungguh konyol.
Dengan alasan yang cukup klasik. Apalagi kalau bukan kebersihan dan keamanan. Revan menggunakan alasan tersebut. Sungguh menjengkelkan.
Dan yang lebih parah, Revan selalu meminta ruangan VVIP. Dan yang makan hanya dirinya dan Revan. Apabila Amanda menolak, pasti dia akan mengadu pada papanya. Menyebalkan.
Dia akan melarang Amanda berbelanja di toko baju yang menurutnya tidak berkelas untuk dipakai dan menempel di badan Amanda.
Dia menginginkan semua yang ada pada diri Amanda adalah barang bermerk. Dengan harga fantastis. Padahal Amanda tidak pernah mempermasalahkan berapa harga baju, atau perlengkapan lainnya yang dia pakai.
Boneka. Amanda merasa Revan menganggapnya seperti boneka. Dan sialllnya, papa Amanda begitu percaya pada Revan.
__ADS_1
Padahal Amanda sudah sering berbicara pada sang papa. Jika dia tidka nyaman bekerja dnegan Revan. Tapi entah cara apa yang di pakai Revan.
Papanya lebih percaya pada Revan dari pada pada Amanda. Yang notabennya anaknya sendiri. Amanda merasa lelah.
Akhirnya dia tidak lagi mengatakan apapun, atau mengeluh apapun pada papanya. Karena pasti akan membuang-buang waktu dan tenaga, juga pikiran.
Sejak saat itulah,hubungan Amanda dan sang papa tidak lagi seperti dulu. Kini hubungan keduanya renggang. Bahkan Amanda hanya akan berkata jika sanga papa bertanya. Itupun hanya dnegan jawaban singkat.
Teringat Revan, mood Amanda benar-benar menjadi berantakan. Dia menerawang jauh ke depan. Dengan menancap-nancapkan garpu dan sendok di atas piringnya.
"Kalau tidak suka kenapa makan disini." tegur Egi melihat tingkah Amanda.
"Hah.." ucap Amanda kaget, Egi malah memandang ke arah piring milik Amanda. Terlihat tatapan Egi sangat kesal dan tidak suka.
Segera Amanda mengikuti kemana arah pandangan Egi. Seketika dirinya sadar jika membuat kesalahan. "Maaf, aku suka. Tadi hanya terbawa emosi dan perasan." ucap Amanda merasa bodoh.
Bisa-bisanya dia melakukan hal tersebut di depan Egi. Segera Amanda melahap makanan di piringnya.
Ting... sebuah ponsel terdengar berbunyi. Menandakan ada pesan masuk ke dalamnya. Segera Amanda mengambil ponselnya. Amanda hanya nyengir dan menggaruk kepalanya yang tertutup dengan wig.
"Ponsel kamu bunyi." ucap Amanda memberitahu Egi, lantaran ponsel Amanda memang tidak di aktifkan oleh pemiliknya. Amanda tidak ingin keberadaannya di ketahui oleh Revan dan anak buah papanya yang lain.
"Eg,, ponsel kamu tadi bunyi." ucap Amanda sekali lagi.
"Ckkk.. Mengganggu." ucap Egi dengan wajah kesal.
SUDAH SAMPAI APARTEMEN...
Ternyata Lily yang mengiriminya pesan tertulis. Segera Egi membalasnya dengan singkat.
BELUM...
Dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku pakaiannya.
__ADS_1
Amanda tersenyum samar. Dia dapat menyimpulkan, jika Egi tidak senang jika ada orang yang yang mengganggunya saat dia sedang makan.
Amanda manggut-manggut pelan dan kembali melahap makanannya.