
"Kenapa kakak tidak menginap di sini saja." pinta Lila, saat Egi hendak pamit untuk pulang ke apartemennya.
"Ckk,, yang benar saja. Jangan bicara asal, Lila. Papa dan mama sedang tidak ada di rumah." timpal Lily tidak suka dengan perkataan sang adik.
"Justru itu, kak Egi bermalam di sini. Sekalian menjaga calon istri dan calon adik iparnya." papar Lila menjelaskan.
"Tidak bisa." tegas Lily tidak mengizinkan.
Lila bersedekap. "Alah,,,, bilang saja jika sebenarnya kakak mengharap kak Egi bermalam di sini. Iyakan,,, tidak perlu berbohong kakak." goda Lila, memainkan kedua alisnya naik turun.
"Kamu apa-apaan. Nggak ada." elak Lily dengan bibir manyun.
Egi hanya diam sambil tersenyum melihat Lily dan Lila yang sedang berdebat di depannya. "Paling kakak takutkan kalau kak Egi bermalam di sini. Hayo mengaku..." goda Lila menjawil dagu sang kakak.
Lily mengelap dagunya dengan kasar. "Apa sih. Aneh. Apa yang harus kakak takutkan." kilah Lily tak mau kalah berdebat dengan Lila.
"Kakak takut nggak bisa tidur. Terus pura-pura tidur sambil berjalan. Terus masuk deh ke kamar kak Egi." ujar Lila mengarang cerita dengan ekspresi lucu.
Prok,,, prok,,, Lily bertepuk tangan. "Hebat, hebat. Kenapa kamu tidak masuk jurusan bahasa atau sastra saja. Kelihatannya kamu pandai mengarang cerita bebas." dengus Lily sebal sambil tersenyum jengkel.
"Kenapa bawa-bawa jurusan. Lalu kenapa kakak tidak masuk jurusan,,, apa ya...." Lila mengerutkan keningnya seolah sedang berpikir, kata apa yang akan di keluarkan dari mulutnya.
"Bawelll...." Lily meremas bibir Lila yang monyong.
"Kakakkk....!!" seru Lila mengusap kasar mulutnya. "Kotor kakk..." lanjut Lila cemberut.
"Aku pulang dulu." Egi akhirnya membuka suara, membuat kedua kakak adik tersebut diam.
Lily mengangguk. "Jangan kak. Nanti kasihan kak Lily. Kangen sama kakak." celetuk Lila.
Segera Lila berlari menjauh dari jangkau sang kakak. Apalagi kedua mata Lily sudah melotot memandang ke arah dirinya.
Lily mengantar Egi sampai di teras rumah. "Jika ada apa-apa segera hubungi aku." Egi mengelus pipi Lily dengan lembut, lalu mencium pipi Lily yang satunya.
"Tenang saja, aku sudah menyuruh beberapa bawahanku berjaga di sekitar rumah kamu." jelas Egi. Lily tersenyum, dan segera memeluk Egi.
__ADS_1
"Hati-hati." Lily menatap Egi dengan penuh cinta. Egi mengurai pelukan mereka, Egi mengangguk kecil dan tersenyum sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Egi mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Saat ini dirinya sedang sendirian tanpa Beni di sampingnya.
Egi menghentikan mobilnya dengan perlahan. Sebuah motor sport berhenti melintang di tengah jalan. Dengan seorang lelaki duduk di atasnya. Membuat Egi harus menghentikan laju mobilnya.
Sepertinya dia sengaja menunggu kedatangan Egi. Dan pastinya dia mengetahui jika Egi akan melewati jalan tersebut.
Egi menghela nafas kasar. "Mau apa lagi dia. Vincen." ucap Egi, keluar dari dalam mobilnya.
"Apa lahan parkir sekarang memang sudah pindah di sini." sindir Egi yang berdiri dengan menyenderkan badannya di kap mobil.
"Tinggalkan Lily." ucap Vincen to the point, turun dari motornya. Berjalan menuju ke arah Egi.
Egi tersenyum sinis. "Anda salah alamat Tuan. Jika Lily sendiri yang menjauh, dengan senang hati. Aku akan meninggalkannya." ucap Egi lugas.
Vincen maju dan langsung meraih kedua kerah baju Egi. Namun Egi masih tenang. Seolah apa yang di lakukan oleh Vincen, bukan sesuatu yang patut dia khawatirkan.
"Bedebah sialan!! Aku tahu kamu lelaki yang tidak punya hati. Sebelum menyesal. Jauhi Lily." gertak Vincen.
Egi memandang tenang pada Vincen. Bahkan Egi sama sekali tidak terpancing dengan tindakan yang di lakukan oleh Vincen.
"Aku memang lelaki yang tak punya hati. Dan seharusnya kamu juga mengetahuinya." ujar Egi membenarkan perkataan Vincen.
"Jadi, jangan pernah berurusan dengan lelaki seperti aku. Karena aku tak punya hati, dengan mudah membuat semua milikmu luluh lantah." ucap Egi menyeringai dan penuh penekanan.
Egi membalikkan badan, berniat masuk kembali ke dalam mobil. Meladeni Vincen hanya membuang waktu dan tenaga. Sangat tidak penting untuk Egi.
Tapi siapa yang menyangka, Vincen yang di kendalikan oleh amarah menyerang Egi dari belakang.
Egi dengan mudah menangkap tangan Vincen yang sudah menjulur ingin memukul ke arahnya dengan posisi di belakang tubuhnya dengan membalikkan badannya kembali.
Memang, insting seorang Egi tidak perlu di ragukan lagi. Kewaspadaannya juga tidak perlu di pertanyakan.
Egi memelintir lengan Vincen, melepaskannya, lalu menendang perutnya. Membuat tubuh Vincen mundur ke belakang beberapa langkah.
__ADS_1
"Kamu bukan lawanku. Jadi ku ingatkan, jangan pernah membangkitkan iblis yang sedang terlelap." ancam Egi menatap tajam ke arah Vincen yang sedang memegang perutnya.
"Haa....." Egi tertawa lepas, membuat Vincen merasakan hawa lain di sekitarnya. Egi menatap Vincen dengan tatapan remeh.
"Ingin memiliki Lily. Payah." ejeknya tersenyum miring. Meninggalkan Vincen, dan masuk ke dalam mobilnya.
"****..." umpat Vincen. "Kekuatannya besar sekali." ucap Vincen masih memegangi perutnya yang masih sakit, hanya karena satu tendangan dari Egi.
Seringkali Vincen berkelahi atau adu kekuatan dengan musuhnya. Namun baru kali ini Vincen merasakan tendangan yang begitu kuat. Dengan hanya satu kali tendang.
"Ingin bekerja sama." ucap seseorang yang ternyata sudah melihat Egi dan Vincen bersitegang sedari tadi.
Vincen menegakkan tubuhnya, meski perutnya masih merasakan sedikit sakit. "Tenang saja. Sepertinya kita dalam satu perahu." ucapnya saat melihat Vincen menatap ke arah dirinya dengan tatapan waspada.
Dia menyodorkan tangan pada Vincen. "Saya adalah bawahan Tuan Ebara." ucapnya tersenyum ramah.
Vincen masih diam. Bahkan dia tidak membalas uluran tangan dari lelaki tersebut. Membuat lelaki tersebut kembali menarik tangannya yang masih menggantung di udara dan tersenyum kecut.
"Oke. Lily. Egi. Sepertinya kamu tahu apa yang sedang Tuan kami alami. Dan ya,,, sesuai dugaan kamu. Egi dan Tuan Ebara mempunyai masalah. Dan Egi, dengan liciknya menggunakan perasaan cinta sang kekasih. Lily. Sebagai alatnya. Hebat bukan." ucapnya berbohong, guna meracuni pemikiran Vincen.
Namun Vincen masih terdiam dan menatapnya dengan tajam. "Huffttt,,, poinnya hanya satu. Lily mencabut tuntutannya pada Tuan Muda Nando. Dan saya yakin, Egi akan dengan mudah kami kalahkan." imbuhnya.
Dia mengeluarkan sebuah kartu nama. "Jika kamu benar-benar mencintai Lily." ucapnya, menyodorkan kartu nama pada Vincen.
Dengan ragu-ragu, Vincen mengambilnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. "Semua kuncinya hanya pada Lily. Perempuan yang kamu cintai. Jika kamu setuju, hubungi aku. Kita akan membicarakan langkah selanjutnya." ucapnya, meninggalkan Vincen.
Langkahnya terhenti, dan kembali membalikkan badan. "Satu lagi. Kita tidak akan menyakiti Lily. Dan pasti, Lily akan berterimakasih pada kamu. Jika kebusukan Egi terbongkar. Dan, ya..... kamu bisa berpikir sendiri. Apa yang akan terjadi selanjutnya." ucapnya, melambaikan tangan dan melanjutkan langkahnya.
Lelaki tersebut tersenyum licik. "Orang yang di butakan oleh cinta memang bodoh. Kita lihat saja. Pasti dia akan menghubungiku." ucapnya dalam hati.
"Tidak sia-sia. Aku membuntuti Lily dari kemarin." ucapnya, memandang Vincen dari dalam mobil.
Tuan Ebara memerintahkan bawahannya untuk membuntuti Lily, tapi tidak untuk bertindak. Karena Tuan Ebara bukan lelaki bodoh. Pasti Egi sudah memperketat keamanan untuk Lily beserta keluarganya.
Dan juga para korban lain. Yang sekarang menjadi saksi. Terlebih sampai sekarang mereka belum menemukan keberadaan Nando. Dan Tuan Ebara juga pasti bisa menebak, kemana perginya Nando.
__ADS_1