
Lily meregangkan ototnya. Tangannya mengambil ponsel yang berada di sampingnya. Bukan untuk melihat pukul berapa saat ini. Melainkan apakah ada balasan dari Egi atau tidak semalam saat dirinya tertidur.
Nihil. Tidak ada balasan pesan dari Egi. Bahkan, pesan yang dia kirim saja tidak Egi baca.
Lily kembali menaruh ponselnya. Matanya memandang ke atas. "Semangat Lily. Kamu harus bisa mendapatkan hati Egi. Demi membatalkan perjodohan." batinnya.
Padahal, tanpa Lily sadari dirinya sudah menyukai Egi. Tapi Lily tidak mau mengakuinya. Dia selalu membodohi dirinya sendiri. Beralasan dia melakukan semua karena ingin membatalkan perjodohan. Bukan karena alasan yang lain.
"Mau kemana?" tanya Nyonya Tya melihat Lily tampak rapi.
Lily mendaratkan pantatnya di kursi meja makan. "Lila mana?" tanya Lily menanyakan keberadaan sang adik.
"Lila sudah berangkat. Katanya ada gladi bersih untuk acara nanti malam."
"Acara apa ma?" tanya Lily sembari menggigit roti yang dia pegang.
"Lila akan membuka acara fashion show yang akan digelar nanti malam, dengan penampilannya." jelas Nyonya Tya.
"Emm..." gumam Lily menganggukkan kepala.
"Nanti malam kamu juga datang. Kita melihat Lila bersama. Inikan pertama kalinya Lila bermain di atas panggung."
"Siapa bilang pertama kali. Di kampus, Lila selalu tampil jika ada acara." ujar Lily.
"Beda sayang. Ini di saksikan seluruh dunia. Karena acara ini akan di ikuti oleh para desainer dari seluruh dunia. Yang sudah di seleksi sebelumnya." ucap Nyonya Tya.
Tampak raut wajah Lily berubah. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Dan Nyonya Tya melihat perubahan tersebut.
"Kamu juga harus belajar sungguh-sungguh. Biar jadi pengacara hebat." ucap Nyonya Tya menepuk pelan pundak Lily.
Lily hanya tersenyum memandang sang mama. "Lily pergi dulu ma. Mau ke rumah Mauren. Setelah itu, langsung masuk kuliah. Lily ada kelas sore." jelas Lily.
"Biar di antar sopir sayang." suruh Nyonya Tya khawatir.
"Tidak perlu ma."
"Baiklah. Jangan lupa, nanti malam kita akan melihat Lila." ucap Nyonya Tya mengingatkan.
"Iya ma." segera Lily meninggalkan rumah dan melajukan mobilnya ke rumah Mauren.
Nyonya Tya bergegas pergi ke depan setelah mendengar suara mobil Lily meninggalkan halaman rumah. "Pak, kalau ada apa-apa segera hubungi saya." perintah Nyonya Tya.
Nyonya Tya menyuruh salah satu petugas keamanan di rumahnya untuk mengikuti Lily kemanapun dia pergi.
__ADS_1
Padahal, tanpa sepengetahuan dirinya. Tuan Ardes sudah menyuruh orangnya untuk memantau Lily kemanapun dan dimanapun dia pergi.
Tuan Ardes tidak ingin kejadian yang menimpa putrinya terulang lagi. Bukan hanya Lily, Tuan Ardes juga menyuruh orangnya untuk mengawasi Lila. Karena mereka berdua adalah putri-putri kesayangan Tuan Ardes dan Nyonya Tya.
"Maaf ya, kemarin aku benar-benar tidak tahu kamu menelpon. Ponselku tertinggal di rumah. Dan aku menjemput saudaraku di bandara. Aku pulang larut malam." jelas Mauren.
"Saudara?" tanya Lily.
"Iya. Tapi dia nggak mau tinggal di sini. Dia tinggal di apartemen. Sendiri."
"Memang berapa umurnya?"
"Seusia kita. Laki-laki. Tampan." jelas Mauren antusias.
"Bagaimana?" tanya Mauren mengedipkan matanya pada Lily.
"Apanya?" tanya Lily polos, tidak mengerti.
"Kamu ganti haluan. Aku akan minta tolong pada saudaraku. Lepaskan Egi." saran Mauren.
"Mana bisa!!" tukas Lily dengan raut wajah tidak senang.
"Ada apa?" tanya Lily, melihat Mauren menatapnya dengan tatapan aneh.
Lily tertawa terbahak-bahak. "Nggaklah, bukan seperti itu." kilah Lily.
"Oke, sekarang aku jelaskan." ucap Lily saat Mauren melihatnya dengan tatapan tidak percaya.
"Aku sudah mengenalkan pada papa, jika Egi adalah kekasihku. Terus tiba-tiba aku mengenalkan lelaki lain, sebagai penggantinya. Coba kamu pikir. Apa papa tidak akan curiga." jelas Lily.
Mauren diam sejenak. "Benar juga sih." gumam Mauren.
"Terserah kamu sajalah." imbuh Mauren.
"Oh iya. Kenapa kamu menghubungiku?" tanya Mauren.
"Sebenarnya........" Lily menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Tapi Lily hanya menceritakan pokoknya saja.
Dirinya masih sedikit merasa trauma jika harus menceritakan secara mendetail apa yang terjadi padanya.
Mauren segera memegang telapak tangan Lily, dengan mata berkaca-kaca. Tampak jelas jika Lily seperti masih trauma.
"Sudah. Jangan kamu teruskan." ucap Mauren memeluk sahabatnya. "Maaf. Aku benar-benar tidak berguna sebagai sahabat." sesal Mauren. Karena ponselnya tertinggal di rumah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Lihatkan, aku baik-baik saja." Lily mengurai pelukannya pada Mauren.
"Beruntung Egi datang tepat waktu." ucap Mauren bersyukur.
"Iya." sahut Lily singkat.
Saat mereka tengah asik berbincang di belakang rumah, seorang lelaki menghampiri mereka.
"Ren..." panggilnya, setelah berada dekat dengan Mauren.
"Vin, sini." ucap Mauren menyuruh lelaki tersebut mendekat ke tempatnya dan juga Lily.
"Ly, kenalkan. Dia Vincen, saudaraku yang baru saja aku ceritakan. Dan dia Lily, sahabat baik ku." jelas Mauren saling memperkenalkan.
Lily dan Vincen hanya saling pandang dan melempar senyum sebagai awal perkenalan mereka.
Segera Lily mengalihkan pandangannya. Berbeda dengan Vincen, dia masih menatap ke arah Lily.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang." ajak Lily.
"Ayo. Oh iya Ly, Vincen satu fakultas sama kita." jelas Mauren, yang di sambut senyum oleh Lily.
"Kebetulan hari ini dia masuk pertama kali. Dan dapat jam sore. Sama seperti kita." imbuh Mauren.
Lily memang tipe orang yang tidak mudah akrab dengan orang asing. Dia selalu menjaga jarak. Tapi entah kenapa, dengan Egi, Lily merasa nyaman. Dan semua itu tidak di sadari oleh Lily.
Ketiganya berangkat ke tempat kuliah bersama. Dengan Lily dan Mauren menaiki mobil milik Lily. Sementara Vincen mengendarai motor sport miliknya yang baru saja di beli.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Egi menyuruh Beni untuk mengantarkan makanan pada sang mama. "Nanti kamu taruh saja di meja. Mungkin mama masih tidur. Dan jangan berisik." ucap Egi.
"Baik Tuan." ucap Beni.
Sementara dirinya dan Selly akan menemui Tuan Ardes untuk membicarakan kerjasama mereka. "Apa semua sudah kamu persiapkan?" tanya Egi.
"Sudah Tuan." ucap Selly berjalan di belakang Egi. Karena mereka akan bertemu dengan Tuan Ardes di perusahaan Tuan Ardes.
"Silahkan Tuan Egi. Tuan Ardes menunggu anda di ruangannya." ucap asisten Tuan Ardes yang ternyata sudah menunggu kedatangannya di lantai bawah.
Asisten Tuan Ardes membukakan pintu untuk Egi. "Selamat datang." ucap Tuan Ardes berdiri dan menjabat tangan Egi.
"Terimakasih."
__ADS_1
Pandangan Egi mengarah ke kursi empuk. Dimana di sana duduk seseorang dengan senyum di wajahnya melihat ke arah Egi.