
"Sudah kamu pastikan, jika Bob menerimanya. Dan membacanya." tanya Egi pada Beni.
"Sudah Tuan." jawab Beni.
Beni sudah menyusupkan anak buahnya ke dalam organisasi milik Bob. Dan pastinya, bukan sembarang orang. Karena dia harus mempunyai kemampuan dan keteguhan mental di atas rata-rata
Egi tidak menuruti keinginan Lily untuk menunjukkan pada Revan dan Bob jika dirinya adalah orang yang membantu Amanda.
Egi merasa dirinya hanya perlu mengadu domba Revan dan Bob. Maka semuanya akan beres dan lancar. "Bagus, pasti sebentar lagi Bob dan Revan akan berselisih." ucap Egi tersenyum penuh makna.
"Ditya, apakah kamu sudah memberitahunya?" tanya Egi.
"Sudah Tuan." jawab Beni. Karena sewaktu Egi menyuruhnya, dia segera melakukan apa yang di perintahkan oleh atasannya tersebut.
Egi mengangguk pelan. "Ditya akan melakukan bagiannya dengan baik. Pasti Ditya akan merasa senang. Pada akhirnya Bob akan berlutut di hadapannya." kekeh Egi, mengingat dendam sahabatnya pada Bob.
Egi sudah merencanakan semuanya dengan baik dan matang. Saat ini, dia sedang berada di dalam mobil yang tengah berhenti di depan perusahaan Amanda. "Apakah Tuan ingin turun?" tanya Beni dengan hati-hati.
"Tidak perlu." jawab Egi. Dirinya hanya akan melihat dari dalam mobil. Egi yakin, jika Zea dan Zeo beserta bawahannya yang lain dapat menyelesaikannya dengan baik.
__ADS_1
Beni hanya diam, tapi gerak matanya tetap mengawasi sekitar dengan mata elangnya. Tentu saja dia tidak akan membiarkan Tuannya dalam bahaya. Terlebih saat ini mereka berada dalam suasana tegang
Revan berjalan maju, hendak menyerang Amanda. Namun sayang, kesigapan dan kecepatan Zeo bisa menghentikannya dengan mudah.
Dengan sekali dorongan, Zeo membuat Revan melangkahkan kakinya ke belakang. Beruntung badan Revan di tahan oleh orang yang berada di belakang Revan.
Jika tidak, sudah dapat di pastikan. Pasti Revan akan terjatuh. Zeo memandang Revan dengan tatapan menghina dan remeh. Dan kembali berdiri di samping Amanda.
"Ada apa pen-cu-ri. Upssss." Amanda menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Pencuri, kata yang terlalu halus. Maling. Memang maling. Orang rendahan sepertimu, memang pantas berada di bawah kakiku." ejek Amanda penuh makna.
"Penjilat. Ingat saya bukan papa. Yang akan dengan mudah kamu tipu dengan tampang polos tidak bersalah mu itu." geram Amanda.
Dan sekarang, Revan sedang menerka-nerka siapa Zea dan Zeo. Bahakan Revan berpikir jika keduanya adalah anak buah Bob.
"Awas saja, jika sampai Bob mengkhianati ku. Aku akan membuatnya hancur." ucap Revan dalam hati. Meskipun dirinya tahu, untuk sekedar menyentuh Bib daja dia tidak akan bisa.
Zeo tersenyum samar. Dirinya seolah tahu apa yang ada di benak Revan. "Bodoh. Pasti sebentar lagi mereka kan menjadi lawan. Tenang saja Tuan, saya akan membantu anda dari sini. Menyalakan api di antara arang." ucap Zeo dalam hati.
__ADS_1
"Tidak bisa, kami tidak mau di pecat."
"Iya, kami tidak salah apa-apa!!"
"Jika Nona Amanda melakukannya. Yakni memecat kami, kami bisa melaporkan pada komnas HAM."
"Benar, apalagi kami di pecat tanpa pesangon."
Terdengar suara riuh, akibat penolakan dari karyawan karena pemecatan besar-besaran yang di lakukan oleh Amanda.
Tanpa mereka semua duga, berpuluh-puluh orang lelaki dengan menggunakan kacamata hitam dan memakai setelan jas lengkap dan rapi masuk ke dalam perusahaan. Dan bersiap di sekitar Amanda.
Amanda beserta Zea dan Zeo bisa menebak siapa mereka. Pastinya mereka adalah bawahan dari Egi. Dan mereka datang karena perintah Egi.
Semua karyawan memandang Amanda dengan tatapan kagum, bagi mereka yang setia dan loyal. Tapi, bagi para pengkhianat. Mereka tampak cemas dan gelisah.
Zea maju ke depan. Menghamburkan lagi beberapa kertas berisi tulisan yang berbeda isinya dengan kertas yang di berikan pada mereka awal tadi.
Di kertas tersebut tertulis dengan jelas, siapa saya karyawan yang berkhianat pada perusahaan Amanda. Dengan cara memakai uang perusahaan tanpa meminta izin pada pemiliknya. Atau korupsi.
__ADS_1
Semua wajah mereka memucat seketika. Terlebih, nominal yang tertera tidak main-main. "Silahkan melapor pada komnas HAM. Saya, sebagai pemimpin perusahaan sangat amat menantikan." sindir Amanda dengan senyum mengejek.
Zeo maju selangkah di depan Amanda. "Kemasi barang kalian. Dan keluar dari perusahaan. Sekarang." ucap Zeo dengan tegas.