PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 29


__ADS_3

"Ternyata. Hanya orang miskin yang ingin menjadi kaya dengan jalan pintas." cibir Egi.


Karena ternyata Revan adalah lelaki yang berasal dari pinggiran kota. Dengan pekerjaan kedua orang tuanya adalah berkebun.


Tapi beruntung Revan mempunyai kecerdasan di atas rata-rata. Hingga dia mendapatkan pendidikan hingga bangku kuliah melalui jalur beasiswa.


Namun sayang, kepintaran yang dia miliki telah salah dia gunakan. Dan yang lebih parah, Egi menyimpulkan. Jika Revan ingin menguasai seluruh aset kekayaan dari keluarga Amanda.


Egi segera membuka laptopnya. Mencari tahu semua kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Amanda. "Pantas saja." ucap Egi.


Bahkan ada beberapa properti keluarga Amanda yang sudah berpindah tangan atas nama Revan. "Benar-benar pandai mengambil peran." gumam Egi.


Egi mengangkat alisnya. Saat membaca salah satu lembar kertas yang di berikan Beni. "Ternyata dia sedikit berbahaya." ucap Egi.


Karena Revan masuk salah satu anggota bawah tanah yang terkenal kejam dan bengis. "Pantas saja dia berani bertindak sejauh ini." gumam Egi.


Karena ada seseorang yang membantunya dari belakang. "Satu-satunya cara adalah mengalihkan semua aset Tuan Joshua pada Amanda." ucap Egi.


"Tapi berarti, Amanda akan berada dalam bahaya." imbuh Egi.


Egi terdiam sejenak. "Apa aku harus masuk sejauh ini." batin Egi.


Jika Egi membantu Amanda, itu artinya dirinya akan berurusan dengan seseorang yang menjadi rumah untuk Revan. Orang yang selama ini berada di belakang Revan.


Dan Egi yakin, jika Revan membagi hasil harta yang di peroleh dari keluarga Amanda dengan orang tersebut.


Dan lagi, Egi juga mencurigai jika Revan hanyalah pion yang di pakai oleh orang tersebut. Dengan kata lain, Revan adalah boneka hidup miliknya.


"Jika benar perkiraanku, Revan hanyalah orang yang sok pintar tapi dia itu sangat bodoh." gumam Egi.


Karena pasti orang tersebut meracuni otak Revan dengan sesuatu, hingga Revan melakukan semuanya. Revan yang bertindak. Dan dia mendapat bagian kekayaan keluarga Amanda hanya dengan memandang saja.


Klekkk... Seorang lelaki masuk ke dalam ruangan Egi dengan santai. Dan langsung mendaratkan pantatnya di kursi empuk dalam ruangan Egi.


Egi hanya memandangnya. "Apa kabar?" tanya Ditya mengeluarkan rokok dari dalam sakunya.


Menaruhnya di atas meja. Sebelum itu, dia mengambil satu batang. Memasukkan ujung rokok ke dalam mulutnya, dan menyalakannya. Tak lama, kebulan asap keluar dari celah bibirnya yang tebal dan seksi milik Ditya.


"Kapan datang?" tanya Egi, masih berada di kursi single kebesarannya.


"Tadi malam." jawab Ditya santai.


Egi tersenyum mengejek. "Pasti gagal." tebak Egi, menyindir kepulangan Ditya.


"Ella hamil." ujar Ditya. Segera Egi berdiri dari duduknya dan menghampiri Ditya. "Jangan bercanda." ucap Egi.


"Ella hamil. Diakan punya suami." jelas Ditya.


Egi terlihat sedikit tenang, ikut menyandarkan tubuhnya di kursi. "Pasti sekarang dia sangat bahagia." gumam Egi, dengan ekspresi wajah terlihat senang, tapi dipaksakan.


"Patah hati." ejek Ditya.


"Siapa? Kamu?" tanya Egi.


"Aku." Ditya menunjuk ke arah wajahnya sendiri. "Bukan. Tapi kamu." imbuh Ditya, beralih menunjuk tepat di depan wajah Egi.


Egi memukul keras jari Ditya di depan wajahnya. "Santai, aku sudah tahu. Jika kamu, juga mencintai Ella." ujar Ditya dengan santai.


Egi tidak terkejut, jika Ditya mengetahuinya. "Iya, dulu." ucap Egi dengan tenang.


"Jangan pernah berkata dulu. Jika kenyataannya sekarang dia masih ada di sini." ucap Ditya, dengan jari menunjuk ke arah dada Egi.


"Memang masih ada. Sedikit. Tapi lebih baik aku mundur. Dari pada kehilangan dia, sebagai sahabat." ungkap Egi tersenyum tulus.


"Sahabat. Heh,,, itulah hal terakhir untuk seseorang yang sedang patah hati. Tapi menolak mengakui." cibir Ditya.


"Sebentar." Egi segera mengambil lembaran kertas yang dia baca sebelum Ditya datang.


"Apa ini?" tanya Ditya, saat Egi menyerahkan lembaran kertas tersebut.


"Ckk,, kamu bukan orang bodohkan." ucap Egi.


Dengan seksama dan teliti, Ditya membaca satu-persatu lembaran kertas tersebut sambil merokok dengan santai.


Ditya menatap ke arah Egi dengan tatapan menyelidik. "Kamu punya masalah dengan Bob?" tanya Ditya.


"Tidak?" ucap Egi. "Bukan aku, tapi ada seseorang yang meminta pertolongan padaku." imbuh Egi.


"Re-van." Ditya membaca biodata dan semuanya tentang Revan. "Bukankah dia bekerja untuk perusahaan Tuan Joshua." gumam Ditya, terdengar Egi.

__ADS_1


"Tepat." kata Egi.


"Wooww... Ini." ucap Ditya, saat mengetahui ada beberapa aset kekayaan Tuan Joshua yang sudah berpindah tangan atas nama Revan.


"Jelaskan." tegas Ditya, dirinya merasa penasaran. Kenapa Egi sampai mencari tahu tentang mereka. Apalagi Bob. Seorang pimpinan mafia, yang terkenal licik, kejam, dan juga bengis.


"Amanda. Putri Tuan Joshua datang padaku. Dan kamu pasti tahu, alasan kedatangannya padaku." ucap Egi.


"Meminta tolong. Karena dia tidak mempunyai kekuatan dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia, hanya dijadikan boneka oleh Re-van." ucap Ditya, melempar lembar kertas berisikan keterangan Revan dengan kasar ke atas meja.


Egi manggut-manggut. "Apa yang kamu peroleh?" tanya Ditya.


Karena Ditya mengira jika Egi akan mendapat imbalan besar dari Amanda. Dan pastinya sangat menggiurkan. Oleh karena itu, Egi menolongnya.


Egi mengangkat kedua bahunya dengan santai. Membuat Ditya melongo tidak percaya. "Gila." seru Ditya, mematikan rokoknya ke dalam asbak di depannya.


"Hanya rasa kasihan. Tidak lebih." jawab Egi enteng.


"Rasa kasihan. Yang akan membawa kamu ke dalam pertarungan besar." timpal Ditya.


"Itu juga yang sedang aku pikirkan. Berhenti sampai di sini. Atau masuk sekalian ke dalam." ucap Egi, memandang ke arah Ditya.


"Terserah." ucap Ditya.


Ting,,,, terdengar suara dari ponsel milik Egi. Segera Egi melihatnya. Sebuah laporan dari orang suruhannya. Mengenai perkembangan kesehatan Tuan Joshua di negeri tetangga.


"Mereka merencanakan sejauh ini." ucap Egi, masih menatap ke layar ponselnya.


Ditya dan Egi saling berpandangan. "Kondisi kesehatan Tuan Joshua semakin memburuk. Bahkan sekarang, Nyonya Joshua juga ikut berbaring di rumah sakit. Tapi, Amanda tidak mengetahuinya sama sekali. Yang dia tahu, kedua orang tuanya dalan keadaan sehat. Dan papanya berangsur-angsur sembuh." ucap Egi, menjelaskan pada Ditya.


Egi dan Ditya memastikan jika kedua orang tua Amanda pasti tidak akan selamat. Selama mereka masih berada di rumah sakit tersebut. Dan akan pulang hanya tinggal jasadnya saja.


Karena pasti di rumah sakit tersebut, Bob sudah membayar seseorang untuk membunuh Tuan Joshua beserta sang istri secara perlahan.


"Kasihan juga dia." ucap Ditya. "Apa tidak ada orang lain yang bisa membantunya. Saudaranya mungkin." tanya Ditya.


"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu. Tapi, jika ada seseorang yang bisa di andalkan. Dia tidak akan datang padaku." sahut Egi.


"Sejak kapan Revan bekerja pada Tuan Joshua?" tanya Ditya.


"Sudah lumayan lama. Sekitar tiga tahun." ucap Egi, seperti sedang mengingat sesuatu.


"Masih polos, atau pura-pura polos." timpal Ditya.


" Sebelum tinggal di negara ini. Aku dan Tuan Joshua sudah menjalin kerja sama. Hingga aku mendengar jika asisten Tuan Joshua meninggal. " imbuh Egi.


"Dan Revan menggantikannya." tebak Ditya.


Egi dan Ditya saling pandang. Seolah mereka berbicara lewat isyarat mata. Segera Ditya mengambil ponsel miliknya. "Cari tahu, kematian asisten Tuan Joshua sebelum Revan." perintahnya pada seseorang di ujung telepon.


Ditya tertawa setelah mematikan panggilan telepon tersebut. Membuat Egi memandangnya, menatap Ditya dengan pandangan aneh. "Kenapa kita jadi detektif. Tanpa bayaran." ucap Ditya.


Egi hanya menggeleng dan terkekeh. Ditya segera mengecek ponselnya. Dia menyeringai, saat ada notifikasi pesan tertulis dari orang suruhannya.


"Dia meninggal karena kecelakaan. Dia menyetir saat mabuk. Kecelakaan tunggal." ucap Ditya, dengan mata masih menatap layar ponselnya.


"Tidak mungkin." ujar Egi, membuat Ditya mengalihkan pandangan matanya.


"Dia tidak minum alkohol." imbuh Egi, teringat saat berada di sebuah perjamuan.


Mereka bertemu, serta berbincang ringan. Dan beliau mengatakan jika tidak pernah sekalipun meminum minuman yang beralkohol.


"Pasti Bob pelakunya." ucap Ditya menyimpulkan.


Tingg.... Terdengar lagi suara dari ponsel Egi. "Lily." batin Egi, segera membuka pesan tertulis yang di kirimkan oleh Lily.


Lily mengatakan jika dirinya pergi ke kuliah bersama Mauren. Serta saudara Mauren.


"Keras kepala." gumam Egi.


"Siapa?" tanya Ditya penasaran.


"Ckkk.. jaga batasan anda Tuan." ucap Egi, mengerlingkan sebelah matanya.


"Brengsek." Ditya memukul badan Egi dengan bantal sofa di sebelahnya. Membuat keduanya tertawa lepas bersama.


Tok,, tok,,.tok,, terdengar pintu di ketuk dari luar. "Masuk!!" ucap Egi menaikkan nada suaranya.


"Tuan, Nona Amanda ingin bertemu?" ucap Selly.

__ADS_1


"Sendiri?" tanya Egi memastikan, karena memang hari ini mereka tidak ada jadwal pertemuan.


"Iya." jawab Selly. Egi dan Ditya saling pandang.


"Suruh masuk. Dan jangan biarkan siapapun masuk setelah ini." perintah Egi.


Amanda masuk dengan membawa map di tangannya. Dengan pakaian menempel ketat di badannya. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Apalagi di tambah wajahnya yang cantik.


Mengundang jiwa petualang seorang Ditya muncul. Suiiit.... Bahkan Ditya bersiul sembari memandang Amanda dengan tatapan nakal.


"Jangan membuat dia takut." ucap Egi lirih. Karena terlihat pada ekspresi Amanda ada sedikit ketakutan. Meski sudah Amanda sembunyikan dengan senyum manis di bibirnya. Tapi tetap terlihat oleh Egi.


Egi mengangkat tangannya. Menyuruh Amanda berhenti. Dan saat Amanda ingin mengeluarkan suara, Egi menaruh jari telunjuknya di bibir miliknya sendiri.


Amanda hanya mengangguk dan menuruti keinginan Egi. Ditya dan Egi saling pandang. Keduanya menggeleng dan tersenyum sinis.


Egi berdiri, berjalan menuju ke arah Amanda. Mengambil map yang di bawa Amanda. Di mana di map tersebut ada sebuah pena yang sengaja di sangkutkan ke salah satu lembaran map.


Saat Amanda ingin membuka mulutnya, segera tangan Egi dengan reflek menutupnya. Barulah setelah Amanda mengangguk pelan, Egi melepaskannya.


Egi kembali duduk. Menekan ujung pena tersebut. Mengeluarkan sesuatu dari dalam pena. "Ini adalah alat untuk merekam." ucap Egi, mengambil aat tersebut. Dan menunjukkannya pada Amanda.


Amanda melihat ke arah Egi dengan pandangan lucu, sembari mengerjap-ngerjapkan matanya. "Mengemaskan." batin Ditya.


"Dia ingin memata-matai kamu." bisik Ditya. Entah, kapan Ditya berjalan. Hingga tanpa Amanda sadari, Ditya sudah berada di samping Amanda.


Segera Amanda berlari ke samping Egi. Dan duduk di dekat Egi, tak lupa tangannya memegang erat lengan Egi.


Memang, sejak awal memandang Ditya, ada perasaan takut di hati Amanda. Apalagi Amanda tahu betul siapa Ditya.


"Pasti kamu sudah kenal. Dia sahabatku." ucap Egi. Dengan pandangan mata mengarah ke lengannya yang di pegang oleh Amanda.


"Maaf." ucap Amanda, segera melepas pegangan tangannya.


"Bisa kamu geser ke sana." pinta Amanda, supaya Egi menggeser duduknya.


Egi hanya tersenyum dan melakukan permintaan Amanda. Sementara Ditya mendengus sebal. "Bukankah sudah ku katakan. Jangan membuat dia takut." ledek Egi.


"Kamu pikir wajahku seperti hantu." sarkas Ditya.


"Maaf. Bukan bermaksud seperti itu. Tapi, semua orang membicarakan anda." ucap Amanda sedikit tenang.


Ditya menatap ke arah Amanda. Seperti meminta penjelasan akan perkataan Amanda. "Emm,,, mereka bilang. Jika anda akan dengan mudah menaklukkan hati wanita." ucap Amanda berbohong.


Padahal bukan mereka yang mengatakan padanya. Melainkan papanya. Sebelum Tuan Joshua berangkat untuk pengobatan di luar negeri, beliau berpesan utuk tidak terlibat dengan pebisnis muda dengan nama Ditya.


Kemungkinan besar beliau hanya takut jika sang putri menjadi mangsa baru dari pebisnis muda yang dikenal suka berganti-ganti pasangan tersebut.


Mendengar perkataan Amanda, Ditya dengan sombongnya duduk dan menampilkan senyum menawan. "Memang tidak ada perempuan yang bisa menolak pesona seorang Ditya." ucap Ditya dengan angkuh.


"Dia." ucap Egi, melirik ke arah Amanda.


"Cih, dia bukan menolak. Mau bukti." ucap Ditya melihat ke arah Egi, setelahnya melirik ke arah Amanda.


Egi percaya perkataan Ditya, jika Amanda dapat di taklukkan oleh Ditya dengan mudah. Karena Amanda hanya takut, bukan menolak.


"Yakin, tidak ada satu perempuan yang menolakmu?" tanya Egi tersenyum sinis.


"Ada." ucap Ditya dengan lantang. "Perempuan yang sama, dengan perempuan yang menolakmu juga." imbuh Ditya, membuat Egi merasa dongkol.


Amanda mengernyitkan dahinya. Dia sangat paham arti perkataan Ditya yang terakhir. "Perempuan mana yang menolak kalian berdua." batin Amanda.


Karena keduanya adalah lelaki hebat, mapan, dan juga tampan. Sempurna.


"Sudahlah, kita kembali ke alat ini." ucap Egi, kembali melihat ke alat kecil di tangannya.


"Nanti saja." sahut Ditya. "Setelah kamu menceritakan semuanya pada dia." imbuh Ditya.


Segera Egi membuka mulutnya, melihat Amanda memandang ke arah dirinya. "Aku memberitahu Ditya. Tenang saja, dia dapat di percaya. Dan juga dapat di andalkan." jelas Egi.


"Begini....." Egi menceritakan semua yang dia peroleh dalam penyelidikannya. Termasuk beberapa properti yang sudah beralih tangan kepada Revan. Tapi Egi tidak mengatakan penyelidikannya mengenai kedua orang tua Amanda di negeri tetangga.


Egi tidak ingin jika Amanda lepas kendali. Dan semua itu malah akan membahayakan Amanda. Sementara Egi, belum menemukan cara mengenai kedua orang tua Amanda.


"Ternyata, Revan sangat menakutkan." ucap Amanda, dengan mata mulai berair. Karena rasa takutnya.


Amanda menatap ke arah Egi dan Ditya bergantian.


"Apakah...."

__ADS_1


__ADS_2