
"Kenapa Nona?" tanya Zea, saat melihat Amanda sedang melamun.
"Tidak." jawab Amanda tersenyum, dan segera mengalihkan pikirannya pada kertas-kertas di depannya.
"Anda bisa mengatakannya pada saya Nona. Mungkin saya bisa membantu?" tawar Zea.
"Apa aku bisa bertemu dengan papa dan mama." ucap Amanda lirih tanpa memandang Zea.
Zea terdiam, dirinya juga tidak tahu apa yang harus dia katakan. Terlebih dalam hal ini, dia sama sekali tidak bisa membantu.
Di mana Tuan Joshua beserta sang istrinya berada saja, Zea tidak tahu. Tiba-tiba Zea tersenyum. "Kenapa anda tidak menghubungi Tuan Egi dan menanyakannya." saran Zea.
"Begitu?" tanya Amanda. Zea segera mengangguk. "Baiklah, nanti akan aku coba." Amanda tersenyum.
"Kenapa tidak sekarang?" tanya Zea dengan antusias. Amanda malah tersenyum sembari memandang Zea.
"Zea, pasti sekarang Egi sedang sibuk." tutur Amanda. "Maaf." Zea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Dimana Zeo? Dari kemarin aku tidak melihatnya." tanya Amanda.
"Zeo mendapat tugas dari Tuan Egi. Katanya berkaitan dengan kerjasama perusahaan anda dengan perusahaan Tuan Aldric." papar Zea.
"Oh iya. Kenapa aku bisa lupa." gumam Amanda.
Jika perusahaan Amanda menginginkan pembatalan kerja sama dengan perusahaan Aldric, itu artinya perusahaan Amanda harus membayar denda dengan jumlah yang tidak main-main.
"Hufftt,,, semua karena Revan." dumal Amanda.
"Tenang saja Nona. Zeo pasti akan melakukan perintah Tuan Egi dengan baik. Apalagi dia tidak sendiri. Tuan Egi menyuruh seseorang untuk menangani masalah ini bersama dengan Zeo." jelas Zea.
Amanda tersenyum samar. "Terimakasih. Kalian begitu baik. Padahal kita bukan saudara." ucap Amanda terdengar sendu.
"Tidak perlu berterimakasih pada saya dan Zeo, Nona. Kami hanya melakukan perintah dari Tuan Egi." jelas Zea jujur.
Amanda hanya tersenyum simpul memandang ke arah Zea. "Egi. Iya, Egi. Dia benar-benar malaikat penolong untuk keluargaku. Sayangnya,,," ucap Amanda dalam hati.
Segera Amanda menggelengkan kepalanya. "Ada apa Nona?" tanya Zea khawatir karena Amanda secara tiba menggelengkan kepalanya.
"Ehh,,, tidak. Tidak apa-apa." jawab Amanda tersadar.
"Ingat Amanda, ingat, Lily, Lily, Lily. Dia perempuan baik. Jangan pernah menyakiti hatinya." ucap Amanda dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Maaf." cicit Lily saat bertemu dengan Egi dengan menunjukkan raut wajah menyesal.
__ADS_1
Egi memegang dan menggenggam telapak tangan Lily. "Kenapa? Hemmm." tanya Egi dengan lembut.
"Nando. Padahal dengan susah payah kamu mendapatkannya. Hanya karena aku sok tahu, kamu melepaskannya. Dan semua karena aku." Lily menunduk, merasa sangat bersalah.
"Hey,,," ucap Egi dengan nada lembut. Memegang dagu Lily, membawa wajahnya untuk bersitatap dengan kedua matanya.
Cup,,, cup,,, Egi mencium kedua mata Lily dengan lembut. "Tidak perlu khawatir. Aku memang berniat melepaskannya. Tanpa kamu suruh." Egi sedikit menekan dagu Lily dengan gemas.
"Maksudnya?" tanya Lily dengan wajah polosnya.
Cup,,, Egi kembali mendaratkan ciumannya ke wajah Lily. Tepatnya di hidung mancung sang kekasih. "Tidak perlu kamu pikirkan. Sekarang, tugas kamu hanya menyalakan ponsel kamu. Tidak lebih." ucap Egi.
Lily mengernyitkan dahinya. "Aku tidak ingin kecolongan lagi." Egi memainkan kedua alisnya naik turun.
"Kapan?" tanya Lily, dirinya sadar jika Egi sudah menanamkan alat pelacak di ponselnya.
"Tidak perlu tahu. Apa kamu lupa. Siapa kekasihmu ini. Hemmm." Egi mencubit dengan gemas hidung Lily.
"Astaga, aku hampir lupa." Lily menepuk pelan dahinya sendiri.
"Waktu itu aku pergi menemui Mauren karena ingin memastikan sesuatu. Karena ada Vincen, semua jadi berantakan." kesal Lily.
"Jangan cemberut. Mau aku cium." goda Egi.
Lily memukul lengan Egi. "Serius!!" geram Lily kesal.
"Aku ingat. Ada seorang sekelompok mahasiswi yang membicarakan Tuan Ebara. Dan yang aku dengar, teman mereka hamil. Kalau tidak salah, mereka juga menyebut kata bunuh diri. Tapi karena Tuan Ebara orang yang berkuasa, mereka tidak bisa berbuat apa-apa." jelas Lily, dengan ragu.
"Tapi jujur, aku masih ragu. Karena aku tidak terlalu menyimak obrolan mereka. Mauren, iya Mauren. Dia pasti mendengarnya. Karena saat itu, aku terburu-buru pergi ke toilet. Sementara Mauren tetap berada di sana." papar Lily.
"Tuan Ebara. Hamil. Lalu bunuh diri." gumam Egi dengan jelas masih terdengar oleh Lily.
Greppp.... "Ehh..." Lily terkejut, Egi menarik tubuhnya. Menjadikan jarak Lily dan Egi menjadi sangat dekat. Bahkan Lily dapat merasakan, hembusan nafas Egi.
"Aku ingin mengenalkan kamu sama mama aku." celetuk Egi, melenceng dari pembicaraan.
Lily berkedip lucu dengan eskpresi tak kalah lucu. "Kenapa?" tanya Egi tertawa geli.
Lily menaruh telapak tangannya di dahi Egi. "Kamu baik-baik sajakan?" tanya Lily dengan wajah cemas.
Egi tertawa lepas mendengar pertanyaan dari Lily. Membuat Lily memundurkan duduknya. "Memang kenapa?" tanya Egi.
"Jangan buat aku takut." cicit Lily, merasa merinding.
"Aaa..." seru Lily saat tangan kekar Egi melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Kenapa takut?"
"Kita sedang membicarakan Nando. Kamu malah memintaku bertemu dengan tante Tiwi." ujar Lily masih dengan ekspresi gemas menurut Egi.
"Memang salah?"
Lily menghela nafas dengan pelan. "Kan aku bingung." ucap Lily dengan nada terdengar manja di telinga Egi.
"Egi..!!" seru Lily dengan suara tertahan. Lagi-lagi Egi mencium wajahnya.
"Setelah Nando masuk penjara. Kamu maukan, bertemu dengan mamaku?" tanya Egi dengan wajah serius.
Dengan segera Lily mengangguk antusias dan tersenyum. "Good girl." Egi mengusap pelan pucuk kepala Lily.
"Bukankah hari ini jadwal kamu latihan bela diri?" tanya Egi, memainkan rambut panjang Lily.
"Setelah dari sini." ucap Lily.
"Maaf, tidak bisa mengantar. Biar nanti bawahanku yang akan mengantar kamu." papar Egi. Karena sebentar lagi akan ada klien penting dari luar negeri yang akan datang ke perusahaan Egi.
Sebagai tuan rumah, tidak mungkin Egi malah meninggalkannya atau membiarkan mereka menunggu. Meskipun Egi bisa melakukannya.
Tapi Egi masih tahu batasan. Di mana dia harus menghormati dan menghargai seorang tamu.
"Tidak perlu. Aku bawa mobil sendiri." tolak Lily.
"Aku tidak suka di tolak dan di bantah." tegas Egi.
Lily mengangguk. "Baiklah Tuan." Lily mencubit kedua pipi Egi. Percuma menolak apa yang di katakan oleh Egi. Karena pasti Lily akan kalah.
Egi sudah mengganti seseorang yang memantau Lily. Katena keteledorannya saat itu. Hingga Nando dapat dengan mudah berhadapan dengan Lily.
Bahkan, sekarang Egi menyuruh dua orang untuk mantau Lily. Dirinya tidak ingin kecolongan lagi.
Lily juga semakin giat berlatih. Terlebih setelah dia mengetahui alasan Egi menyuruhnya untuk melatih ketahanan fisik. Dan kemampuannya dalam bela diri. Ternyata semua itu sangat bermanfaat baginya.
"Nanti malam aku jemput kamu. Kita pergi berdua." ajak Egi.
"Kemana?" tanya Lily penasaran.
"Nanti kami juga akan tahu." jawab Egi membuat Lily mengerucutkan bibir.
Cup... "Egi..!!!" seru Lily, karena Egi mencium singkat bibirnya. "Kenapa? Kurang lama?" goda Egi.
"Astaga." ucap Lily. Sebenarnya Lily sangat senang sedari tadi. Pasalnya Egi selalu bersikap romantis dengan mencium wajahnya.
__ADS_1
Tapi Lily sebisa mungkin menyembunyikan rasa senangnya. Dia tidak ingin malu di depan Egi.