
"Kakak..." ucap Lila terkejut melihat keadaan sang kakak.
"Jangan katakan apapun sama mama dan papa." pinta Lily yang memang sudah mendapatkan pemeriksaan dari dokter pribadi Egi.
Lily pulang dari apartemen di antar oleh Egi. Namun Egi hanya mengatakannya sampai depan rumah Lily. Dia tidak ikut masuk ke dalam rumah Lily. Lantaran ada pekerjaan yang penting.
"Apa yang tejadi kak?" tanya Lila, menuntut sang kakak untuk duduk di kursi dengan rasa khawatir.
Lila memandang dengan tatapan sedih pada sang kakak. "Hey, jangan menangis. Kakak sudah baik-baik saja." Lily menghapus air mata yang terjun bebas di pipi Lila.
Bagaimana Lila tidak syok melihat keadaan sang kakak. Lebam di beberapa lengannya, dan wajah. Bahkan Lila dapat melihat jika ada lika di salah satu sudut bibir Lily.
Semalam Lily menghubungi sang adik, jika dirinya tidak akan pulang. Sebab akan bermalam di apartemen Egi. "Jadi semalam..." tebak Lila tidak melanjutkan perkataannya.
Lily mengangguk pelan. "Maaf kakak bohong. Hanya saja, kakak tidak ingin membuat adik kakak yang cantik ini khawatir." Lily mencubit gemas pipi Lila.
"Tenang saja, kak Egi sudah menyuruh dokter pribadinya untuk memeriksa kakak." jelas Lily, mengurangi rasa khawatir di hati sang adik.
"Katakan, bagaimana semua ini bisa terjadi. Bukan kak Egi kan yang...." desak Lila, merasa penasaran. Padahal kemarin, Lily dan Mauren hendak pergi untuk berbelanja. Tapi kenapa sekarang Lila malah mendapati keadaan sang kakak seperti ini.
Lila takut jika Egi yang melakukannya pada sang kakak. Lily menggeleng, lalu menghela nafas dengan perlahan. Dengan tenang, Lily menceritakan semuanya pada Lila. Hingga dia berakhir seperti sekarang.
Lila menahan emosinya. Matanya memerah menahan marah. Tapi Lila masih diam, membiarkan sang kakak menyelesaikan semua ceritanya.
"Vincenn....!!!" seru Lila merasa geram dengan lelaki tersebut.
"Sudah, jangan memperpanjang masalah. Yang terpenting sekarang kakak sudah baik-baik saja." tukas Lily menenangkan sang adik.
"Dan juga, orangnya Tuan Ebara sudah mendapat balasan dari Egi." lanjut Lily.
"Beruntung ada kak Egi. Lelaki itu, hanya bisa membuat orang lain menderita." desis Lila menahan emosinya.
Lily mengelus pelan lengan Lila. "Membiarkan Vincen. Tidak akan semudah itu. Aku harus memberi peringatan padanya. Lelaki itu harus segera meninggalkan negara ini." ucap Lila dalam hati.
"Tuan Ebara. Putra anda memang sepertinya harus segera di asingkan. Siapa tahu, anda juga perlu di asingkam sekalian." imbuh Lila dalam hati merasa emosi.
Lila tersenyum. "Kakak tenang saja. Benar kata kakak, yang terpenting adalah keadaan kakak yang sudah baik-baik saja." ucap Lila, dan tentu saja perkataannya adalah sebuah kebohongan.
Lila memang lebih anggun dan juga terlihat lemah lembut ketimbang Lily. Tapi jangan salah menilai. Lila memliki sifat tanpa ampun dan tidak mudah memaafkan.
Berbeda dengan Lily. Meskipun dia bar-bar dan berpenampilan sedikit tomboy, Lily sangat mudah memaafkan kesalahan orang lain.
Rasa suka Lila pada Vincen mulai terkikis hilang sedikit demi sedikit tanpa Lila sendiri tahu. Awalnya, Lila sangat mengangumi sosok tampan tersebut.
__ADS_1
Tapi makin ke sini, Lila semakin muak dengan segala tingkah Vincen. Apalagi Lila mendengar jika Vincen penyebab kenapa sampai sang kakak seperti ini. Padahal sudah jelas-jelas sang kakak menolaknya.
"Kak, Lila harus pergi. Kakak tidak apa-apa di rumah sendiri?" tanya Lila cemas, meninggalkan sang kakak sendirian.
"Ckk,,, kakak tidak sendiri. Ada banyak pembantu di rumah." decak Lily, merasa Lila berlebihan mengkhawatirkan dirinya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Lily selanjutnya.
"Lila ada janji sama teman. Nggak enak juga kalau di batalkan." ucap Lila beralasan. "Maaf, Lila bohong." ucap Lila dalam hati.
"Hati-hati." ujar Lily.
Dengan pelan, Lila mengendarai mobilnya. Dirasa sudah jauh dari rumah, Lila mengambil ponsel dan menghubungi Egi. "Kak, bisa kita bertemu sekarang, ada hal penting yang ingin Lila sampaikan?" pinta Lila pada Egi.
"Emmm,,, baik. Lila akan ke sana. Kakak kirimkan saja lokasinya." ucap Lila pada Egi di seberang telepon.
Segera Lila menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas, setelah panggilan teleponnya dengan Egi berakhir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Lila akan ke sini. Suruh anak buahmu untuk menunggunya di depan." perintah Egi pada Beni.
"Beni..!!" seru Egi, lantaran Beni malah memandang Egi dengan mengedipkan matanya secara perlahan.
"Lakukan saja apa yang aku perintahkan." ujar Egi dengan memandang Beni.
"Baik." Beni segera keluar dari ruangan di mana Egi berada. Sepeninggal Beni, bawahan Egi membawa Nando. Dan memasukkannya ke dalam ruangan yang sama dengan Egi.
Mereka melepaskan cekalan tangan mereka disertai dorongan pada tubuh Nando. Membuat tubuh Nando hampir tersungkur.
"Aku tidak ingin di ganggu." ucap Egi dengan tegas.
"Baik Tuan."
Egi memandang bawahannya yang berada di depan laptop. Sang bawahan hanya mengangkat kedua jempol tangannya. Menandakan semuanya sudah siap.
"Kita akan bermain. Sambil menunggu calon adik iparku datang." ucap Egi mulai melepas kancing kemejanya satu persatu.
Egi membuang kemejanya dengan asal, memperlihatkan tubuhnya yang sempurna terpampang jelas.
"Beruntung di sini nggak ada perempuan." ucap bawahan Egi yang berada di luar ruangan. Melihat bentuk tubuh dari sang majikan.
"Kamu pikir saya apa!!" hardik wanita di belakangnya.
__ADS_1
"Upss,,, maad Zea. Aku tidak tahu jika kamu di belakangku." ucapnya tanpa rasa bersalah. Zea hanya memutar kedua bola matanya dengan malas.
Bawahan Egi tidak semuanya adalah lelaki. Ada beberapa perempuan di antara mereka. Namun hanya beberapa saja.
"Tuhan, sempurna sekali ciptaan Mu." gumam Zea memandang kagum pada Egi.
"Ingat, Tuan tidak akan pernah melirik ke arah kamu." ketus rekannya.
Zea memandangnya dengan sinis. "Siapa juga yang berharap. Aku hanya sekedar mengagumi bodoh." kesal Zea pada rekannya.
"Diammm...!!" bentak rekannya yang lain, mulai jengah dengan perdebatan yang tidak berguna tersebut.
Nando meregangkan ototnya, seakan dia sudah siap untuk melawan Egi sekarang juga. "Berapa menit yang kau inginkan?!" tanya Nando dengan ekspresi mengejek.
Meski Egi menyekap Nando, tidak lantas membuat Egi menyuruh bawahannya untuk memperlakukan Nando dengan buruk.
Egi malah menyuruh bawahannya untuk memberi makanan sehat dan cukup untuk Nando. Dan yang lebih aneh, Egi juga menyuruh dokter pribadinya untuk menyuntikkan vitamin pada tubun Nando.
Egi tersenyum senang. "Ternyata usahaku tidak sia-sia memberi makan padamu." cibir Egi.
Dan untuk inilah Egi mempersiapkan Nando secara sehat dan kuat. Tentu saja untuk bertarung dengannya.
Nando berlari dengan cepat ke arah Egi. Namun Egi masih diam dan berdiri di tempat.
Bughhh,,,,, dengan dua gerakan, Egi membuat Nando jatuh tersungkur di lantai. Nando kembali berdiri dan mencoba kembali menyerang Egi.
Dan hasilnya tetap sama. Egi sama sekali tidak tersentuh Nando. Melainkan Nandolah yang berkali-kali jatuh ke lantai karena pukulan dari Egi.
"Menyesal sekali aku membuka baju." ejek Egi, bahkan Egi sama sekali tidak berkeringat. Namun Mando sudah babak belur.
Dengan nafas terengah, Nando kembali berdiri. Memandang Egi dengan sengit. Dan kembali menyerang Egi.
Kali ini, Egi tak langsung membuat Nando terjatuh seperti sebelumnya. Egi mencekal pergelangan tangan Nando dengan kuat.
"Kau membuatku kecewa." desis Egi, mengira jika Nando adalah lelaki yang kuat. Dan....
Egi mengambil kedua lengan Nando, membalikkan badannya dan membanting tubuh Nando ke lantai Tak hanya itu, Egi dengan sengaja mematahkan salah satu lengan Nando dengan satu gerakan.
Bughh,,,, Kreekkk.... "Aaaaa...!!" jerit Nando membuat gendang telinga Egi seakan pecah.
Semua bawahan Egi di luar ruangan tersenyum remeh memandang Nando. "Aku kira sedikit tangguh. Ternyata bengek..." kelakar bawahan Egi, yang mulanya berekspetasi tinggi tentang Nando.
"Tuanku memang tidak ada lawannya." ucapnya.
__ADS_1