
Egi berdiri, mengajak Lily untuk duduk bersama dengan Lila. Sebelum duduk, Egi mengambilkan air dingin untuk mereka.
"Kenapa malah datang ke sini?" tanya Egi. Karena memang seharusnya Lily masuk khursus bela diri.
"Ada yang ingin aku sampaikan." ucap Lily.
Egi hanya memandang ke arah Lily. "Aku tidak punya banyak waktu." ucap Egi dengan ketus.
Sementara Lila hanya diam, seperti yang di sarankan sang kakak sebelum mereka berangkat ke sini. Lila memandang Lily dan Egi secara bergantian.
"Kenapa kak Egi selalu bersikap dingin. Apa dia gengsi." batin Lila, karena Egi selalu bersikap dingin.
"Benar, mungkin karena ada aku di sini." imbuh Lila dalam hati.
"Aku mau pinjam uang." ucap Lily dengan ekspresi lucu. Sontak Egi memandang aneh kepada Lily.
Lily Ardesya, seorang perempuan yang mustahil kekurangan materi. Mengingat siapa sosok papa dari Lily. Tuan Ardes, salah satu pengusaha sukses dan terkenal.
"Sebenarnya,,,,,," Lily menceritakan apa yang menimpa sang adik. Hingga foto ancaman tersebut.
"Kak, kenapa kakak menyebut fotonya segala." bisik Lila merasa malu bercampur takut.
"Sudah diam. Bukankah kakak bilang, kamu jangan ikut campur. Diam." geram Lily.
"Tapi jangan mengatakan pada papa." pinta Lily.
Egi mengambil ponsel dan menghubungi Beni. "Ada apa Tuan." segera Beni masuk ke dalam ruangan Egi.
"Selesaikan masalah yang dia buat. Sekalian, hapus fotonya." ucap Egi, memandang ke arah Lila dan juga Lily secara bergantian.
"Eh, buka Lila yang membuat masalah. Tapi teman Lila." ucap Lila, menyangkal perkataan Egi.
"Lantas itu foto siapa. Saudara kembarmu." sungut Egi. Lila hanya bisa cemberut.
"Diam." bisik Lily pada Lila.
"Lila, bisa tinggalkan kami sebentar." pinta Lily.
Lili mengangguk. Lila paham, jika pasti sang kakak ingin membicarakan masalah pribadi bersama sang kekasih.
"Aku belum pernah melakukannya." cicit Lily, setelah sang adik keluar dari ruangan.
Egi mengernyitkan dahinya. Lalu tersenyum samar. Egi tahu, kenapa Lily berkata seperti itu.
Egi menepuk tempat duduk di sebelahnya. "Apa?" tanya Lily dengan ekspresi lucu.
"Iya." imbuh Lily, saat Egi memandangnya dengan tajam. Lily menggeser duduknya. Untuk lebih dekat dengan Egi.
"Ckkk." Egi menarik lengan Lily, hingga sekarang keduanya duduk tanpa jarak sejengkalpun.
"Memang kamu belum pernah melakukan apa. Hemmm." goda Egi.
Egi segera merangkul pinggang Lily, saat Lily hendak memundurkan duduknya. "Kenapa malah bergerak. Bukannya menjawab." Egi menatap lembut ke arah Lily.
Egi memajukan wajahnya. Dan Lily memundurkan wajahnya. Tapi Lily tidak bisa mundur terlalu jauh, sebab pinggangnya masih berada di pegang oleh tangan Egi.
Lily mengulum bibirnya sendiri. Detak jantungnya tidak karuan. "Egi, jantungku." ucap Lily gugup, langsung menaruh tangannya di depan dadanya.
Egi tersenyum licik. "Kenapa? Berdetak kencang?" tanya Egi. Dan Lily langsung mengangguk dengan polos.
"Aku bisa menyembuhkannya." ucap Egi.
"Kamu bukan dokter." ucap Lily, hendak melepaskan tangan Egi di pinggangnya. Tapi sayang, kekuatan Egi lebih besar dari pada kekuatannya.
"Diamlah. Jangan terus bergerak." geram Egi.
"Mau aku sembuhkan?" tanya Egi. Belum sempat Lily menjawab, Egi sudah membenamkan bibirnya di bibir milik Lily.
Egi melakukannya hanya sebentar. "Egi.." ucap Lily lirih, memegang bibirnya.
"Apa." sahut Egi. Lily langsung memeluk tubuh Egi. Sungguh, dirinya tidak ingin Egi mengetahui jika sekarang wajahnya sudah memerah seperti tomat.
Egi terkekeh melihat kelakuan Lily. "Ehh, aku hampir lupa." ucap Lily, melepas pelukannya.
Segera Lily meminum air minum yang di berikan oleh Egi, untuk meredam rasa gugupnya. Bahkan Lily juga menaruh air tersebut di pipinya.
Egi tersenyum melihat kelakuan lucu dari Lily. "Kenapa dengan pipimu. Demam." goda Egi.
Lily menggeser duduknya, sungguh saat ini dirinya tidak ingin melihat ke arah Egi. "Apa nanti malam kamu bisa datang ke rumahku?" tanya Lily tanpa melihat ke arah Egi.
"Lily, tatap lawan bicaramu, jika sedang berbicara." tegur Egi.
"Maaf." Lily segera menoleh, seperti seorang gadis yang sedang malu-malu.
"Untuk apa? Makan malam. Bersama sahabat papamu." tanya Egi, dan dijawab sendiri olehnya.
__ADS_1
"Putra mereka dulu yang hendak di jodohkan dengan diriku." jelas Lily. Dan sekarang Egi sudah mengerti, kemana arah pembicaraan ini.
"Kenapa aku harus datang? Aku tidak ada hubungannya dengan semua ini." ucap Egi.
"Tapi, kamu tadi." ucap Lily menggantung, dengan wajah kesal bercampur marah. Jari tangannya mengarah ke bibirnya sendiri.
"Aku. Aku tadi kenapa?" tanya Egi dengan polos, seolah tidak terjadi apa-apa dengan mereka.
Lily memejamkan mata. Mengatur nafasnya. Baru saja dia di terbangkan oleh Egi ke nirwana. Sungguh indah. Berasa kupu-kupu beterbangan di sekelilingnya.
Dan sekarang, dia dijatuhkan ke bumi. Itupun bumi bagian dasar. Membuat sekujur tubuhnya remuk. Menyebalkan.
Lily memandang ke arah Egi. "Baiklah Tuan Egi. Anggap saja tidak terjadi apa-apa barusan di antara kita. Lagi pula, sepertinya anda kurang piawai dalam berciuman." ucap Lily dengan tenang. Seolah dirinya sudah mahir melakukannya.
Membuat Egi tersenyum sinis. "Benarkan." ejek Egi.
Tapi Lily tidak ingin terpancing dengan ucapan Egi. "Dan soal makan malam. Saya, Lily Ardesya. Mengundang anda untuk datang ke kediaman Tuan Ardes, untuk makan malam bersama."
"Itupun jika anda tidak sibuk." ucap Lily dengan tersenyum paksa.
"Permisi." pamit Lily.
"Siapa tahu lelaki yang dijodohkan dengan ku itu ternyata lebih segalanya dari dia. Rezeki nomplok." ucap Lily, seakan berbicara dengan dirinya sendiri, sambil menghentikan langkahnya sebentar. Supaya Egi bisa mendengarkannya.
Egi hanya diam. Seperti biasa, Egi terlihat cuek dan sombong. "Bisa-bisanya dia membandingkan gue dengan lelaki lain." geram Egi tidak terima, setelah Lily menutup pintu dari luar.
"Kak, sudah selesai?" tanya Lila, dengan antusias, menunggu di meja Selly.
Setelah Lily menyuruhnya keluar, Lila bingung untuk menunggu di mana. Karena ini pertama kalinya Lila datang ke perusahaan milik Egi.
Beruntung ada Selly yang memanggilnya. Alhasil Lila duduk di samping Selly yang sedang bekerja. Dengan sesekali berbincang.
Padahal Lili sempat berpikir negatif kepada Selly. Di mengira jika Selly, sekertaris Egi juga mempunyai perasaan pada Egi. Seperti cerita di novel-novel. Dan juga sombong.
Ternyata tebakannya meleset jauh. Selly adalah sosok perempuan ramah dan juga menyenangkan. Bahkan dia juga bercerita, jika Egi tidak pernah menerima tamu perempuan. Selain klien, atau rekan kerja.
Dari Selly, Lila juga mendapat informasi jika Egi tidak pernah berhubungan dekat dengan perempuan.
"Sudah." ucap Lily, tersenyum pada Selly dan mengajak Lila segera meninggalkan perusahaan Egi.
"Kita mau kemana kak?" tanya Lila, saat Lily sedang mengemudikan mobilnya.
"Les bela diri." jawab Lily dengan dingin.
Lily memandang sang kakak. "Kenapa dengan kakak?" tanya Lila pada dirinya sendiri.
"Diam itu emas Lila." ucap Lila dalam hati.
"Pasti kakak dan kak Egi tadi berdebat. Tapi soal apa." ucap Lila dalam hati.
Lily latihan bela diri dengan sangat semangat. Seolah menyalurkan semua amarahnya pada saat latihan. Dan raut wajah terlihat kesal.
Hingga pelatih pun bisa melihatnya dengan jelas. "Nona, ada apa dengan kakakmu itu?" tanya sang pelatih.
Yang sebelumnya bertanya beberapa hal pada Lily. Sehingga dia mengetahui jika Lila adalah adik dari Lily.
Lila hanya mengangkat kedua bahunya. Menandakan dia juga tidak tahu. "Apa perlu saya melapor pada Tuan Beni?" tanyanya.
Segera Lila menggerakkan kedua telapak tangannya di depan dadanya. "Jangan." ucap Lila dengan cepat.
"Kami berdua dari perusahan kak Egi." ucap Lila memberitahu, karena Lila juga tahu siapa Beni.
Sang pelatih hanya mengangguk pelan. "Sepertinya masalah hati." gumam sang pelatih.
"Mungkin." sahut Lila, membenarkan perkataan sang pelatih.
"Anak muda." ucap sang pelatih lirih.
"Kamu tidak sekalian ikut latihan." tawar sang pelatih.
"Tidak pak, terimakasih." tolak Lila dengan lembut.
"Bela diri." ucap Lila bergidik, setelah sang pelatih meninggalkannya.
Lila sosok yang feminim. Dia sama sekali tidak menyukai sesuatu yang berbau kekerasan.
"Apa benar, jika kak Egi menyuruh bawahannya untuk menghapus foto Lila. Tapi, bagaimana caranya. Hacker." ucap Lila lirih.
Lila memandang ke arah sang kakak. "Semoga kak Lily dan kak Egi berjodoh. Pasti aku juga akan kebagian kebahagiaan jika mereka menikah. Mempunyai kakak ipar hebat seperti kak Egi." ucap Lila lirih sambil tersenyum sendiri.
Tanpa sengaja, Lila melihat ada seorang lelaki berdiri di luar ruangan. Memakai topi, sedang memperhatikan sang kakak lewat jendela.
"Apa iya." gumam Lila, kembali melihat ke arah jendela. Tapi lelaki tersebut sudah tidak ada.
Lila mencebik. "Mungkin dia tidak memperhatikan kakak. Mungkin dia hanya lewat saja." ucap Lila, dengan mata mencari sosok lelaki tersebut. Namun tidak di temukan.
__ADS_1
Di perusahaan Beni kembali menghadap kepada atasannya. Egi.
"Masalah Nona Lila sudah selesai Tuan." ucap Beni.
"Mama." kata Egi. Karena Egi memberi perintah pada Beni, untuk membuat sang mama pulang ke negaranya. Egi sudah menghubungi rekannya di negara tersebut dan meminta tolong.
Dan beruntung, rekannya tersebut mau menolong Egi. Memberikan kesibukan pada Nyonya Tiwi. Sehingga beliau harus kembali ke negara asalnya, secepatnya.
"Semua sudah beres Tuan." ucap Beni, menyuruh bawahannya untuk terus memantau Nyonya Tiwi hingga beliau sampai negaranya dengan aman.
Bahkan bawahan Beni juga ikut penerbangan dnegan Nyonya Tiwi, guna memastikan Nyonya Tiwi benar-benar aman.
Egi menyerahkan kertas pada Beni. "Daftar korban dari Nando. Suruh anak buahmu yang melakukannya. Tidak perlu terburu-buru. Tapi harus berhasil." perintah Egi.
Karena Egi yakin, jika para korban akan enggan memberikan kesaksian. Entah trauma, atau takut. Karena pasti mereka tahu, siapa lawan mereka.
Dan Egi dapat menebak. Lebih baik mereka tutup mulut. Asal nyawa mereka beserta keluarga selamat dan hidup dengan tenang. Meski tidak mendapatkan sepeser uang.
"Gunakan anak buahmu yang memang piawai. Dan ingat, jangan membujuk mereka dengan uang." ucap Egi mengingatkan.
Meski mereka hidup sederhana, Egi juga bisa memastikan uang bukanlah jalan keluar terbaik.
"Baik Tuan." ucap Beni. Seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh majikannya.
"Tuan, bagaimana dengan Nona Amanda?" tanya Beni dengan hati-hati.
"Sepertinya kita harus menyelamatkan Tuan dan Nyonya Joshua terlebih dahulu." jelas Egi.
Karena jika kedua orang itu masih berada di rumah sakit tersebut. Baik Egi maupun Ditya tidak akan bisa bertindak.
"Ditya yang akan melakukannya." jelas Egi.
"Baik Tuan. Saya permisi." pamit Beni, meninggalkan ruangan Egi.
Sesuai rencana Egi dan juga Ditya. Saat ini Ditya sudah memerintahkan anak buahnya untuk bergerak membawa Tuan dan Nyonya Joshua pergi dari rumah sakit.
"Entah kenapa, aku merasa kasihan melihat Amanda. Lagi pula, jika bukan karena Egi. Aku juga tidak akan mau terlibat dalam masalah ini." ucap Ditya, duduk di kursi ruang kerjanya.
"Bob. Tapi tidak masalah. Sekalian memberi pelajaran pada dia. Karena sudah berani mengkhianatiku." geram Ditya, teringat perseteruannya dengan Bob.
Di kediaman Tuan Ardes, Nyonya Tya beserta pembantunya sudah sibuk mempersiapkan makan malam untuk menjamu tamu mereka.
"Apa mereka akan tisu di sini Nyonya?"
"Saya juga tidak tahu. Tapi semua kamar tamu sudah kami bersihkan?" tanya Nyonya Tya, memastikan. Sekedar berjaga-jaga, seandainya keluarga sahabatnya sang suami menginap.
"Memangnya berapa orang Nyonya?"
"Katanya empat. Tapi entahlah, yang terpenting makanannya harus sedikit lebih banyak. Kira-kira cukup untuk sepuluh orang." jelas Nyonya Tya.
"Nyonya, kelihatannya Tuan sudah datang." ucap pembantu lainnya dari arah depan.
"Kalian selesaikan." ucap Nyonya Tya, segera bergegas pergi ke depan.
"Pa." segera Nyonya Tya mengambil tas yang di pegang sang suami.
"Anak-anak sudah pulang?" tanya Tuan Ardes setelah mencium kening sang istri.
"Belum." jawab Nyonya Tya.
"Mama hubungi mereka. Papa takut mereka lupa." ucap Tuan Ardes, sembari berjalan.
"Iya, nanti mama akan menghubungi mereka." sahut Nyonya Tya, yang berjalan di samping sang suami.
"Kak, pulang yuk." ajak Lila. Terlihat Lily sepertinya enggan beranjak dari duduknya.
"Kalian belum pulang? Sebentar lagi gelap. Di sini biasanya sepi kalau malam. Sebaiknya kalian cepat pulang." saran sang pelatih, sambil mengunci pintu ruangan.
"Baik." ucap Lily, berdiri dari duduknya.
"Mari pak, kami duluan." ujar Lila.
"Hati-hati." seru sang pelatih.
"Sama-sama pak." seru Lila.
Segera sang pelatih menelpon ke nomor Beni, mengatakan jika Lily baru saja meninggalkan tempat latihan. "Sepertinya ada mengawasiku." gumam sang pelatih, merasa ada yang memperhatikannya.
"Tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa." ucap seseorang, yang ternyata bawahan dari Beni.
"Maaf, saya hanya sedikit waspada. Apalagi kata Tuan Beni, ada seorang psikopat yang sedang mengincar Nona Lily." ucap sang pelatih, masih memperhatikan mobil Lily yang semakin menjauh.
"Kami permisi. Sebaiknya kamu juga segera meninggalkan tempat ini jika sudah sepi." ucapnya mengingatkan.
Lily mengendarai mobil dengan perlahan. Membuat Lila mendengus sebal. "Kak, pukul berapa kita akan sampai, jika kakak menyetir seperti siput." kesal Lila.
__ADS_1
"Rasanya malas sekali pulang ke rumah." ucap Lily.
"Kalau begitu tidak usah pulang. Biar Lila sendiri yang pulang. Nanti kalau papa tanya, Lila bilang saja kakak tidak mau pulang." oceh Lila.