PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 70


__ADS_3

Revan dan karyawan lain yang di anggap telah berkhianat pada perusahaan akhirnya meninggalkan perusahaan.


Tentu saja mereka memilih untuk keluar dari pada tetap bekerja di perusahaan sebagai cleaning servic.


Beruntung Amanda hanya mengeluarkan mereka tanpa pesangon. Serta tidak memblack-list mereka dari dunia bisnis. Sehingga mereka masih bisa mencari pekerjaan di perusahaan lain.


"Untuk pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka, tolong di alihkan pada yang lain untuk sementara waktu. Hingga perusahan mendapatkan penggantinya." perintah Amanda pada setiap kepala direksi.


Zea langsung menyodorkan segelas air putih pada Amanda setelah mereka masuk ke dalam ruang kerja Amanda.


Amanda meminumnya hingga tandas. "Terimakasih." ucap Amanda tersenyum, setelah meminumnya.


"Huffftt..." Amanda membuang nafas dengan kasar. Seolah melepaskan beban yang menghimpit dadanya. "Akhirnya, aku bisa mengusir Revan." ucap Amanda lega.


"Terimakasih." Amanda memandang bergantian ke arah Zea dan Zeo.


"Semua karena Tuan Egi." ucap Zea tersenyum tulus. Zeo meletakkan sebuah map di meja kerja Amanda.


"Silahkan di lihat Nona." ucap Zeo, saat Amanda menatapnya dengan tatapan keingin tahuan.


Segera tangan Amanda meraih map tersebut. Melihat isi dari map. Senyum di bibir Amanda merekah, setelah membaca setiap kata dalam berkas tersebut. "Terimakasih." ucap Amanda dengan tulus.


Diberkas tersebut tertulis jika kepemilikan beberapa properti yang di ambil oleh Revan, kini kembali ke tangan Amanda. Namun sekarang properti tersebut bukan atas nama Tuan Joshua. Melainkan atas nama Amanda.


"Berterimakasihlah pada Tuan Egi. Karena kami hanya melakukan apa yang beliau perintahkan." ujar Zeo jujur.


Amanda kembali tersenyum. "Tetap saja. Kalian juga sangat membantuku. Dan sudah seharusnya, aku mengucapkan kata terimakasih untuk kalian juga." jelas Amanda.


"Setelah ini, pekerjaan kita akan semakin banyak." imbuh Amanda.


Karena setelah ini, akan ada perekrutan karyawan secara besar-besaran di perusahaan Amanda. Dampak dari pemecatan masal yang Amanda baru saja lakukan.


"Pasti akan berdampak." gumam Amanda. Zea dan Zeo saling memandang.

__ADS_1


"Apa kita perlu memberitahu Tuan Egi?" tanya Zea pada Amanda.


Amanda terdiam dan menatap Zea hingga beberapa detik. "Emmm,,, biar nanti aku sendiri yang menemuinya. Sekalian mengucapkan terimakasih." ucap Amanda.


"Iya. Tadi saya juga sempat melihat mobil Tuan Egi di depan." cetus Zea, membuat Amanda mengedipkan matanya beberapa kali.


Sempat terbesit rasa kecewa saat Egi tidak datang. Tapi Amanda menutupi rasa tersebut. Amanda tidak boleh egois. Karena pasti orang seperti Egi juga sangat sibuk.


Namun, perkataan dari Zea seperti air yang mengalir saat musim kemarau. "Benarkah?" tanya Amanda dengan wajah berbinar yang tidak dapat di sembunyikan.


Zea mengangguk. "Iya Nona." jawab Zea pendek. Zeo hanya memandang dengan tatapan tidak suka pada kembarannya tersebut.


Zeo sangat tidak menyukai tindakan Zea. Dengan Zea mengatakan hal tersebut, Amanda akan semakin terluka. Padahal dirinya dan Zea juga mengetahui perasaan Amanda pada Egi.


Dan Zeo dapat menebak, kenapa Egi seperti membuat jarak antara dirinya dan Amanda. Pasti karena Egi juga menyadari perasaan Amanda padanya.


Zeo tahu pasti, majikannya bukan sosok yang senang mengumbar perasaan dan mempermainkan perasaan perempuan. Terlebih sekarang Egi sedang dekat dengan Lily.


"Bukankah sudah berulang kali aku mengingatkan. Jangan pernah mencampuri urusan pribadi atasan kita." tegas Zeo.


"Mencampuri. Hey, aku sama sekali tidak melakukannya." kilah Zea.


Zeo tersenyum sinis. "Dengan kamu mengatakan seperti tadi, sudah membuat Nona Amanda semakin berharap. Padahal kamu tahu, jika Tuan Egi sudah mempunyai kekasih." tegas Zeo.


Mulut Zea terbungkam. Dia hanya mengalihkan pandangan ke arah lain. "Ini terakhir kali aku mengingatkan. Jika sampai Tuan Egi mengetahuinya. Aku tidak bisa membantu apapun. Ingat itu." hardik Zeo, meski dengan suara rendah.


Zeo meninggalkan Zea sendiri. "Huhh,,,, dasar lelaki. Tidak peka. Tapi tidak masalah jika Tuan Egi mempunyai istri dua. Nona Amanda dan Nona Lily. Keduanya sama-sama cantik dan baik." gumam Zea berpikiran aneh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nando mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. "Kita akan lihat. Sampai mana keahlianmu." ucap Nando, dengan pisau lipat di tangannya. Memainkan pisau tersebut seperi sedang memegang sejuah mainan.


Lily masih terdiam. Jujur, saat ini kakinya sudah bergetar. Tidak dapat lagi dia sembunyikan rasa ketakutannya. "Kenapa, takut." ejek Nando tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Lily segera berlari ke tempat di mana dia melihat benda yang akan dia gunakan untuk melawan Nando. "Larilah sekencang dan sejauh mungkin!!!" teriak Nando, berjalan santai menuju ke arah Lily berlari.


"Aku akan tetap menemukanmu." lanjut Nando tersenyum iblis.


Lily memegang sebuah besi panjang. Yang biasanya di gunakan untuk memukul binatang liar. "Lari. Diapa yang akan lari." seringai Lily.


Senyum iblis di bibir Nando lenyap saat melihat Lily tersenyum dan memainkan tongkat besi berukuran kurang lebih satu meter.


Mata Lily kembali memindai tempat di mana dirinya dan Nando berada. Tempat yang sangat sepi. Di mana banyak rumah kosong di sekitar mereka.


Lily memainkan besi tersebut, seakan sedang menggambar abstrak di atas aspal. "Ternyata tempat seperti ini. Yang menjadi tempat favorit kamu." ucap Lily melangkah maju.


Lily tidak dapat menebak apa yang sedang ada dalam benak Nando. Karena saat ini Nando menampilkan ekspresi datar.


Lily memukul-mukulkan tongkat besi tersebut di atas aspal. Menimbulkan bunyi yang menganggu indera pendengaran dari Nando. "Diam...!! Berhenti...!!!" teriak Nando, menatap Lily dengan bengis.


Lily tersenyum miring. Sekarang Lily mulai mengerti. Jika Nando tidak suka mendengar suara yang tidak dia kehendaki saat melakukan aksinya.


Bukannya berhenti, Lily malah berjalan seakan memutari tubuh Nando dengan menyeret besi tersebut. "Sialan...!!!! Aku bilang berhenti..!!!" teriak Nando lagi.


Dan,,,, "Aaaa...!!!" Nando berlari ingin menyerang Lily. Dengan gerakan sigapnya, Lily menghindar dari serangan Nando. "Ternyata latihan bela diriku berguna juga." ucap Lily mulai bersikap waspada.


Lily memegang tongkat besi dengan kedua tangannya. "Hey,,,, ayo maju." ucap Lily mulai memprovokasi Nando.


Mata Lily memandang ke arah tangan Nando yang memegang pisau lipat. Lily sangat gugup. Tapi Lily sadar, jika saat ini dirinya sendiri. Tidak bisa mengandalkan bantuan orang lain. "Egi, cepatlah datang." ucap Lily dalam hati berharap.


Lily menggerak-gerakkan pundak dan tangannya. Menghilangkan rasa gugup pada dirinya. "Akan aku habisi kamu...!!!" teriak Nando, mulai tak terkendali.


Lily berhasil memprovokasi Nando. Memang sangat besar resiko yang di ambil oleh Lily dengan memprovokasi Nando. Terlebih Nando adalah seorang psikopat.


Tapi dengan emosi Nando yang tidak stabil, pastinya Nando juga akan menyerang Lily secara sembarang. Dan itulah yang di inginkan Lily. Apalagi saat ini Lily sudah memegang sesuatu untuk di jadikan senjata melindungi dirinya.


"Maju." kata Lily menantang Nando.

__ADS_1


__ADS_2