PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 82


__ADS_3

"Kamu tahu, tindakanmu ini sangat berbahaya." ucap Vincen pada Lily, dengan nada setengah menggertak.


Vincen sengaja menunggu Lily dan Mauren di area parkir. Dirinya ingin menanyakan perihal kebenaran yang sekarang santer terdengar di semua kalangan.


Apalagi jika bukan kasus Nando. Dan Lily sebagai pelapor. "Lily, cabut laporan kamu." pinta Vincen dengan tatapan penuh harap.


Mauren memutar kedua matanya dengan malas. "Ckk, lebih baik kamu urusi saja kehidupan kamu sendiri." decak Mauren merasa kesal dengan saudaranya tersebut.


Vincen menatap tajam ke arah Mauren. "Sebagai teman, seharusnya kamu mengingatkan Lily. Bagaimana bahayanya seorang seperti Tuan Ebara." ucap Vincen dengan geram.


Lily masih diam. Karena baginya apapun yang di katakan Vincen sama sekali tidak penting dan tidak akan berpengaruh untuknya. "Ckk,,, kenapa kamu selalu mencampuri urusan Lily. Heran." ucap Mauren berdecih sebal.


"Lily, cabut tuntutan kamu." kekeh Vincen kembali mengulangi perkataannya pada Lily. "Pikirkan keluarga kamu. Tuan Ebara orang yang sangat berbahaya. Aku yakin, bukan hanya kamu yang di incar. Tapi semua anggota keluarga kamu." lanjut Vincen.


Lily berusaha melepaskan tangannya, namun Vincen begitu kuat memegang lengan Lily. "Lepaskan tangan kamu!" ucap seseorang yang baru datang, mencekal tangan Vincen dan menghempaskannya.


Binar kebahagiaan langsung terpancar di kedua bola mata Lily, melihat siapa gerangan yang datang.


"Sayang." Lily langsung mendekat ke arah Egi dan memeluknya. "Kenapa kamu ke sini?" tanya Lily setelah mengurai pelukannya.


"Memang tidak boleh." ucap Egi ketus tanpa ekspresi apapun.


Bukannya marah akan jawaban yang di berikan oleh Egi, Lily malah tersenyum simpul. Lily sangat tahu kenapa sang kekasih bersikap demikian.


Cemburu. Pasti Egi sedang cemburu pada Vincen. Terlebih Egi datang saat tangan Vincen memegang lengan Lily.


Lily mencubit kedua pipi Egi dengan gemas. "Makin cinta." ucap Lily memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi. Egi membuang muka dan menahan senyum.


Mauren yang berada di samping Vincen hanya diam, sesekali melirik ke arah Vincen. Melihat bagaimana reaksi dari saudaranya tersebut. Saat di suguhkan dengan pemandangan yang pasti sangat tidak dia harapkan untuk di lihat.

__ADS_1


Keduanya seolah seperti patung atau makhluk tak kasat mata bagi Lily dan Egi. Vincen mengeraskan rahangnya. Melihat bagaimana Lily yang dingin terhadap lelaki, bisa bersikap manja dan lembut di hadapan Egi. Bahkan Lily tak malu menunjukkan betapa dia sangat mencintai Egi.


"Panas." sindir Mauren, mengibaskan telapak tangannya di depan wajah. Vincen hanya melirik tajam ke arah Mauren. Dia tahu jika Mauren sedang menyindir dirinya. "Hawanya panas, matahari terik banget. Padahal sudah sore." lanjut Mauren.


"Pasangan yang serasi. Emm,,,, bikin iri." ucap Mauren terus membuat rasa kesal di hati Vincen.


"Lily." panggil Vincen, Lily menghentikan sikap manjanya pada Egi dan menoleh ke arah Vincen.


"Masih saja berusaha. Padahal sudah tahu hasilnya." ucap Mauren lirih, tapi masih bisa di dengar semuanya. Namun di acuhkan oleh Vincen.


"Kamu sebagai kekasih Lily seharusnya bisa menjaga Lily. Kenapa membiarkan Lily berhadapan dengan orang seperti Tuan Ebara." Vincen menatap tajam ke arah Egi.


Egi menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring. "Apa kamu pikir seorang Egi akan takut, dengan lelaki tua seperti Ebara." ejek Egi, yang dapat menebak jika Vincen takut akan sepak terjang seorang Ebara yang selama ini terkenal kejam pada lawan.


"Jangan sombong. Pasti kamu akan mudah di kalahkan Tuan Ebara. Pikirkan Lily dan keluarganya." geram Vincen, karena Egi malah mengejek dirinya.


"Benarkan? Aku sangat menantikannya." ujar Egi tersenyum sinis.


"Lily." panggil Vincen dengan wajah memelas. Sementara Lily menatap Vincen seperti sebilah pisau tajam yang siap mengoyak lawan.


"Tinggalkan lelaki yang hanya bisa memanfaatkan kamu. Masih ada aku di sini." pinta Vincen dengan wajah memelas.


Plak.... Mauren melebarkan matanya dengan mulut membulat melihat Lily menampar Vincen. Sementara Egi hanya diam dan tersenyum remeh.


"Jika anda tidak tahu apapun. Sebaiknya anda diam, Tuan Vincen." geram Lily.


Vincen menatap Lily dengan pandangan tidak percaya. "Lily." ucapnya lirih.


Egi memeluk pinggang Lily dengan posesif. Menatap tajam ke arah Vincen. "Jika kamu memang ingin berurusan denganku. Silahkan kamu coba. Aku akan menunggu." tantang Egi.

__ADS_1


"Tapi ingat, perusahaan yang anda pegang sampai detik ini. Adalah atas nama papa kamu. Jadi, jangan melangkah dan berjalan di jalan yang salah." papar Egi.


"Tidak ada kata mundur. Jika saya sudah menginginkan kehancuran seseorang. Clik..." ancam Egi dengan menjentikkan jarinya.


Vincen hendak menyusul Egi dan Lily yang berjalan menuju mobil milik Egi. Namun langkahnya terhenti saat tangannya di pegang oleh Mauren.


Egi menatap ke arah Vincen dengan senyum remeh sebelum masuk ke dalam mobil. Seolah mengatakan jika dirinyalah sang pemenang. Sebab Lily lebih memilihnya.


"Jangan gila. Kamu tidak dengar. Egi akan dengan mudah menghancurkan apapun yang kamu punya." geram Mauren, melihat saudaranya yang kekeh ingin merusak hubungan Lily dan Egi.


"Lily akan dalam bahaya, jika dia tetap berada di samping lelaki seperti dia." seru Vincen, dengan kedua mata memerah menahan amarah.


"Lagi pula siapa dia. Egi. Dia hanya seorang pebisnis muda yang kebetulan sukses. Karena melanjutkan perusahaan milik papanya yang sudah meninggal." ujar Vincen penuh amarah.


"Dan kamu." Mauren menunjuk tepat di dada Vincen. "Kamu juga melanjutkan perusahaan papa kamu. Apa bedanya." ucap Mauren membuat Vincen bungkam.


"Ingat, semua yang kamu miliki akan hancur. Jika tetap mendekati Lily. Aku sudah mengingatkan kamu. Paham." Mauren meninggalkan Vincen yang masih di kuasai amarah.


Langkah Mauren terhenti, membalikkan badan dan mengucapkan sesuatu pada Vincen. "Selidiki dulu, siapa lawanmu." ujar Mauren penuh tekanan. Memberi saran sebelum benar-benar meninggalkan saudaranya tersebut.


"Kenapa?" tanya Lily heran, saat Egi meniup telapak tangannya dengan wajah cemas.


"Pasti sakit." Egi tetap meniup telapak tangan Lily sambil mengusapnya.


Lily tersenyum, dia tahu kenapa Egi melakukan hal ini. Lily menarik telapak tangannya dari tangan Egi. "Kamu lupa, jika kekasihmu ini sudah mengikuti kursus bela diri." ucap Lily mengecup singkat pipi Egi.


Beni yang berada di kursi depan di belakang kemudi hanya bisa mendengar dua insan yang duduk di kursi belakang. Mengumbar keromantisannya. "Beruntung aku sudah mempunyai istri." ucap Beni dalam hati.


"Kenapa?" tanya Egi saat Lily menatapnya dengan pandangan yang rumit. Lily segera menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Egi.

__ADS_1


"Tenang saja. Aku bukan lelaki kejam." Egi mencium kening Lily. "Tapi jika dia berani mengusik milikku. Aku juga tidak segan-segan." lanjut Egi.


__ADS_2