PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 45


__ADS_3

Seperti apa yang dikatakan Egi, Amanda berjalan ke luar apartemen dengan santai dan tenang. Masuk ke dalam taksi yang sudah berada di parkiran.


"Ke universitas Y pak." ucap Amanda begitu masuk ke dalam taksi. Amanda melihat ke arah belakang, ada dua mobil di belakang taksi.


"Mungkin mereka anak buah Egi, atau anak buah Revan." ucap Amanda dalam hati menebaknya, merasa nyaman dan tenang sekaligus takut.


Nyaman dan tenang, jika mereka memang benar bawahan Egi. Karena pasti keselamatannya akan terjaga.


Tapi berbeda cerita jika mereka orangnya Revan. Amanda sedikit takut, jika orang-orangnya Revan melakukan hal buruk padanya.


Tapi sebisa mungkin Amanda harus menenangkan dirinya. Amanda menarik nafas pelan dan panjang. "Ingat, sekarang bukan saatnya merasa takut. Ada mama sama papa yang sedang berjuang. Dan aku, aku di sini juga harus berjuang." ucap Amanda dalam hati. Membuatkan tekad.


"Aduh, maaf pak. Bapak bisa menunggu. Saya lupa tidak membawa uang sepeserpun." ucap Amanda jujur setelah taksi berhenti di depan universitas tempatnya mengenyam pendidikan dulu.


Amanda merasa tidak enak pada sopir taksi. "Bagaimana aku bisa lupa." Amanda memukul pelan dahinya sendiri. Karena tas beserta isinya belum ada di tangannya.


"Egi juga, kenapa tadi tidak mengingatkan." gumam Amanda sedikit kesal.


"Maaf mbak, tidak perlu. Saya sudah di bayar oleh seseorang yang memesan taksi saya." jelas pak sopir.


"Benar pak?" tanya Amanda sungkan. Takut jika pak sopir menganggapnya hanya numpang untuk naik taksinya.


"Iya mbak."


Amanda melangkahkan kakinya ke dalam. Ingin rasanya dia mengeluarkan ponsel yang naru daja di berikan oleh Egi.


Amanda berhenti, melihat sekeliling. "Jangan. Bahaya jika sampai anak buah Revan melihat. Dan malah melapor." gumam Amanda.


"Hai Amanda." teriak seorang perempuan cantik dan juga seksi. Berjalan mendekat ke arahnya. Dengan di sampingnya ada seorang lelaki. Yang juga berjalan ke arahnya.


Amanda hanya diam. Mengamati mereka berdua. "Kamu lupa ya." ucap Zea, mengerlingkan sebelah matanya.


Seketika Amanda teringat akan dua nama yang di katakan oleh Egi. "Maaf, sudah lama tidak bertemu. Sedikit blank." ucap Amanda.


"Zea, dan Zeo." gumam Amanda, keduanya hanya tersenyum samar. Tapi masih bisa dilihat oleh Amanda.


Amanda mengajak mereka untuk pulang dulu ke rumah Amanda. Di dalam mobil, Amanda menceritakan semuanya.


Pastinya tentang Revan. "Maaf Nona, Tuan Egi sudah memberitahu kami. Apa saja tugas yang akan kami lakukan." ujar Zeo di belakang kemudi.


Amanda merasa terkejut. Sifat dan sikap yang ditunjukkan oleh Zea maupun Zeo berbanding terbalik dengan apa yang ditunjukkan padanya saat mereka masih di kawasan kampus.


Amanda merasa jika mereka sekarang inilah yang sebenarnya. Dan tadi, saat di kampus. Mereka hanya berpura-pura.

__ADS_1


Amanda memandang ke arah kursi di depan. Di mana ada Zea dan Zeo yang duduk di sana. Jika Zeo hanya memakai kaos dan celana jeans panjang.


Berbeda dengan Zea. Dia memakai kaos yang melekat sempurna di badan. Memperlihatkan bentuk tubuh Zea yang tak jauh dari Amanda.


Dengan bawahan, sebuah rok pendek di atas lutut. Membuat penampilan Zea bertambah seksi. "Tuan Egi memberi perintah pada kami untuk selalu membantu dan selalu ada di samping Nona. Sampai Tuan Egi sendiri yang akan memberi perintah. Kapan kami harus berhenti." ucap Zea menjelaskan.


"Terimakasih." cicit Amanda.


"Anda tidak perlu sungkan. Katakan apa saja pada kami. Kami akan membantu semampu kami." ungkap Zea.


"Setelah turun dari mobil, perkenalkan kami sebagai asisten anda. Termasuk kepada Revan. Untuk semuanya, biar Zeo yang akan mengurusnya." imbuh Zea.


Amanda melihat, jika keduanya bukanlah orang sembarangan. Lagi pula, mana mungkin Egi meletakkan sembarang orang di samping Amanda.


Terlebih di sekitar Amanda ada banyak ular yang siap mematuk dan melilit Amanda hingga kehabisan nafas. "Apa yang Egi katakan pada kalian untuk langkah awal kita?" tanya Amanda.


"Mengambil kembali properti yang sudah berada di tangan Revan." tegas Zeo.


Amanda terdiam. Bukannya bodoh, tapi Amanda memang tidak tahu bagaimana caranya. Apalagi jika Amanda benar-benar sudah menandatanganinya. Bukankah itu akan sulit.


"Pertama, kita harus mencari dan mengambil dokumen atau berkas yang berkaitan dengan hal tersebut. Untuk segera di pelajari." jelas Zeo, yang melihat Amanda seperti kebingungan.


"Itu dia yang sedang aku pikirkan. Bagaimana cara mendapatkannya. Sementara aku sendiri tidak tahu tempatnya yang pasti." ucap Amanda lirih.


Amanda merasa sedikit takut melihat raut wajah Zea. Dan beruntung mereka adalah orangnya Egi. Membuat Amanda segera melenyapkan rasa takutnya yang pastinya tidak diperlukan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Egi memeluk tubuh Lily dari samping. "Egi, lepas...." rengek Lily dengan cemberut. Lily hanya takut dan malu, seandainya Egi mendengar suara detak jantungnya yang kencang. Dan juga kedua pipinya yang bersemu merah.


"Serius, minta di lepas." bisik Egi tepat di telinga Lily.


Egi menaruh kepalanya di pundak Lily. "Jangan menyesal. Karena jika kamu meminta untuk aku melepaskan, maka aku akan cari yang lain. Yang mau aku peluk." ucap Egi, menggoda Lily.


"Amanda juga cantik. Dia jauh lebih seksi dari kamu." Egi melepaskan pelukannya. "Semalam, Amanda benar-benar seksi." goda Egi.


Lily memukul keras lengan Egi sambil cemberut kesal. Egi tertawa terbahak. "Makanya, jangan minta lepas. Menyesalkan." Egi kembali merengkuh tubuh Lily ke dalam pelukannya.


Lily melingkarkan tangannya di perut Egi. Tersenyum bahagia. "Aku kira semalam kamu tidak datang." ucap Lily, memainkan jarinya di lengan Egi. Seperti sedang menggambar pola acak.


"Tidak perlu membahas tentang itu lagi." ucap Egi, mencium pucuk kepala Lily.


"Ada apa?" tanya Lily, menyadari jika Lily memikirkan sesuatu. Saat tangan Lily berhenti.

__ADS_1


"Apa kamu menyukai perempuan seperti Amanda?" tanya Lily lirih sambil menunduk.


Egi mengubah posisinya duduk. Keduanya lantas saling berhadapan. Egi memegang dagu Lily, membawa wajah Lily untuk bersitatap langsung dengannya.


"Dia hanya seorang perempuan yang kebetulan membutuhkan pertolonganku. Dan kenapa aku melibatkan kamu. Sepertinya kamu bukan perempuan bodoh, yang tidak bisa menebak jalan pikiranku." jelas Egi tersenyum.


Lily mengalihkan pandangannya. Mengatupkan dengan erat bibirnya, supaya tidak tersenyum. Apalagi kedua pipinya sudah bersemu merah karena perkataan yang dilontarkan Egi.


Egi secara tidak langsung mengatakan jika dirinya ingin Lily mengetahui dan juga ikut membantu Amanda. Sehingga Lily tidak salah paham fan berprasangka buruk pada Egi.


"Maksud aku bukan itu." ucap Lily, dengan nada lucu. Dengan bibir setengah maju.


"Aaw..." seru Lily saat tangan Egi mencubit bibirnya. "Lalu apa?" tanya Egi.


"Emmm,,, pakaian Amanda semalam." tutur Lily dengan hati-hati.


"Tidak. Aku tidak menyukainya." tegas Egi. Spontan Lily melihat ke arah Egi yang sudah menatap ke arah lain, dan melepaskan tangannya di dagu lancip milik Lily.


Egi kembali menatap Lily. "Jika kamu menginginkan perubahan pada pakaian, tidak masalah. Asal tetap sopan. Dan ingat, jangan memperlihatkan bagian tubuh kamu yang penting." Egi menekan dengan pelan dahi Lily menggunakan jari telunjuknya.


Lily segera mengangguk. "Lalu, apa kamu tidak keberatan. Jika aku tetap memakai pakaian seperti biasanya." tanya Lily.


Karena dalam kesehariannya, Lily lebih banyak menggunakan kaos longgar dan kemeja sebagai atasannya. Dan celana jeans panjang sebagai bawahannya.


Tak lupa, Lily selalu menggunakan sepatu. Dia bahkan jarang sekali menggunakan high hell. Lily hanya akan menggunakan high hell saat acara tertentu.


"Tidak masalah, asal kamu merasa nyaman." ucap Egi, merasa tidak keberatan.


"Bukankah nanti siang jadwal kamu masuk kelas bela diri?" tanya Egi.


Lily mengangguk tanpa menampilkan ekspresi apapun. Dan Egi menangkap, jika sebenarnya Lily setengah hati melakukannya.


"Dengarkan aku." Egi memegang kedua pundak Lily.


"Bukannya aku menyuruh kamu melakukan semua itu tanpa alasan. Kamu ingat, kejadian saat kamu hampir di lecehkan seorang lelaki di parkiran apartemenku?" tanya Egi, Lily mengangguk.


"Dan Amanda, dia juga hampir dilecehkan. Karena dia sama seperti kamu. Dia tidak mempunyai kemauan untuk menjaga diri." imbuh Egi.


Lily terdiam mencoba mencerna perkataan Egi. "Apa artinya kamu tidak mau melindungi aku. Dan Amanda..." ucap Lily menggantung.


"Aaaawww." seru Lily, saat Egi menyentil dahinya.


"Ckk,, kenapa kamu berpikir seperti itu. Katanya calon pengacara." decak Egi, kesal dengan Lily.

__ADS_1


"Iya, maaf." Lily memeluk tubuh Egi, dan tersenyum. Bisa-bisanya dia berpikiran sejauh itu.


__ADS_2