
Rutinitas tumini malam itu pun telah selesai dan dia segera merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk.
"Ah, akhir-akhir ini, hatiku selalu saja gelisah" gumam Tumini sambil melihat atap rumahnya yang sudah terlihat lapuk.
"Gubrak" tiba-tiba terdengar suara aneh dan suara itu berasal dari ruang tengah dimana disitu terdapat selendang ijo milik Tumini.
"Ah, suara apa itu?" gumam Tumini dalam hati.
Karena rasa penasaran yang bergejolak dalam hatinya, Tumini segera melihat suara apa itu dan dimana sumber suara aneh yang sudah mengusik telinganya.
Pada waktu itu, tepat jam satu malam, Tumini mengendap-endap menuju arah suara dan tanpa sengaja Tumini melihat sosok bayangan hitam yang memegang selendang ijo miliknya.
"Hei, siapa kamu? ucap Tumini kepada sosok bayangan itu.
Bayangan hitam itu langsung diam menghentikan aktifitas nya dan melihat ke arah Tumini
Tubuh Tumini bergetar hebat melihat sosok bayangan hitam itu yang memandang ke arahnya.
Mata berwarna putih, dan tubuh hitam legam membuat siapa saja yang memandangnya bisa pingsan dibuatnya.
Tak kerkecuali Tumini. Setelah melihat seram nya wajah makhluk aneh itu, seketika tubuh Tumini terjatuh dan tak bisa mengendalikan keseimbangan nya. Tumini pingsan tepat dihadapan makhluk aneh itu.
Makhluk aneh itu segera menjilat tubuh Tumini tanpa disadari oleh Tumini. Air liur maklhuk itu membasahi tubuh tumini.
akibat air liur yang menempel pada tubuh Tumini, bau amis pun menyebar di seluruh tubuh Tumini tanpa Tumini sadari. Sementara itu Ririn sang adik masih saja tertidur pulas dan tak mengetahui hal besar yang telah terjadi pada kakak nya.
Tak terasa, waktu sudah pagi dan matahari telah masuk ke dalam rumah mereka. Ririn yang sedang asyik tidur akhirnya terbangun. Dengan mata yang masih sayup menahan kantuk, Ririn segera bergegas menuju kamar mandi.
Saat Ririn keluar dari dalam kamarnya, bau amis menyengat mulai tercium olehnya dan hal itu membuat matanya yang semula masih mengantuk dengan seketika menjadi segar kembali.
"Oh, bau busuk apa ini"
"Mengganggu hidungku saja" gumam Ririn sambil melihat ke sekelilinh ruangan
Ririn segera pergi mendekat ke arah dimana bau menyengat tadi tercium.
"Hah, kak Tumini?" pekik Ririn sambil melihat ke arah Tumini yang saat itu masih dalam keadaan pingsan.
Banyak lendir berbau busuk menempel di tubub Tumini dan hal itu membuat Ririn jijik untuk mendekati kakak nya.
"Kak Tumini, ayo bangun" panggil Ririn sambil menggoyang goyangkan tubuh Tumini.
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama, Tumini mulai bisa bangun dari pingsan nya.
"Oh, apa yang terjadi denganku?" tanya Tumini kepada Ririn yang saat itu berada di sampingnya.
"Kak Tumini, aku juga tidak tahu apa yang telah terjadi pada kak Tumini"
"Tubuhmu penuh lendir dan berbau"
"Kau dari mana saja kak?" tanya Ririn penasaran
Tumini segera mengingat-ingat apa yang telah terjadi kepadanya malam itu, dan setelah ingat semuanya, Tumini menghela nafas panjang. Tubuhnya bergetar hebat dan jantung nya berdenyut dengan sangat keras
"Ririn, aku ingat sekarang"
"Tadi malam, ada makhluk aneh berada di dalam kamar ini"
"Dia memegang selendang ijo milikku"
"Aku bertanya kepadanya siapa dia sebenarnya"
"Saat dia menoleh ke arahku, aku terkejut karena wajahnya sangat buruk sekali"
Ririn memandang kakak nya dengan sangat dalam dan berkata
"Kak Tumini, sekarang tenangkan hati kakak terlebih dahulu"
"Ayo aku antar kakak ke kamar mandi"
"Bersihkan tubuh kakak terlebih dahulu" ujar Ririn sambil membopong tubuh kakak nya yang masih belepotan dengan lendir berbau yang sangat mengganggu hidungnya.
Tumini pun segera pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Sementara itu, Ririn pergi ke kamar Tumini dimana selendang ijo itu di simpan. Dibuka nya lemari milik Tumini dan dirinya melihat selendang ijo milik kakak nya sudah terlipat rapi di dalam lemari biasa dimana kakak nya telah menyimpannya.
"Sangat aneh"
"Kakak ku bilang selendang ijo ini hampir dixuri oleh makhluk aneh"
"Tapi mengapa selendang ijo ini tetap tersimpan rapi di dalam lemari milik kakak ku" gumam Ririn dalam hati.
Sambil berpikir, terdengar suara Tumini memanggil nya dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Ririn, tolong ambilkan baju kakak di lemari" ucap Tumini
"Baik kak" jawab Ririn sambil pergi menuju lemari baju milik kakak nya.
Di tempat lain, makhluk yang tadi ditemui oleh Tumini rupanya berada di sebuah gua perbatasan antara desa Tumini dan desa aki mamang. Ternyata makhluk itu sejenis dedemit penjaga selendang ijo yang saat ini masih dipakai oleh Tumini. Nama dedemit itu adalah Saloki arum. Saloki arum berusia sekitar 1000 an tahun waktu dunia dan dia merupakan dedemit paling cantik di kampungnya.
Selendang ijo milik Saloki arum rupanya telah dicuri oleh jin milik aki mamang, dan hal itu membuat Saloki arum geram.
Karena merasa selendang ijo itu masih miliknya, Saloki arum berusaha mencarinya dan baru tadi malam dirinya menemukan selendang ijo miliknya berada di rumah Tumini.
"Hem, aku harus merebut selendang ijo yang memang menjadi hak ku" ucap Saloki arum sambil menujukkan wajah geram.
"Kau masih beruntung tumini, karena hari menjelang pagi"
"Jika tidak, aku akan membawa mu ke alam dedemit ku" gumam Saloki arum sambil menjulurkan lidahnya.
Sementara itu, jin milik aki mamang yang sebelumnya diminta aki mamang untuk menjaga selendang ijo kembali kepada aki mamang untuk melapor karena telah diserang oleh Amin yang merupakan teman dari Hendra. Dirinya tak kuat menahan panas akibat energi lantunan doa yang diucapkan Amin.
"Aki, sementara aku telah di serang"
"Sosok manusia yang bernama Amin telah menyerangku dan hampir membakar tubuhku" ucap jin penjaga selendang ijo melapor kepada Aki mamang.
Aki mamang memandang ke arah jin peliharaannya itu dan mengucapkan beberapa mantra
"Sekarang bagaimana, apakah tubuhmu telag pulih?" tanya aki mamang setelah mengakhiri mantranya.
"Iya aki,"
"Tubuhku mulai pulih" ucap jin penjaga selendang ijo.
"Kalau begitu, kembalilah ke rumah Tumini"
" Aku melihat, dedemit saloki arum telah mengetahui jika selendang ijo miliknya berada di rumah Tumini"
"Kau harus menghalangi Saloki arum untuk mendapatkan selendang nya kembali" ucap aki mamang kepada jin penjaga selendang ijo.
"Baiklah aki"
"Aku akan kembali" jawab jin penjaga selendang ijo dan dalam waktu sekejab, jin penjaga selendang ijo telah menghilang daro hadapan aki mamang dan kembali menempati selendang ijo milim Tumini.
Aki mamang mulai melantun kan berbagai macam mantra untuk menghilangkan lendir bekas saloki arum yang saat itu masih menempel di selendang ijo milik Tumini dan tak membutuhkan waktu lama, selendang ijo milik Tumini kembali bersih seperti semula.
__ADS_1