
Acara pertunjukan tarian Tumini dan Ririn rupanya telah berakhir. Mereka berdua dipanggil oleh Hendra ke dalam ruangannya.
Tentunya, Hendra akan memberikan upah kepada mereka berdua. Para pelanggan hendra yang kebanyakan dari prajurit Belanda rupanya sangat puas dengan tarian yang dipertontonkan oleh Tumini dan adiknya.
"Permisi tuan hendra"
"Apakah kau memanggil kami?" tanya Tumini kepada Hendra yang saat itu sedang duduk di ruang kerjanya.
"Oh ya Tumini, masukkah" ucap Hendra kepadwa Tumini
"Ayo duduk lah" pinta hendra sambil menyediakan tempat duduk kepada Tumini.
"Baiklah Tuan hendra" jawab Tumini.
Tumini dan Ririn akhirnya duduk di tempat yang telah disediakan Oleh Hendra.
Ririn yang berada di samping Tumini tak banyak bicara. Dirinya hanya mengikuti kakak nya dari belakang.
"Tumini"
"Kau sungguh luar biasa"
"Aku suka dengan penampilan mu hari ini"
"Jika kau berkenan, kau akan aku bawa pergi ke tempat dimana di tempat itu akan diadakan pertunjukan akbar" ucap Hendra sambil memandang wajah Tumini tampa berkedip.
"Oh benarkah Tuan"
"Dengan senang hati, aku menerima tawaran mu"
"Kapan kami akan mengisi acara itu tuan Hendra?" tanya Tumini penasaran
"Sekitar seminggu lagi"
"Kau persiapkan dengan matang segala hal yang berkaitan dengan penampilan mu"
"Jika perlu, aku akan membelikan semua kebutuhan mu" ucap Hendra tanpa berpikir panjang.
Tumini terlihat senang melihat perlakuan hendra kepadanya. Sesembari membetulkan rambutnya yang tergerai indah, dirinya menyempatkan diri untuk bertanya sesuatu hal kepada Hendra.
"Apakah aku akan menari bersama adikku, Ririn?" tanya Tumini sambil sesekali memandang ririn yang saat itu berada di dekatnya.
"Boleh juga"
"Kau bisa bersama adikmu"
"Tapi ingat, untuk penari utama tetap kau yang berada di panggung itu"
"Perihal adikmu, nanti biar panitia yang mengatur jadwal nya" jawab Hendra pendek.
" Baiklah tuan Hendra" jawab Tumini
"Tuan hendra, saya ijin pulang sebentar bersama Ririn"
"Seminggu lagi, saya akan datang kemari untuk menemui tuan hendra lagi" ucap Tumini sambil beranjak pergi meninggalkan hendra yang sejak tadi terus memandang wajahnya.
"Tumini, tunggu"... tiba tiba hendra memanggilnya. Sepertinya ada sesuatu hal yang belum hendra lakukan untuk Tumini.
__ADS_1
Tumini menoleh ke arah hendra dan sambil tersenyum sopan, tumini memberanikan diri untuk bertanya pada Hendra mengapa dirinya di panggil lagi.
"Ada apa tuan Hendra?" tanya Tumini penasaran.
Hendra tiba-tiba memasukkan beberapa lembar uang ke saku baju Tumini dan hal itu membuat Tumini terkejut
"Tuan Hendra, terimakasih banyak"
"Ya, Tumini"
"Hampir saja aku lupa memberikannya kepadamu" ujar Hendra
"Ah, tuan Hendra, jika kau tak memberikan tip kepadaku sekarang, kau bisa memberikannya lain waktu" ucap Tumini sambil tersenyum kecil.
"Ha ha ha"
"Kau bisa saja membuatku tertawa"
"Oh ya, uang tip yang aku berikan, sebagian untuk Ririn" ujar Hendra
"Baiklah tuan"
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu" ucap Tumini sambil menundukkan kepalanya ke arah hendra.
Hendra menganggukkan kepalanya sambil tak bosan-bosan memandang Tumini sampai Tumini tak terlihat lagi dari pandangannya.
Waktu semakin malam saja. Hendra mulai tiduran di ranjang nya. Dalam pikiran nya, bayangan Tumini rupanya telah melekat dan seakan tak bisa hilang.
"Ah, mengapa aku tak bisa tidur" gumam Hendra sambil memegangi kepalanya
Rupanya, aura pelet yang ada dalam tubuh Tumini berhasil menghipnotis Hendra yang sejatinya sangat lemah dalam supranatural nya.
Sementara itu, sahabat Hendra yang bernama Amin mulai merasakan keanehan yang dialami oleh Hendra dan tak ingin masalah ini berlarut-larut.
"Hendra, ada apa kau?"
"Sepertinya kau tidak bisa tidur sejak tadi" ucap Amin yang sejak tadi belum juga pulang dari rumah Hendra.
Melihat keanehan yang dialami oleh sahabat nya itu, sengaja amin tidak pulang ke rumahnya dan meminta ijin kepada Hendra untuk menginap sehari di rumah Hendra, dan untungnya hendra mengijinkannya.
"Entahlah"
"Bayangan Tumini, tak bisa hilang dari pikiran ku" ucap Hendra jujur
"Kalau begitu, aku akan mengambilkan secangkir air untukmu"
"Sepertinya, kau kurang minum hari ini" ucap amin sambil pergi ke dapur guna mengambilkan secangkir air untuk Hendra.
"Ada apa dengan Hendra?"
"Sepertinya, sangat aneh dia memikirkan wanita hingga sedalam itu"
"Biasanya, dia hanya sebatas kagum saja kepada setiap wanita yang dijumpainya"
"Mengapa sekarang karakter Hendra berubah 180 derajat?" gumam Amin dalam hati.
Sambil terus berpikir, Amin mengambilkan secangkir air putih untuk hendra dan tak lupa dirinya membacakan ayat kursi agar segala kegundahan hendra bisa sedikit reda.
__ADS_1
Sambil membaca ayat kursi, Amin meniupkan nya ke secangkir gelas yang akan diberikannya kepada Hendra.
"Hendra, minumlah"
"Mungkin dengan meminum air ini, segala kegundahan mu sedikit reda" ucap amin sambil menyodorkan segelas air kepada Hendra.
"Oh, terimakasih kawan" jawab hendra pendek.
Hendra segera meminum air pemberian dari Amin dan berkata
"Hem, segar sekali" ucap Hendra sambil memandang ke arah Amin.
"Kawan, aku sedikit mengantuk"
"Air pemberian mu sangat manjur"
"Benar katamu"
"Aku mungkin saja kecapekan tadi" ucap Hendra.
Sedikir demi sedikit, hendra mulai menutup matanya dan dengkuran hendra mulai terdengar keras.
Wajah lelah tampak di raut wajahnya dan Amin memandang wajah sahabatnya itu sambil bernafas lega.
"Kawan, untuk sementara, kau bisa sedikit enakan"
"Sepertinya, Pengaruh Tumini sudah sangat kuat merasuk dalam tubuhmu" ucap Amin dalam hati.
Amin segera tidur di samping hendra, karena saat itu dirinya juga sudah lelah sekali.
"Banyak hal yang akan kulakukan besok" ucap amin sambil ikut memejamkan matanya.
Di kediaman Tumini, Terlihat Tumini sedang membereskan segala alat tari untuk diletakkan nya di lemari tempat biasanya dirinya meletakkannya.
Selendang ijo yang sejak tadi berada di dalam tas nya dia keluarkan dan Tumini berkata kepada Ririn
"Ririn, tidurlah duluan"
"Aku harus menyimpan selendang ijo ini ditempat khusus tanpa siapapun tahu termasuk kamu" ucap Tumini sambil memandang ke arah Ririn
"Ah, kak Tumini"
"Sampai segitunya kau curiga kepadaku"
"Aku tak mungkin mengambil selendangmu tanpa seijinmu" ucap Ririn kepada Tumini
"Bukan begitu"
"Aku tak mau saja jika selendang ijo ini dipakai tanpa sengaja olehmu mengingat, kau juga memiliki selendang berwarna hijau"
"Hanya saja, selendang mu berbeda dengan selendang yang aku miliki" ucap Tumini.
"Baiklah kak"
"Kalau begitu, aku akan tidur duluan"
"Jangan terlalu malam tidurnya kak"
__ADS_1
"Tak baik untuk kesehatan mu" ucap Ririn kepada Tumini.
Tumini hanya tersenyum kecil mendengar nasehat adiknya. Tanpa Tumini sadari, pengaruh pelet selendang ijo yang mengenai Hendra sedang berbalik menuju ke arahnya malam itu.