
Kebo ijo mulai mengintai arwah Indah dari jarak jauh.
"Arwah manusia itu sepertinya tak tenang di alam sana" gumam kebo ijo sambil terus mengamati Indah
Sementara itu, Sandra dan Doni mulai menentukan tanggal pernikahan mereka. Sekitar seminggu lagi mereka akan melangsungkan pernikahan
"Doni, apakah kau sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Sandra
"Ya Sandra, aku sudah mempersiapkan semuanya"
"Alangkah baiknya, kita adakan ritual pengusiran roh halus saja, agar pernikahan kita lancar nantinya" ucap Sandra mengingatkan Doni
"Yasudahlah Sandra"
"Aku menurut saja dengan mu"
"Yang penting, acara kita nanti lancar tak ada gangguan" jawab Doni pasrah.
"Nih, ada sisa dupa, dan kembang 7 rupa"
"Aku mendapatkannya dari kyai yusuf saat kita berkunjung di sana" ucap Sandra sambil menyerahkan dupa dan kembang 7 rupa
"Kau mendapatkannya dari kyai Yusuf?"
"Aku tak pernah kelihatan kau mendapatkannya dari kyai yusuf"
"Bukankah kita selalu bersama di sana?" tanya Doni penasaran
"Sudahlah Doni"
"Semakin kau bertanya semakin panjang jawabannya dan kita tak kan pernah selelsai" Ucap Sandra lirih
"Baiklah" jawab Doni tak bertanya lagi karena hanya akan sia-sia aja.
Tepat malam jumat Kliwon, Sandra dan Doni mengadakan ritual di kamar mereka. Kembang tujuh rupa telah dipersiapkan di kamar mereka. Satu ekor ayam, ditambah lauk pauk dan makanan lengkap sudah tersedia di sesajen yang akan mereka doakan.
"Sandra, sepertinya sudah lengkap semua bahan kita"
"Apa kita akan memanggil pak kyai terdekat?" tanya Doni pada Sandra
"Ya, kita panggil ustadz Rosi saja"
"Dia pasti ada di rumahnya sekarang" ucap Sandra pada Doni
Doni pun pergi memanggil ustadz Rosi yang saat itu berada di rumahnya.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah ustadz Rosi, kejadian aneh menimpa Doni.
"Ada apa ya, seperti ada yang mengikuti aku?" gumam Doni sambil terus berjalan ke rumah ustadz Rosi yang tak jauh dari rumahnya.
__ADS_1
Tampak kebo ijo mengikuti Doni dari belakang. Dirinya penasaran dengan apa yang akan dilakukan Doni setelah ini.
Sesampai di rumah ustadz Rosi, Doni segera mengetuk pintu rumahnya.
"Asalamualaikum Ustadz" panggil Doni
Setelah panggilan yang ketiga, ustadz Rosi mulai membukakan pintu untuk nya
"Walaikum salam Doni"
"Lama tak bertemu"
"Bagaimana keadaan Sandra?"
"Sehat?" tanya ustadz Rosi penuh senyum
"Iya pak ustadz"
"Keadaan Sandra sehat" jawab Doni pendek
"Ayo duduk dulu" kata ustadz Rosi mempersilahkan Doni duduk.
Akhirnya Doni duduk di tempat yang telah disediakan oleh ustadz Rosi dan saat itu juga Doni mengutarakan maksud nya datang ke rumah ustadz Rosi.
"Ustadz Rosi, tujuan kedatangan ku kemari adalah meminta bantuan doa"
"Seminggu lagi, kami akan melangsungkan pernikahan"
"Semua bahan sudah kami siapkan ustadz" ucap Doni
"Baiklah, aku ambil wudhu dulu, setelah itu kita berangkat bersama" kata ustadz Rosi
Ustadz Rosi akhirnya langsung beranjak dari tempat duduk nya semula dan pergi untuk mengambil air wudhu.
Doni dengan sabar menunggu ustadz Rosi sampai selesai ambil Wudhu. Tampak kebo ijo mengintip dari kejauhan pembicaraan antara ustadz rosi dan Doni. Hanya saja kebo ijo tak bisa masuk ke rumah ustadz Rosi karena di depan pintu rumah ustadz Rosi telah diberi doa-doa pengusir dedemit dan setan.
Setelah selesai berwudu, Ustadz Rosi dan Doni akhirnya berangkat menuju rumah Sandra. Waktu itu suasana masih sore hari dan acara ritual selamatan dilaksanakan setelah magrib tiba.
Sesampai di rumah Sandra, ustadz Rosi disambut oleh Sandra dengan antusias.
"Mari Ustadz Rosi, silahkan masuk" Sandra mempersilahkan ustadz Rosi untuk masuk ke dalam rumahnya.
Ustadz Rosi pun langsung masuk, dan duduk di tempat yang telah disediakan. Tampak sesajen dan makanan ada di sana. Setelah semua sudah siap, mereka bertiga mulai berdoa mulai dari membaca basmallah hingga surat yasin.
Kebo ijo yang ada di luar pintu tampak kepanasan mendengar lantunan ayat suci Alqur an yang dibacakan oleh ustadz Rosi. Karena merasa sangat panas, kebo Ijo langsung menjauh dan berada di luar rumah Sandra dan Doni.
Roh Indah juga merasakan hal yang sama dengan kebo ijo. Dirinya juga merasakan kepanasan dan kembali ke kuburannya yaitu alam dedemit yang terletak tak jauh dari tempat tinggal kebo ijo.
Satu jam telah berlalu, ritual yang dilakukan oleh ustadz Rosi akhirnya telah selesai. Mereka mengucapkan alhamdulillah. Sebelum pulang, ustadz Rosi memberikan jimat dan diletakkan di depan pintu rumah Sandra.
__ADS_1
"Sandra, aku memberikan jimat doa ini. Lelembut dan dedemit tidak akan berani masuk ke rumah ini.
"Jangan sampai jimat ini terkena angin dan terbang ya?"
"Kalau bisa, kalian mengecek nya sebulan sekali"
"Laporkan padaku jika jimat nya hilang" ucap ustadz Rosi memberi arahan
"Baiklah ustadz, terimakasih banyak ya"
"Ini ustadz" Sandra langsung memberikan sebuah amplop kecil berisi uang secukupnya dan ustadz Rosi menerimanya.
"Terimakasih ya, kalau begitu saya langsung pulang dulu" ucap ustadz Rosi.
"Oh, ya"
"Sesajennya, letakkan di luar rumah"
"Biar makhluk lain ikut menikmati pesta ini, dan tidak mengganggu kalian karena sudah kalian beri makan" ucap ustadz Rosi
"Baiklah ustadz Rosi" jawab Sandra
Setelah ustadz Rosi pulang dan tak terlihat lagi batang hidungnya, Sandra segera melakukan amanat dari ustadz Rosi.
Sesajen yanh sudah didoakan dibawa oleh Sandra ke depan rumah mereka.
Kebo ijo yang melihat makanan itu langsung mengeluarkan air liur nya dan tanpa berpikir panjang memakan makanan itu dan lupa akan rencana awal yaitu mencari anaknya.
"Aku akan membawa makanan ini ke tempat tinggal ku" gumam kebo ijo dan saat itu juga kebo ijo menghilang dari rumah Sandra dan Doni.
Selain kebo ijo, ada dedemit lain yang juga menikmati sesajen tadi. Tampaknya ritual yang dilakukan oleh Sandra dan Doni telah membuahkan hasil.
Di tempat lain, yaitu di gunung kalong, Rudi telah dinyatakan tak bisa sembuh oleh sesepuh Suroso dan akhirnya pak Suroso mengatakan hal ini kepada orang tua Rudi yang sudah sangat cemas menunggu kabar dari nya di ruang tamu.
"Bagaimana pam Suroso?"
"Apakah anak saya bisa sembuh dan berbicara lagi seperti biasa?" tanya ibu Rudi penasaran
Sambil menghela nafas panjang, pak Suroso berkata
"Maaf ibu, bapak, kami sebagai warga desa kalong telah berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikan Rudi seperti semula, namun kami tak bisa melakukan apa-apa"
"Penunggu gunung Kalong telah berpesan, mereka tak bisa membantu Rudi" ucap pak Suroso tanpa mengatakan apa-apa lagi
Orang tua Rudi dan teman Rudi menangis sejadi-jadinya melihat nasib Rudi yang sungguh sangat miris. Pak Suroso dan pak Rt berusaha menenangkaj hati mereka dan meminta mereka istigfar karena ini adalah cobaan yang maha kuasa.
Setelah semua tenang, mereka semua akhirnya pamit dengan membawa Rudi untuk kembali ke kota.
Setelah kejadian itu, gunung Kalong semakin ditakuti oleh beberapa pendaki yang akan mendaki ke sana. Para orang tua mulai gencar menasehati anak mereka agar tak pergi ke gunung Kalong. Semakin lama gunung Kalong semakin sepi dan makin angker.
__ADS_1
Warga yang ada di sekitar gunung Kalong juga kebanyakan merantau ke lain daerah karena gunung itu tak bisa dijadikan warga untuk mencari nafkah. Kebanyakan warga takut untuk mendaki ke sana setelah kasus Rudi Viral.
Pak Rt dan pak Suroso ditambah warga lain yang tersisa hanya bercocok tanam disekitar lembah dan sebagian warga yang lain menunggu kiriman uang dari keluarga mereka yang merantau di kota.