Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Devi marah


__ADS_3

Suatu keanehan mulai muncul. Ruangan rahasia tempat devi berubah menjadi suatu lorong sempit tak selebar tadi saat ustadz Janu masuk ke sana. Ranjang merah yang terlihat lebar ternyata hanya ilusi saja. Tubuh devi saat menyusui sang tuyul sejatinya hanya berada di lantai bawah dan dingin. Tak ada selimut disana. Yang ada hanya dedaunan kering yang terlihat seperti selimut sebelum kedatangan Tumini.


Rumah megah Devi yang terlihat sangat kokoh itu berubah menjadi rapuh dan rusak.


Ustadz Janu membantu Devi dan suaminya agar keluar dari ruangan itu karena sebentar lagi, rumah devi akan roboh.


"Hei, cepat bangun pak"


"Ayo cepat"


"Kita segera keluar dari sini" ajak ustadz Janu pada suami devi yang baru bangun dari pingsan nya.


Suami devi langsung berusaha bangun dengan susah payah. Walau kepalanya masih pening, dia berusaha sekuat tenaga menggendong devi yang sudah mulai lemas.


Dengan segera mereka berdua langsung keluar dari rumah Devi yang hampir roboh itu.


"Mas, aku mau dibawa kemana?" tanya devi sambil melihat ke sekitar. Air susu milik devi tak berwarna putih lagi melainkan berwarna merah darah.


"Sudahlah dik"


"Kita keluar dari rumah ini sekarang" ujar suami devi pelan


Setelah berhasil keluar dari rumah mewah nya yang hampir roboh, Devi dan suaminya bisa sedikit bernafas lega.


"Mas, anak kita masih tertinggal di dalam" ucap Devi mengingatkan suaminya


"Ya bentar dik, aku akan masuk ke dalam untuk mengambil anak kita" ucap suami devi

__ADS_1


Suami devi segera masuk kembali ke dalam rumah, dan pergi ke ruangan tempat anak kandung mereka berada.


Terlihat anak kecil sedang menangis di sebuah kasur empuk.


Dengan cepat, suami devi mengambil anak nya dan pergi keluar rumah.


Dalam waktu lima menit, rumah megah miluk Devi tiba-tiba roboh tanpa ada angin dan hujan.


"Hah, rumahku kenapa bisa sampai roboh?" teriak devi menangis tersedu-sedu


Sekujur tubuh devi mulai lemas tak berdaya karena kehilangan banyak darah.


Sambil menangis, suami devi memeluk istrinya itu


"Dik, kita kembali ke awal"


"Tidak mas"


"Aku tidak mau miskin"


"Aku ingin tetap kaya" ucap Devi merintih sedih


"Dik, sudahlah"


"Lihatlah tubuhmu sudah sangat lemah"


"Aku tak tega melihatnya" ucap suami devi mencoba mencegah devi untuk berbuat nekat

__ADS_1


Sementara itu ustadz Janu mulai mendekati devi dan suaminya


"Pak, bu, apakah kalian berdua ikut pesugihan dengan bantuan jin?" tanya ustadz Janu sambil menatap ke arah devi


"Pak tua, kenapa kau ikut campur dengan aktivitas yang aku lakukan?"


"Memangnya siapakah kamu?"


"Sepertinya bapak bukan orang komplek sini" ucap devi sambil menatap ke arah ustadz Janu


"Bu, ketahuilah"


"Aku kesini atas permintaan ibu-ibu kampung yang meminta bantuan kepadaku"


"Mereka sering kehilangan uang nya"


"Padahal, tidak ada pencuri sama sekali yang terlihat di cctv" ujar ustadz Janu memberi penjelasan.


"Saat saya dalam perjalanan pulang, kebetulan saya melihat ada hal aneh yang terjadi dalam rumah ibu"


"Jadinya, saya langsung masuk ke dalam rumah ini" ucap ustadz Janu memberi pe jelasan.


"Iya pak tua"


"Kami berdua memang meminta bantuan jin agar kami cepat kaya"


"Memangnya kenapa pak?"

__ADS_1


"Bapak tak bisa ikut campur dengan aktivitas yang kami lakukan" ucap devi ketus.


__ADS_2