Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Episode 7 (Dugaan pasti)


__ADS_3

"Aku harus segera mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Tumini" gumam Amin sambil beranjak pergi dari tempat duduknya dan menuju ke arah dekat panggung di mana Tumini dan Ririn nantinya akan beristirahat di sana.


Sambil menunggu Tumini dan Ririn selesai menari, Amin bertanya kepada warga yang berada di sampingnya.


"Pak galuh, apakah tarian mereka bagus?" tanya Amin memancing pak galuh untuk menilai tarian yang Tumini dan Ririn mainkan.


"Hem, bagus sekali pak Amin"


"Lihatlah Tumini yang menari sangat lues sekali"


"Wajahnya juga sangat bersinar sekali"


"Aku sangat tertarik kepadanya" ujar pak galuh sambil menghisap rokoknya


"Pak galuh, bukankah Ririn lebih bagus tariannya dibanding Tumini?" tanya Amin berusaha meyakinkan pak gondo


"Ah, Ririn biasa saja sih"


"Mungkin, dia bisa ikut menari di sini karena Tumini adalah kakak nya"


"Jika Tumini bukan kakak nya, pastinya Ririn tak akan bisa berada di panggung ini karena masih banyak penari lain yang lebih cantik dibanding Ririn" ujar pak Galuh kepada Amin


Mendengar penjelasan pak galuh yang diluar nalarnya, Amin segera manggut-manggut dan pergi menuju ruang dimana Ririn dan tumini beristirahat di sana.


Benar dugaan Amin. Ririn dan Tumini saat itu sedang duduk di belakang panggung. Mereka tampak sedang menikmati makanan yang disajikan oleh pihak panitia.


Amin pun mencoba mendekati Tumini dan Ririn dan saat ada kesempatan, Amin segera menyapa Tumini dan Ririn.


"Tumini, bagaimana makanan yang telah di sajikan oleh panitia?"


"Apakah sudah layak menurutmu?" tanya Amin kepada Tumini


Tumini hanya mengangguk sambil tersenyum tanda jika tak ada kekurangan dalam makanan yang telah di sediakan untuknya.


Amin segera melihat tubuh Tumini dari atas hingga bawah, dan Amin melihat selendang ino yang saat itu masih dikenakan oleh Tumini.


"Tumini, selendangmu sangat indah"


"Kau memperolehnya dari mana?" tanya amin penasaran.


Amin bertanya pada Ririn bukan tanpa alasan. Dirinya rupanya mencium aroma tak sedap dalam selendang itu.


"Pak amin, apakah perlu aku menyebutkan semua hal yang rasanya tak perlu aku sampaikan".


"Selendang ini adalah pemberian dari almarhum ibuku"


"Sudah, puas?" ucap Tumini sambil memandang ke arah Amin dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh kebencian.


"Hem, iya Tumini"


"Aku hanya bertanya saja"


"Kau tak perlu risih atas pertanyaan ku ini"ucap amin sambil tersenyum sopan.


Tumini hanya diam menanggapi ucapan dari Amin dan meneruskan makan lagi seperti biasanya


Di samping Tumini, Ririn memandang Amin dengan penasaran.


"Ada apa dengan pak Amin?"


"Mengapa dia sangat penasaran dengan selendang ijo yang saat ini sedang dipakai oleh kakak ku?"

__ADS_1


"Apakah Amin mengetahui semuanya?" gumam Ririn dalam hati.


Karena rasa penasaran Ririn sudah tak terbendung melihat tingkah aneh Amin, Ririn segera mendekati Amin yang saat itu terlihat beranjak pergi dari tempat duduk nya semula.


"pak Amin.."


"Tunggu" Panggil Ririn mencoba memanggil Amin.


Mendengar ada suara wanita memanggilnya, Amin segera menoleh ke arah suara, dan ternyata Ririn berada tepat di belakangnya.


"Ada apa Ririn, mengapa kau memanggilku?" tanya Amin penasaran


"Pak amin, apa yang bapak curigai dari kakakku?"


"Mengapa sejak tadi saya perhatikan, pak amin tak suka dengan keberadaan kakak ku Tumini?" tanya Ririn penasaran.


Rupanya, pertanyaan Ririn yang ditujukan kepadanya membuat Amin menceritakan hal yang dia curigainya kepada Ririn


"Ririn, asal kau tahu"


"Ada hal gaib aneh yang mengelilingi tubuh kakak mu"


"Apakah kau merasakan hal yang sama dengan ku?" tanya Amin kepada Ririn..


Mendengar pertanyaan Amin yang ditujukan kepadanya, Ririn terperanjat seakan tak percaya


"Hah, pak amin?"


"Apakah kau tahu semuanya?" tanya Ririn kepada Amin.


"Ririn, sebenarnya aku tahu energi apa yang saat ini berada dalam tubuh kakakmu"


"Sekarang, jawablah dengan jujur"


"Aku berhasil mencium aura gelap dan aura itu saat ini berada dalam tubuh kakak mu" ujar Amin serius


"Pak amin, apakah yang kau katakan ini benar?"


"Memang benar adanya"..


"Kakak ku saat ini berubah sifat dan kepribadiannya semenjak dia memakai selendang ijo pemberian dari aki mamang" ucap Ririn jujur.


"Hem, benar dugaan ku" ujar Amin kepada Ririn


"Kakak mu saat ini dalam pengaruh ilmu hitam"


"Ayo kita tolong dia"


"Jangan sampai terlambat" ucap Amin kepada Ririn.


"Pak amin,.Apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kakak ku Tumini?"


"Bagaimana cara menghilangkan pengaruh jahat selendang itu?" tanya Ririn penasaran


"Ririn, tenanglah"


"Aku akan memikirkan nya nanti"


"Sekarang, kau selalu jaga dan lihat selendang ijo milik kakak mu saat nanti kalian pulang ke rumah kalian"


"Ingat, jangan sampai lengah, jika tidak ingin ada korban" ujar Amin

__ADS_1


"Pak amin, aku masih belum mengerti tentanf ucapan mu itu?"


"Korban apa?"


"Aku masih bingung" ucap Ririn sambil menunjukkan raut muka tak mengerti tentang permasalahan yang ada


"Sudahlah Ririn"


"Sekarang, kau cukup menjaga kakak mu saja dan pantau selendang ijo yang saat ini dikenakan oleh kakak mu" ujar Amin


"Baiklah pak" jawab Ririn pendek.


Setelah berkata demikian, Amin segera pergi meninggalkan Ririn menuju ke arah Hendra sang pemilik sanggar tari.


"Hendra, apa yang kau lakukan di sini?"


"Sejak tadi aku perhatikan, kau melamun saja" tanya Amin sambil menepuk pundak hendra dari belakang.


"Ah, kau mengganggu saja"


"Aku lagi melamun mikirin Tumini"


"Makin hari, wajahnya makin cantik saja"


"Tuh liat" ucap hendra sambil menunjuk ke arah Tumini yang saat itu terlihat sedang bercanda dengan Ririn adik kandungnya.


"Ah, kau saja mata keranjang"


"Tak bisa melihat wajah wanita cantik sedikit" ucap Amin sambil mencubit tangan hendra


"Dasar kau amin"


"Aku berkata yang sesunguhnya"


"aku takjub dengan tariannya"


"Sebentar lagi, aku akan menyatakan cinta kepadanya"


"Aku ingin segera menikahinya" ujar hendra kepada Amin


"Hah, kau ingin menikahi gadis itu?"


"Apakah kau tak berpikir dulu sebelum bertindak?"


"Kamu tak berembuk terlebih dahulu dengan ayah ibumu" tanya amin kepada Hendra.


"Amin, orang tuaku menyerahkan semuanya kepadaku"


"Asal aku bahagia, mereka akan bahagia" ucap Hendra sambil tersenyum tipis.


"Hendra, alangkah baiknya kau pikirkan masak-masak dan jangan terburu-buru"


"Aku tak ingin kau salah pilih dan hidupmu akan hancur" ucap amin mengingatkan hendra


"Amin, Tumini adalah wanita yang cantik"


"Aku tak mungkin salah pilih" ucap Hendra kepada Amin


Mendengar ucapan hendra, amin tak bisa berbuat banyak.


Yang ada dalam pikirannya saat itu adalah ingin membuka kedok Tumini agar hendra tak jadi menikah dengan Tumini.

__ADS_1


"Hendra, kau tak tahu jika menikahi Tumini dirimu akan terancam bahaya"


"Sebelum itu terjadi, aku akan menemukan siapa dalang dari semua ini" gumam Amin dalam hati.


__ADS_2