Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Pertemuan penuh haru


__ADS_3

Hendra tetap pada keinginan nya yaitu berusaha mendekati kakek nya yang telah lama meninggal. Dan hal aneh tiba-tiba terjadi. Terdengar suara letusan seperti petasan dan hal itu membuat mereka bertiga terkejut.


"Suara apakah ini?" tanya Amin penasaran


Setelah mendengar suara itu, beberapa roh mulai bermunculan mulai dari roh anak kecil sampai orang dewasa. Semua penuh sesak dan hal itu membuat hendra kehilangan kakek nya karena tertutup segerombolan manusia yang sudsh meninggal.


"Mengapa ramai sekali seperti pasar?" ucap Hendra dengan penuh tanda tanya.


"Mungkin saja kita telah benar-benar masuk di alam roh"


"Jika demikian, aku menyangka kita telah terperangkap dan sulit kembali"


"Akankah kita mati sampai di sini?" tanya Amin sambil menunjukkan wajah pasrah karena harapannya sudah tak ada lagi.


"Tenangkan dirimu kawan"


"Mereka sepertinya berinteraksi dengan penduduk yang lain dan lihatlah dengan diri kita"


"Sapaan kita tak mereka hiraukan"


"Mungkin saja mereka menganggap kita tak sama dengan mereka" ucap Hendra memberi ketenangan pada Amin yang sejak tadi masih cemas.


Amin dan hendra berusaha menyapa penduduk sekitar namun tetap saja semuanya sia-sia. Tak ada satupun penduduk yang menghiraukan mereka.

__ADS_1


Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing dan kegiatan yang dilakukan sama dengan kegiatan di alam manusia pada umumnya.


Bedanya, di alam ruh pandangan mereka datar semua. Tak ada ekpsresi senyuman maupun tangisan. Mereka hanya terdiam seribu bahasa dan rata-rata penduduk nya memakai bahasa isyarat.


Benar-benar suasana yang sangat hening dan mencekam.


Di tempat lain, Tumini masih saja menerima siksaan bertubi-tubi akibat ulahnya memakai selendang ijo. Tumini merasa tak terima karena selendang ijo yang dia pakai adalah pemberian dari aki mamang dan aki mamang telah tega menjerumuskan nya sampai sejauh ini.


Tumini berteriak memanggil aki mamang untuk mempertanggungjawabkan perbuatan jahatnya itu.


"Aki mamang"


"Dimanakah kau" panggil Tumini sembari menangis tersedu-sedu.


Dirinya juga menyesal tak menggubris pendapat dari Ririn sang adik yang sebenarnya sangat dicintai nya sekaligus dibencinya.


"Ririn, kau adikku yang memang benar sayang kepadaku"


"Mengapa aku tak menghiraukan mu, padahal aku telah berjalan di jalan yang salah"


"Aku memang benar-benar bodoh" gumam Tumini dalam hati.


Rita yang ada di samping nya melihat Tumini yang meratapi nasib nya pun ikut terhanyut dengan kesedihan. Dirinya juga menyesali perbuatan nya seribu tahun yang lalu.

__ADS_1


Sampai sekarang pun, Rita tak tahu caranya bisa keluar dari tempat itu.


"Tumini, jika kau mau, ayo kita cepat keluar dari tempat ini"


"Sejak dulu, aku berusaha mencari jalan keluar namun selalu saja gagal" ucap Rita


"Hai manusia nista, apa yang kalian bicarakan" tiba tiba saja ada sosok lelaki tinggi besar berkumis panjang dengan lidah menjulur keluar menggertak mereka dengan sangat keras.


Tumini dengan wajah yang ketakutan menjawab


"Tidak, kami tidak membicarakan apa-apa"


"Kami hanya berkeluh kesah meratapi nasib kami yang sangat buruk" ucap Tumini sambil meringis kesakitan menahan sakit


Rita yang ada di samping nya pun mengangguk kan kepalanya seolah mengiyakan jawaban Tumini yang baru saja dilontarkan.


"Kalian adalah manusia bodoh yang rela mengorbankan diri demi orang lain"


"Terimalah nasib kalian"


"Aku sebagai penunggu tempat ini hanya bisa menyaksikan kalian menderita dan itu membuat aku senang dibuatnya"


"Ha ha ha" makhluk aneh itu tertawa lepas seolah mengejek Tumini dan Rita yang menahan kesakitan akibat cambuk yang memukul mereka.

__ADS_1


Setelah berkata demikian, makhluk aneh itu pergi meninggalkan mereka berdua dan pergi ke tempat lain.


__ADS_2