Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Bertemu


__ADS_3

Di dalam perjalanan, Devi melihat di sekitar nya. Tampak wujud aneh yang membuatnya sedikit was-was.


"Nyonya, apakah kita hampir sampai?" tanya Devi penasaran


"Sebentar lagi kita akan sampai"


"Kau sabar saja" ucap Rita mencoba menenangkan hati Devi yang terlihat masih penasaran


"Oh ya " jawab Devi pendek


Setelah beberapa lama berjalan, mereka berdua telah sampai di istana laut selatan yang sekarang menjadi wilayah kekuasaan Tumini.


Istana Tumini terlihat sangat luas dan megah. Singasananya dihiasi emas permata dan hal itu menambah indahnya istana itu.


"Nyi Ratu, aku telah datang"


"Apakah aku boleh langsung melakukan pekerjaan ku?" tanya Devi tak sabar


"Oh, kamu devi?"


"Baiklah"


"Sekarang, bersihkan sepatuku ya?" ucap Tumini sambil tersenyum sinis ke arah devi


Devi pun mulai membersihkan sepatu milik Tumini. dan tampak nya tanpa mengenal lelah devi membersihkan sepatu itu pelan - pelan.

__ADS_1


Setelah membersihkan sepatu milik Tumini, Devi beristirahat sejenak. Devi mulai duduk di sebuah kursi yang telah disediakan oleh Tumini.


"Devi, tugas mu membersihkan sepatuku telah selesai"


"Sekarang, kembalilah ke alam mu" ucap Tumini pada Devi.


Tak lupa, Tumini memberikan sebongkah emas dengan berat satu kilogram kepada Devi.


Melihat emas pemberian Tumini, Devi tersenyum kegirangan.


"Wah, benarkah apa yang aku lihat ini nyi Ratu?" tanya Devi penasaran


"Ya, benar"


Wah, baiklah nyi Ratu"


"Kalau begitu, aku akan pulang sekarang" jawab Devi pada Tumini


Tumini hanya tersenyum saja melihat wajah devi yang diliputi kebahagiaan itu. Namun, senyuman itu terlihat sangat aneh. Seperti sedang menyembunyikan suatu hal yang masih misterius.


Setelah mendapatkan ijin dari Tumini, Devi pun segera berlari untuk pulang. Dirinya tak sabar ingin bertemu dengan suami dan anaknya.


"Wah, suamiku pasti senang melihat emas yang aku bawa"


"Sebentar lagi, mereka akan aku ajak untuk belanja ke toko terdekat" gumam Devi dalam hati.

__ADS_1


Devi pun akhirnya sampai juga ke tempat perbatasan antara dunia manusia dan dunia jin.


Dengan kemampuan merapalkan mantra yang diberikan oleh Tumini kepadanya, Devi mulai memejamkan matanya.


Mantra mulai dirapalkan oleh Devi, dan setelah merapalkan mantra, tubuh Devi seakan melayang ke atas cakrawala.


Saat memejamkan mata, terasa semilir angin mulai berhembus ke arah Devi hingga Devi merasakan suatu hal yang menyejukkan.


Rambut Devi mulai terurai panjang. Ikat rambut Devi terlepas karena terkena hembusan angin.


Cuaca yang semula hangat, sedikit demi sedikit mulai terasa dingin dan menusuk tulangnya.


"Hem, sepertinya aku telah sampai di tempat ku semula" gumam Devi sambil pelan-pelan, Devi mulai membuka matanya kembali.


Saat Devi mulai membuka matanya, Devi melihat sebuah batu yang sama persis dengan batu yang pertama kali ditemui nya, sebelum berangkat ke alam jin.


"Benar"


"Ini adalah tempat pertamaku saat aku pertama kali melakukan perjalanan ke negeri jin"


"Batu ini sebagai patokannya" gumam Devi sambil mengamati batu yang tak pernah berubah sedikit pun baik tulisan nya maupun bentuk batunya.


Setelah selesai mengamati batu itu, Devi mulai pergi meninggalkan hutan belantara itu dan pergi ke sebuah jalan besar. Dirinya mulai tak sabar ingin bertemu dengan suami dam anaknya.


Di pinggir jalan, Devi tak menemukan angkot sama sekali. Karena tak menemukan angkot, Devi akhirnya berjalan sendirian di jalanan yang sepi itu

__ADS_1


__ADS_2