
Setelah sekian lama berjalan, sampailah Devi di suatu tempat di tengah hutan belantara. Di dalam hutan itu terdapat sebuah batu bertuliskan larangan untuk menyentuhnya.
..."Dilarang menyentuh batu ini"...
Larangan itu ditulis dengan sebuah cat berwarna putih. Tertulis juga tahun penulisan nya yaitu tahun 1900. Dimana pada tahun tersebut masih merupakan jaman penjajahan Belanda.
"Wah, aku tidak boleh menyentuh batu itu"
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"keadaan sudah semakin gelap"
"Tak ada satu orang pun di sini" gumam Devi
Jantung devi mulai berdegub dengan kencang.
Rasa was-was mulai ada dalam hati nya. Ingin rasa nya pulang lagi ke rumah, namun Devi takut miskin kembali.
Karena rasa takut miskin itulah, Devi memberanikan diri untuk mendekat ke arah batu itu. Sebelum datang ke hutan itu, devi didatangi Tumini lewat mimpinya.
Dalam mimpi nya, Tumini memberikan arah jalan menuju ke sebuah hutan dan petunjuk Tumini sama persis dengan apa yang dilihat nya sekarang.
"Nyi ratu memintaku untuk pergi ke tempat ini, dan berkonsentrasi sambil memegang batu ini"
__ADS_1
"Tapi, mengapa di batu ini tertulis tak boleh disentuh?" Devi terus berpikir dan jalan pikirannya masih belum menemukan titik temu yang pasti.
Devi masih saja terbelenggu dengan keinginan semunya yaitu ingin tetap kaya seperti kemarin-kemarin.
Tak mau berpikir lagi, Devi akhirnya menyentuh batu terlarang itu. Mulutnya komat-kamit melafalkan mantra yang diperoleh lewat mimpi nya. Kata demi kata mulai diucapkan oleh Devi.
Setelah mantra yang terakhir, situasi hutan itu berubah menjadi ramai dan banyak penduduk yang berlalu lalang di tempat itu.
Situasi yang gelap berubah menjadi terang benderang.
"Oh, dimanakah aku sekarang?"
"Tadi, aku berada di tempat yang sepi, dan gelap"
"mengapa sekarang banyak penduduk yang berlalu lalang di tempat ini?"
Devi mulai melihat ke sekitar, dan terlihat banyak perdagangan di sana. Tak terasa devi mulai berjalan mengelilingi sebuah tempat yang mirip pasar itu.
"Dimanakah aku harus menemui nyi ratu?" gumam devi sambil berusaha bertanya pada penduduk yang berada di tempat itu.
Saat devi mulai bertanya pada mereka, tak ada yang menjawab sama sekali. Penduduk itu seakan diam dan acuh tak acuh terhadap keberadaan Devi.
"Kenapa tidak ada yang menjawab semua pertanyaan ku?" gumam devi putus asa.
__ADS_1
Devi segera pergi ke sebuah gubuk yang taj berpenghuni. Di sana terdapat air mengalir yang sangat jernih.
"Aduh, aku sangat haus"
"Aku ingin minum dulu agar tenagaku bisa pulih" ujar devi
Devi langsung datang menuju ke sungai itu dan menuruni nya. Sungai itu terlihat sangat tenang, namun jalan menuju ke sana sangat curam. Butuh kehati-hatian untuk menuju ke sana.
Tak terasa, sampailah devi di sungai itu. Devi segera meminum air sungai itu dan hal itu cukup melegakan tenggorokannya yang telah kering.
Selesai minum air sungai, devi berniat hendak meneruskan perjalanan nya mencari Tumini.
Hingga suatu hari, devi bertemu dengan Rita, yang merupakan teman baik Tumini.
Hei manusia, mengapa kau berada di sini?" tanya Rita penasaran
"Oh, ya"
"Aku sedang mencari nyai ratu selendang ijo"
"Apakah kau mengetahui keberadaannya?" tanya devi penasaran
"Oh, aku tahu"
__ADS_1
"Ayo ikut aku sekarang" ajak Rita sambil menarik tangan devi
Devi akhirnya mengikuti Rita dari belakang. Tampaknya devi telah berhasil menemukan apa yang dia cari.