
Menunggu adalah hal yang sangat membosankan. Itu yang sekarang ada di dalam pikiran hendra, amin dan Ririn. rasa kantuk yang amat sangat rupanya membuat mereka bertiga tak tahan lagi. Cuaca di depan balai pengobatan semakin dingin saja. Sementara itu, dokter dan suster yang sedang memeriksa Tumini juga tak kunjung memberi kabar tentang keadaan Tumini kepada mereka.
"Amin, aku ngantuk sekali" ucap Hendra sambil menunjukkan matanya yang saat itu tinggal 5 watt.
"Hendra, bukan kau saja yang ngantuk"
"Aku juga nih" jawab Amin sambil menguap berkali-kali.
Sambil menguap, Amin melihat Ririn yang ternyata sudah tertidur lebih dahulu. Akhirnya mereka bertiga tertidur bersama tanpa mengingat lagi keadaan Tumini yang masih diperiksa oleh dokter dan suster di balai pengobatan tersebut.
Rupanya cukup lama mereka tertidur hingga akhirnya terdengar ayam berkokok tanda waktu sudah hampir pagi.
Amin yang taat beribadah dibanding lainnya terbangun lebih dahulu dan terkejut melihat suasana yang jauh berbeda.
"Hah, hendra Ririn, cepat bangun"! teriak Amin sambil menggoyang-goyangkan tubuh kedua temannya itu.
Ririn yang asyik tertidur rupanya sangat sulit dibangunkan dan asyik menikmati mimpinya yang belum usai begitu juga dengan Hendra.
Hingga pada akhirnya, setelah Amin membangunkan mereka dengan lima kali panggilan, mereka berdua terbangun dari tidur panjangnya.
"Ah, Amin, mengapa kau membangunkan ku?" ucap Hendra sambil menunjukkan wajah yang masih lesu
"Hendra, lihatlah disekelilingmu" ucap Amin sambil menggoyang-goyangkan tubuh hendra agar hendra tak meneruskan tidurnya.
__ADS_1
Hendra pun mulai membuka matanya pelan-pelan dan setelah melihat dengan jelas, hendra pun berteriak karena merasakan suasana yang tak pernah dipikirkannya dalam mimpi.
"Amin, dimanakah kita?"
"Mengapa kita berada di tengah kuburan ini?" tanya Hendra penasaran
Keringat Hendra menetes dengan deras karena rasa takut nya sudah sampai ke ubun-ubun.
Ririn yang juga terbangun saat itu tak kuasa menahan tangis dan pingsan melihat keadaan yang diluar dugaannya
"Ririn, ayo bangun"!
" ah bikin repot saja"
"Mengapa kau pingsan disaat yang tidak tepat" ucap Amin sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ririn dan berharap Ririn segera sadar.
"Amin, dimanakah Tumini?"
"Bukankah tadi kita berada di depan pintu balai pengobatan, dan Tumini masih diperiksa oleh dokter jaga?"
"Mengapa suasana menjadi berubah?"
"Apakah ada orang yang sengaja memindahkan kita di kuburan ini?" tanya Hendra penasaran.
__ADS_1
Amin berpikir keras dan menoleh ke arah yang berbeda. Tampak mobil mereka terparkir di depan pintu kuburan itu.
"Hendra, tidak ada yang memindahkan kita ke tempat ini" ucap Amin
"Lihatlah mobil yang kita tumpangi masih terparkir rapi persis di depan kuburan ini" ucap Amin dengan penuh keyakinan.
Hendra berusaha menenangkan hatinya dan memanggil Tumini.
"Tumini..., dimanakah kamu"?
"Tumini...."
Hendra tak henti-hentinya memanggil Tumini yang telah menghilang entah dimana. Sementara itu Amin memanjatkan doa agar supaya Tumini segera ditemukan.
Beberapa lama kemudian, azan subuh berkumandang tanda hari benar-benar pagi. Tampak seorang laki-laki tua memakai kopyah berjalan melewati kuburan itu.
"Anak muda, mengapa kalian berada di tempat ini?" tanya laki-laki tua itu penasaran
"Pak tua, ceritanya panjang" jawab amin pendek
pak tua itu manggut-manggut dan berkata kepada Amin
"Kalau begitu, ayo ikut aku ke musolla yang berada di samping kuburan ini"
__ADS_1
"Kebetulan, aku hendak menunaikan sholat subuh disana" ucap pak tua itu.
Amin dan hendra menganggukkan kepala tanda setuju. Tak lupa mereka menggendong tubuh Ririn yang sejak tadi pingsan menuju ke musolla itu.