
Hari pernikahan Toni rupanya akan digelar besok. Semenjak perjanjian dengan jin mata merah, Toni merasa was-was. Dirinya takut kalau terjadi apa-apa dengan kekasihnya.
Karena sangat cemas, Toni menelepon Rina, tunangannya.
"Rina, kau tak apa-apa kan?" tanya Toni dengan nada gugup
"Aki tidsk apa-apa mas Toni"
"Emangnya ada apa sih?"
"Tumben kau melepon aku pagi-pagi sekalu" tanya Rina penasaran
"Oh Tidak apa-apa Rina"
"Syukurlah kalau kau tidak apa-apa" jawab Toni pendek
"Oh ya, ntar siang kita jalan-jalan ya?"
"Aku ingin refresing nih mas" ucap Rina merengek minta Toni untuk berjalan-jalan dengannya
Toni mulai berpikir, dan langsung menolaj keinginan Rina itu
"Rina, kita kan mau menikah"
"Kata orang tua dulu, pamali kalau keluar rumah saat hampir mejelang pernikahan" ucap Toni memberi nasehat pada Rina
"Oh yaudah kalau begitu mas"
"Aku bersantai dulu aja di rumah" ucap Rina kesal.
Toni merasa cemas akan keadaan Rina. Karena cemas Toni langsung pergi ke rumah Rina yang letaknya tak jauh dari rumahnya sendiri.
"Aku harus segera melindungi Rina malam ini"
"Aku tak mau terjadi apa-apa pada Rina" gumam Toni dalam hati
Toni pun segera meluncur ke rumah Rina. Sementara itu pesta pernikan telah disiapkan oleh orang tua toni. mereka tampak bersuka cita.
Mereka tak tahu jika bahaya telah mengancam putranya. Yang mereka tahu putranya adalah pengusaha sukses di desa dan hal itu menjadi kebanggaan pada diri mereka saat itu.
Sesampai di rumah Rina, Toni segera menemui Rina yang saat itu duduk sambil menonton televisi. Mata Toni berkaca-kaca seakan tak mau jauh dari Rina.
"Toni, ada apa sih kamu dari tadi nempel terus?"
"Tenang sayang"
"Aku tak kan pergi"
"Besok kan kita menikah"
"Aku akan menemanimu setelah ini" ucap Rina memberi ketenangan pada Toni
"Ya Rina"
"Aku hanya kangen saja dengan mu"
"Oh ya, akhir-akhir ini apakah kau sering melihat hal-hal aneh?" tanya Toni penasaran
Sebisa mungkin Toni ingin mendapatkan informasi yang lengkap dari Rina sang calon istrinya itu
Rina mulai berpikir dan setelah berpikir sekitar 5 menit, Rina menggeleng-gelengkan kepalanya
"Tidak Toni"
__ADS_1
"Aku tak melihat sesuatu yang aneh pada diriku"
"Emang kenapa?"
"Kau kalau bertanya tidak jelas"
"Tak ada alasan apapun, tau tau bertanya saja" kata Rina sedikit kesal
"Tidak Rina"
"Aku hanya khawatir kepadamu, tak ada yang lain"
"Kalau boleh, malam ini aku ingin menginap di rumahmu"
"Aku janji aku gak akan macam-macam sebelum kita menikah"
"Bagaimana Rina?" tanya Toni pendek
"Ya Toni, tak apalah kau menginap di sini"
"Kau mau macam-macam pun gak apa-apa"
"Toh, kamu besok akan jadi suamiku kan?" kata Rina meledek Toni.
Ucapan Rina membuat Toni tersenyum senang.
"Baiklah Rina, aku akan meminta ijin pada ayahmu dulu kalau sekarang aku akan menginap di rumahmu" ucap Toni..
Toni pun langsung pergi ke dapur menemui orang tua Rina yang saat itu sedang memasak masakan untuk persiapan pernikahan besok.
"Pak, saya ijin menginap disini ya?" ucap Toni meminta ijin pada pak Mijan, kades yang ada desa Toni sekaligus ayah Rina.
"Ya nak, kau menginap saja di sini"
"Besok acara pernikahan di mulai, kalian harus kelihatan segar bugar" ucap pak mijan ayah Rina.
"Ya pak, terimakasih ya" jawab Toni
Toni pun sedikit lega karena malam ini dirinya bisa menjaga Rina agar terbebas dari serangan jin mata merah.
Malam sekitar pukul 11, Rina tidur dengan tak tenang. Toni yang saat itu merasa ada kejanggalan tak berani tidur karena tak ingin kehilangan kesempatan menjaga Rina.
Toni pun mengetuk pintu kamar Rina.
"Rina, ayo bangun"
"Aku di luar nih" ucap Toni
"Oh ya Toni sebentar" jawab Rina dari dalam
Dengan mata masih mengantuk, Rina pun membukakan pintu kamarnya
Rina, kau tidak apa-apa?" tanya Toni seakan cemas dengan keadaan Rina.
"Toni, aku bilang aku tidak apa-apa".
"Lihatlah aku sekarang?" ucap Tina mencoba meyakinkan Toni
"Aku jadi tak tenang"
"Malam ini aku akan tidur di kamarmu"
"Ayah dan ibu pasti membolehkan karena besok kita akan menikah" ucap Toni gugup.
__ADS_1
"yasudah Toni, masuklah" ajak Rina pada Toni
Malam itu, Toni tak bisa tidur. Di kamar Rina Toni melihat Rina terus tak berkedip. Dirinya takut tak bisa melihat Rina lagi keesokan harinya.
Malam itu sangat berat bagi Toni akibat ancaman dari jin mata merah yang terus merasuk di kepalanya.
"Bagaimana ini"
"Sekarang sudah jam 12.00 malam, jin mata merah tak datang ke sini"
"Apakah dia hanya main-main saja?" gumam Toni dalam hati.
Mata Toni tinggal lima watt dan akhirnya Toni tertidur juga di samping Rina hingga ayam berkokok tanda sudah pagi.
Toni dengan mata yang masih terpejam tiba-tiba dibangunkan oleh Rina
"Toni ayo bangun"
"Sebentar lagi perias akan datang dan merias wajah kita" ucap Rina sambil menggoyangkan tubuh Toni.
Toni pun mulai membuka matanya dan terkejut dengan keadaan Rina yang masih baik-baik saja.
"Rina, kau baik-baik saja?"
"Syukurlah"
"Aku sangat senang sekali" ucap Roni kegirangan
"Ayo kita menikah sekarang" ucap Roni tak sabar dengan pernikahannya dengan Rina.
Akhirnya Toni dan Rina melangsungkan pernikahan dengan aman sentosa. Toni pun menganggap jin mata merah itu hanyalah mimpinya saja dan tak kan mengambil Rina sebagai tumbal atas kekayaan nya.
Malam pertama pernikahan di lalui Toni dengan rasa senang begitu juga Rina. Tiba malam jumat, Toni didatangi sosok jin mata merah.
"Toni, bangunlah" ucap jin mata merah yang saat itu berada di hadapan Toni
Sementara, Rina sang istri tidur pulas di samping nya.
"Hah, kau jin mata merah?"
"Ada apa? tanya Toni dengan perasaan ketakutan
Dirinya tak ingin Rina sang istri jadi tumbal jin mata merah karena Toni terlanjur mencintainya.
"Aku tak jadi mengambil Rina jadi tumbal mu"
"Aku akan mengambil anak keturunan mu yang masih perawan"
"Kau telah menipuku rupanya"
"Rina sudah tak perawan lagi, jadi aku membatalkannya" ucap Jin mata merah geram
"Hah, tak perawan?" tanya Toni penasaran
"Ya, istrimu itu sudah tak perawan lagi"
"Kau bisa tenang sekarang"
"Tapi, jika kau punya anak perempuan nanti, aku akan mengambil nya dari mu" ucap jin mata merah
Setelah berkata demikian, jin mata merah pergi meninggalkan Toni yang saat itu masih bengong.
"Hah, istriku sudah tak perawan?"
__ADS_1
"Padahal aku belum pernah menyentuhnya" gumam Toni dalam hati