Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Sebuah dendam


__ADS_3

Waktu beristirahat Tumini di sebuah gubuk tua telah selesai dan mereka berdua kembali berjalan menuju ke kediaman nenek jin.


Hingga akhirnya mereka berdua sampai di rumah nenek jin dengan selamat.


"Tumini, Rita, ada apa kalian berdua kemari?" tanya nenek jin sambil melihat wajah Tumini yang makin cantik saja.


"Iya nenek jin"


"Kami ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan nenek jin" jawab Tumini


"Iya, apa?"


"Ceritakan saja, mungkin aku bisa memberikan solusi" ucap nenek jin sambil membelai rambut Tumini yang terurai panjang.


"Nenek, aku ingin mendaftarkan diri menjadi istri dari raja jin"


"Bukankah di negeri jin ada pengumuman jika raja jin yang baru sedang mencari pasangan hidup?" tanya Tumini


"Oh iya"


"Kau bisa saja mendaftar sekarang"


"Raja jin tak memberikan kriteria harus dari bangsa jin juga"


"Jika kau berhasil, nantinya kau akan menjadi penguasa di kerajaan jin Tumini" ucap nenek jin


"Tapi, aku harus bersaing dengan penduduk disini yang pasti memiliki kemampuan yang lebih baik" ucap Tumini


"Tenanglah nak"


"Kau punya kelebihan memiliki selendang ijo yang sekarang sudah menjadi hak mu"


"Di kemudian hari, jika saat nya tiba kau bisa mengendalikan manusia lain, untuk menggunakan selendang ijo itu" ucap nenek jin


"Sekarang, Aku akan memberikan ilmu penguat hasrat kepadamu"


"Dengan ilmu itu, kau bisa melawan saingan mu saat berkompetisi nanti" ucap nenek jin


Tumini menganggukkan kepalanya dan merasa senang dengan sikap nenek jin yang terlihat sangat menyayanginya.


"Kalau begitu, kau harus melakukan ritual paku jiwa terlebih dahulu"


"Setelah ritual itu selesai, jiwa mu akan bersekutu dengan jin dan jika kau mati kelak, kau dikubur layaknya jin lain"


"Raga manusia mu akan ku simpan dalam sebuah peti mayat dan aku awetkan dulu" ucap nenek jin sambil mengambil sebuah paku berwarna kuning keemasan di balik rambut nenek jin.


"Nenek jin, apakah Rita juga akan menjalankan ritual yang sama dengan ku?" tanya Tumini


"Iya, Rita juga harus melakukan ritual ini, karena kalian berdua walau hidup di negeri jin, tapi kalian berdua masih terjebak di dalam raga manusia yang mudah busuk dan usang"


"Berbeda jika kalian telah sampai ke tahap ritual paku jiwa"


"Tubuh kalian akan sama dengan kami golongan para jin"


"Tumini menganggukkan kepala begitu juga dengan Rita. Mereka berdua dengan sabar mengikuti arahan nenek jin


"Sementara waktu, peganglah paku ini terlebih dahulu"

__ADS_1


"Aku akan mengambil perekat pakunya di gunung kalong" ucap nenek jinp sambil memberikan pa


"Tunggulah di sini" ucap nenek jin sambil pergi terbang menuju ke gunung kalong


Gunung kalong adalah sebuah gunung yang berada di perbatasan negeri manusia dan negeri jin. Hanya sedikit manusia yang mendaki gunung itu, karena selain tempatnya sangat angker, cuaca di gunung itu tak menentu.


Dalam setahun, ada laporan bahwa beberapa pendaki tak pernah kembali dari gunung itu. Semenjak ada kejadian itu, pintu masuk gunung kalong di tutup dan di depan pintu masuk gunung itu terdapat tulisan dengan huruf yang sangat besar


..."Dilarang masuk"...


..."Wilayah berbahaya"...


Tulisan ini diberi lambang gambar tengkorak yang menandakan tempat itu benar-benar sangat berbahaya bagi manusia yang mendaki.


Di tempat itulah beberapa jin datang untuk mengambil pusaka maupun tumbal. Jika ada manusia yang lewat, beberapa jin yang melakukan perjalanan ke sana terkadang menggoda mereka hingga mereka tersesat dan jatuh ke jurang


Di perjalanan menuju ke gunung kalong, secara tak sengaja nenek jin melihat sosok mata merah yang berada di sebuah gubuk dimana Tumini dan Rita menginap di sana.


Sosok mata merah yang berada di dekat gubuk tua tempat tumini dan Rita singgah, tak henti-hentinya mencium dipan kayu bekas dipakai Tumini saat tidur. Sepertinya dia sangat ingin sekali memegang tubuh Tumini, namun karena tak punya nyali yang besar, sang mata merah hanya berani menyentuh bekas barang yang pernah dipakai Tumini, salah satunya adalah dipan kayu itu.


"Mata merah, mengapa dia ada di sini?"


"Bukankah dia seharusnya berada di pusat kuburan tempat orang meminta tumbal" gumam nenek jin dalam hati


Nenek jin akhirnya mendekati mata merah dan bertanya apa yang telah terjadi padanya


"Mata merah, mengapa kau ada disini?" tanya nenek jin sambil membuka pelindung tubuhnya.


"Oh, kau nenek jin rupanya"


"Aku tak sengaja lewat di jalan ini, dan melihat ada dua wanita cantik tidur di gubuk ini"


Nenek jin menahan nafas sebentar dan menggenggam tangan mata merah.


Tak lama kemudian, energi nenek jin masuk ke dalam aliran darah jin mata merah dan sebuah asap keluar dari ubun-ubun jin mata merah.


Setelah mendapat energi tak terduga dari nenek jin, birahi mata merah sedikit mereda. Namun rupanya energi pelet selendang ijo sedikit menempel kepadanya.


"Nenek jin, apakah kau mengenal kedua wanita itu?" tiba-tiba jin mata merah bertanya pada nenek jin mengenai sosok Tumini dan Rita


"Ya, aku mengenal nya"


"Dia keponakan ku" ucap nenek jin pendek


"Baguslah nenek jin, kalau begitu sampaikan kepada pemegang selendang warna ijo, aku jin mata merah siap menjadi pengikutnya dan apapun yang dia butuhkan, aku akan membantunya" ucap jin mata merah sambil memberikan sebuah mutiara berwarna merah .


"Baiklah, nanti aku akan serahkan permata ini kepadanya"


"Sekarang, pergilah ke tempat mu"


"Banyak manusia yang sedang menunggu kau di sana untuk mencari pesugihan" ucap nenek jin sambil pergi meninggalkan jin mata merah yang saat itu terlihat masih linglung.


"Baiklah nenek jin, Aku akan kembali ke tempat ku" ucap jin mata merah


Di tempat lain, tepat pukul 2 malam, Indah tampak tertidur pulas. Doni dan sandra mulai mengintip dari balik jendela untuk melihat keadaan Indah di malam hari


"Sandra, sejak tadi aku mengintip dari sini, tak ada keanehan yang terjadi pada Indah"

__ADS_1


"Mataku tinggal lima watt nih" ucap Doni sambil menguap berkali-kali


"Sabar dulu Doni"


"Ayo kita lihat terus"


"Kita jangan sampai melewatkan kesempatan emas ini" pinta Sandra kepada Doni


"Baiklah kalau begitu" ucap Doni


Mereka pun melihat gelagat Indah saat tidur. Beberapa menit kemudian, terlihat mulut Indah mengeluarkan cairan berwarna merah kecoklatan.


"Doni, apa itu?" ucap Sandra sambil menarik baju Doni


"Hah, sepertinya darah"


"Ayo kita lihat keadaan Indah" ucap Doni sambil menarik tangan Sandra.


Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar Indah. Saat mereka telah sampai dan mendekati Indah, tak ada darah apapun di mulut Indah.


"Doni, aku tadi melihat ada darah di mulut Indah"


"Mengapa saat aku dekati tak ada darah sama sekali?"


"Sangat aneh sekali" ucap Sandra sambil melihat ke sekitar Indah dengan harapan di baju Indah ada sisa darah yang masih menempel sebagai bukti bahwa penglihatannya tidak rabun.


"Tak ada apa-apa di sini"


"Sepertinya, hanya ilusi kita saja Doni"


"lagian, sekarang sudah jam dua pagi"


"Alangkah baiknya, kita tidur malam ini di dalam kamar bersama Indah" ucap Sandra


"Baiklah kalau begitu"


"Ayo kita tidur"


"Besok pagi kyai yusuf akan sampai"


"Jangan sampai kita bangun kesiangan" ucap Doni pendek.


Sandra dan Doni pun asyik tertidur dengan pulas. Sementara itu tubuh Indah mulai bergerak sendiri tak tentu arah. Rupanya janin milik kebo ijo sedang pergi menuju ke arah perut Indah.


Sebuah janin yang biasanya ada dalam rahim, kini berusaha untuk menggerogoti perut Indah yang penuh dengan makanan yang belum sempat di cerna.


Rupanya, plasenta bayi tak cukup memberi makan bayi dedemit kebo ijo, hingga janin itu memaksa keluar dari rahim Indah dan pergi menuju ke lambung Indah.


Gigi Taring janin milik kebo ijo tampaknya sudah mulai tumbuh. Oleh karena itu, kian hari nafsu makan nya tak terbendung banyaknya.


Kebo ijo yang melihat aktifitas anak nya sangat senang


"Anakku, makanlah yang banyak"


"Sebentar lagi, kau akan lahir ke dunia ini"


"Kau pasti akan membantu ayah membalaskan dendam pada Tumini"

__ADS_1


"Dia telah membuang ku dan berani merebut selendang ijo milikku" ucap kebo Ijo dengan erangan penuh rasa kecewa.


__ADS_2