Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Pengakuan tetangga


__ADS_3

Bu rusdi akhirnya mulai mencari informasi dari para tetangga yang terbiasa kehilangan uang mereka.


Ternyata, jawaban mereka sama dengan jawaban ibu-ibu komplek yang lain yaitu mereka sudah tak pernah kehilangan uang lagi.


"Wah, ternyata semuanya sama jawabannya"


"Apa mungkin ini adalah ulah si devi yang memakai pesugihan?" gumam bu rusdi dalam hati


Bu rusdi akhirnya mengabarkan kecurigaan nya pada beberapa tetangga yang sedang berbelanja di warungnya, dan ternyata tetangga nya juga sepaham dengan bu rusdi.


Karena tak punya bukti yang kuat, akhirnya berita itu hanya mengalir begitu saja dan hilang tak berbekas. Semua warga kompleks di sekitar devi hanya berprasangka buruk saja, tanpa mengetahui kelanjutannya


Di tempat lain, Devi telah sembuh dari sakitnya dan kembali ke rumah nya yang saat ini hanya tinggal puing-puing saja.


Sambil menangis, Devi bertanya pada suaminya mengenai apa yang telah terjadi sebenarnya karena saat kejadian devi masih lemas dan belum bisa berpikir jernih.


"Mas, kenapa dengan rumah kita?"


"Kok hancur semua?"


"Kita akan tinggal dimana sekarang?"


"Oh ya, mana uang ku yang sudah aku simpan di lemari?" tanya Devi sambil berusaha mencari puing-puing sisa reruntuhan bekas lemarinya


"Dik, uang kita sudah hilang saat rumah ini roboh"


"Entah kemana"


"Mungkin di pungut oleh beberapa warga di sini" ucap suami devi berusaha membelai rambut devi yang panjang.

__ADS_1


Suami devi berusaha menenangkan hati devi agar tidak terlalu terpuruk lebih dalam lagi


"Loh, itu adalah tempat penyimpanan uangku"


"Tanpa itu, kita tidak akan punya uang lagi" ucap Devi sambil terus menangis


"Tenanglah dik"


"Kamu harus bisa berpikir jernih"


"Sekarang, aku akan membangun gubuk seadanya"


"Yang penting, kita punya tempat berteduh dan tidak kehujanan" ucap suami devi pada Devi


"Tidak mas"


"Aku malu dengam tetangga"


"Trus, kita tiba-tiba saja miskin lagi seperti ini?"


"Tidak"


"Aku tidak mau" ucap Devi pada suaminya


"Loh, kalau tidak mau, terus kita mau tinggal dimana dik?" tanya suaminya penasaran


"Ya kita harus panggil tuyul itu pulang kembali dan menyuruh nya mencari uang untuk kita lagi" ucap devi merengek pada suaminya.


"Dik, tuyul peliharaan mu telah diambil oleh pemiliknya"

__ADS_1


"Ustadz Janu yang telah membantu kita terlepas dari siksaan tuyul itu"


"Apakah kau tidak tahu?"


"Tubuhmu jadi seperti ini gara-gara menyusui tuyul sialan itu?" ucap suami devi memberi peringatan pada Devi


Devi tertunduk lesu mendengar ucapan suaminya. Dalam hati kecil devi, dirinya membenarkan ucapan suaminya, namun rasa gengsi devi terus saja menggoda nya lagi.


"Mas, pokoknya, aku akan kembali ke gunung meminta kekayaan pada sang juru kunci yang dulu pernah aku temui"


"Kau mau mengantarku?" tanya devi pada suaminya.


Suami devi hanya menggelengkan kepalanya mendengar permintaan devi yang aneh itu.


Dengan tegas, suami devi menolak permintaan istrinya itu


"Tidak dik"


"Aku tak mau mengantarkan kamu lagi"


"Aku gak mau kamu tersiksa"


"lebih baik, kita hidup miskin tapi tenang, daripada kaya raya tapi kita selalu dihantui rasa cemas"


"Selain cemas, kesehatan mu yang akan jadi taruhannya" ucap suami devi


Devi menangis mendengar jawaban suaminya yang mulai tak mendukunh nya lagi


"Hem, kalau begitu, aku ingin mati saja"

__ADS_1


"Aku tak mau hidup miskin seperti ini" gumam devi dalam hati


__ADS_2