Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Penerimaan


__ADS_3

Ririn, hendra dan Amin pun menyadari nasib mereka dan sedikit demi sedikit mau menerimanya.


"Baiklah, ayo kita pulang"


"Mungkin, banyak perubahan yang telah terjadi dan kita tidak mengetahuinya" ucap Hendra sembari mengambil tas ransel nya yang tertinggal di musholla dekat tanah makam itu.


Saat hendak mengambil tas ransel miliknya, Hendra terkejut melihat perubahan tangan kanan nya yang tak lazim. Tangan kanan nya berubah warna menjadi hitam dan berbulu.


"Hah, kenapa dengan tangan kanan ku?" ucap Hendra terkejut.


Ririn dan Amin yang melihat hal itu menjadi risih dan jijik karena selain warnanya yang menjijikan, bau menyengat mulai timbul dari tangan hendra.


"Hendra, tangan mu mengeluarkan bau yang menyengat"


"Mengapa ini terjadi padamu?"


"Setahuku, kau tidak apa-apa sejak tadi" ucap Amin kepada Hendra.


"Aku juga tidak merasakan sejak tadi"


"Baru sekarang setelah aku pergi hendak mengambil rangsel ku, aku mengetahui jika kondisi tanganku sudah seperti ini" ucap Hendra dengan wajah penuh kecemasan.


"Pak tua, apa yang terjadi dengan diriku?" tanya hendra kepada pak tua yang masih duduk di depan mereka.


pak tua itu memandang ke arah hendra kemudian pak tua itu terdiam sejenak.


"Hendra, sebagian tubuhmu sudah terjebak ke alam jin"


"Kau bisa hidup di alam jin maupun di alam manusia dan kau bebas memasukinya"


"Coba kau ingat, tindakan apa yang membuat tangan mu menghitam seperti ini" ucap pak tua itu kepada Hendra.


Hendra terdiam sejenak mendengar perkataan pak tua itu. Sambil mengingat-ingat, Hendra terduduk dan terdiam melihat ke arah dedaunan yang bergoyang.


"Yah, aku ingat sekarang"


"Tangan kanan ku terjebak dalam sungai darah di negeri jin" ucap Hendra sambil menatap ke arah pak tua.


"Oh ya benar Hendra"


"Aku juga ingat waktu itu, tangan mu kau celupkan di sungai itu" ucap Amin membenarkan ucapan Hendra.


Pak tua itu terseyum sedikit dan memberi penjelasan yang lebih detail pada hendra.


"Apakah kau tidak sadar, wajah mu dibandingkan dengan wajah Amin dan Ririn sangat berbeda"

__ADS_1


"Kau terlihat berbeda dan lebih muda dari mereka" ucap pak tua itu memberi penjelasan.


Hendra dengan seketika mengambil cermin yang saat itu berada di tangan Amin dan Hendra merasakan hal yang sama.


"Benar, wajahku tetap sama seperti saat aku berangkat 20 tahun yang lalu"


"Pak tua, apakah wajahku akan tetap seperti ini sampai nanti?" tanya Hendra penasaran


"Ya benar"


"Wajahmu akan tetap seperti ini dan kesehatan mu juga akan tetap prima"


"Masalah yang kau hadapi sekarang hanyalah bau tak sedap yang berasal dari tangan mu itu" ucap pak tua sambil menatap tangan kanan hendra yang menghitam


"Lalu, apa yang haru aku lakukan?"


"Aku tak mungkin menemui manusia lain jika kondisiku seperti ini" ucap Hendra dengan nada pelan dan sepertinya hendra sedih mengalami hal itu.


"Sudahlah nak, kejadian sudah terlanjur terjadi"


"Aku akan memberikan kain pembungkus ini agar bau tak sedap di tangan kanan mu bisa tertutupi" ucap pak tua itu.


Pak tua itu segera membuka jubahnya dan tampak kain putih berada di dalam jubah pak tua itu.


Bau tak sedap hilang seketika dan hal itu membuat Amin dan Ririn sedikit lega melihatnya.


Setelah semua selesai, mereka bertiga ijin pamit kepada pak tua itu dan pergi menuju rumah mereka yang sudah lama mereka tinggalkan.


Sementara itu, pak tua yang menjaga musholla tanah makam itu menghilang entah kemana.


Sebelum menghilang, pak tua itu memandang Ririn, Hendra dan Amin dari kejauhan


Dirinya sudah lega karena ada pengganti sosok sakti penunggu makam itu.


Dirinya sudah melimpahkan secara tidak langsung tugas nya menjaga makam itu kepada Hendra. Hanya saja Hendra belum mengetahui akan hal itu.


"Hendra, ketahuilah"


"Kau akan kembali ke sini dan kau akan terasing disini sama sepertiku"


"Itu adalah karma turunan yang akan kau dapatkan setelah seluruh keluargamu menyakiti Citra yang merupakan cucu kesayanganku" ucap pak Tua itu sambil tersenyum kecil.


Ternyata, pak tua itu adalah kakek buyut Citra mantan kekasih Hendra di masa yang lampau. Secara tak sengaja Hendra bertemu dengan pak tua itu dan menjalani hidup di negeri jin walau sebentar.


Permasalahan kesialan yang menimpa Hendra bukan lah ulah kakek tua itu. Kesialan yang menimpa Hendra akibat ulah nya sendiri beserta keturunan nya.

__ADS_1


Hendra, Amin, dan Ririn akhirnya sampai di rumah Hendra dan banyak perubahan yang terjadi.


Hal pertama yang dicari Hendra adalah sosok ayahnya yang telah tega melecehkan mantan pacarnya Citra yang saat itu telah meninggal.


Hendra langsung masuk ke dalam rumahnya dan ternyata ayah hendra berada di ruang tidur dengan kesendiriannya.


Tak ada satupun yang menemaninya. Tubuh ayahnya kering kerontang dan terlihat sangat kurus.


Wajahnya mulai menua dan hal itu semakin menambah penderitaannya.


"Ayah, apa yang kau lakukan terhadap Citra?" tanya Hendra kepada ayahnya.


Ayah Hendra tak menjawab sepatah katapun. Rupanya, ayah nya telah tuli dan pikun. Tingkahnya seperti anak kecil dan sia-sia jika memarahinya


Dua puluh tahun telah berlalu dan pastinya usia ayahnya sudah sangat tua renta


Sanggar tari nya sudah tak terurus lagi dan banyak hal baru yang hendra tidak mengetahuinya


Sementara itu, Amin juga pulang ke rumahnya dan kebetulan kedua orang tuanya masih hidup dan menyambutnya dengan suka cita.


Walau sudah tua renta, namun, Amin lebih beruntung daripada Hendra.


Orang tua Amin masih sehat walapun sudah tua. Saudara laki-laki Amin juga menyambut kedatangan Amin dengan baik.


Ririn juga kembali ke rumah nya, kali ini berbeda dengan Hendra dan Amin. Ririn sejak dulu hidup sebatang kara bersama Tumini.


Rumah ririn hampir roboh karena sudah lama tak terurus. Kondisi rumah Ririn terlihat angker karena tak ada penerangan disana. Penduduk desa yang berada di dekat rumah Ririn dan Tumini banyak yang pindah tempat karena takut dengan keadaan rumah Ririn yang sangat mencekam.


Namun, masih ada satu atau dua penduduk yang bertahan hidup di sekitar rumah Ririn karena memang tak punya uang untuk pergi ke tempat lain.


Cerita Ririn dan kakak nya rupanya telah melegenda di desa itu. Sosok Tumini dikabarkan telah di jemput makhluk halus dan tak tau rimbanya. Sedangkan Ririn dikabarkan menghilang misterius setelah kakak nya di culik makhluk halus.


Saat Ririn datang ke kampung nya, salah satu penduduk yang masih bertahan di tempat itu mencoba menghampiri Ririn


"Ririn, bagaimana kabarmu?"


"Mengapa kau baru kembali sekarang?"


"Apakah kau kembali merantau? tanya salah satu tetangganya penasaran.


Ririn yang kelelahan saat itu langsung terduduk lesu dan tak menjawab sepatah katapun


"nak, tolong ambilkan air putih"


"Mungkin, Ririn kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh" ucap pak parjo salah satu tetangga Ririn yang selalu baik sejak jaman dahulu.

__ADS_1


__ADS_2