
Jiwa Doni mulai kebingungan karena dirinya tak tahu harus kemana. Seluruh jalan sepi tak ada satupun yang lewat di sana. Saat dirinya kembali ke tempat dimana dua wanita cantik yang kesakitan berada, Doni tak menemukan mereka lagi.
Sepertinya Doni tak tahu jika setiap jam 5 sore lewat dua puluh menit atau menjelang magrib, kedua penari itu pergi ke desa dedemit tak jauh dari tempat Doni sekarang.
Tak lama kemudian, terdengar suara gamelan dan suara itu terdengar sampai di telinga Doni. Jiwa Doni yang tersesat mulai bisa mendengar arah suara itu.
Doni teringat dengan apa yang dialami nya di desa itu sebelum dirinya tersesat seperti sekarang ini.
"Desa itukah yang disebut desa dedemit?"
"Aku harus mencari tahu"
"Dulu aku pernah singgah di sini bersama Sandra dan memakan makanan di sana yang terlihat enak namun sangat berbeda ketika ku bawa kembali pulang"
"Sekarang, aku ingin tahu apakah makanan yang dihidangkan sama dengan yang dulu" gumam Doni dalam hati
Doni melihat dari kejauhan dan memang benar apa yang dilihatnya itu.
"Hah, dua wanita penari cantik itu ada di sini ternyata"
__ADS_1
"Aneh"
"Mengapa sekarang mereka berdua tak merasakan kesakitan sama sekali" gumam Doni dalam hati.
Karena rasa penasaran nya, Doni mulai mendekat ke arah Tumini dan Rita yang sedang menari.
Saat semakin mencoba mendekati Tumini dan Rita, Doni tak pernah sampai ke tempat dimana Rita dan Tumini menari. Hal itu membuat Doni menjadi semakin penasaran.
Di kanan kiri Doni banyak orang yang berjoged ria. Kali ini dirinya tak melihat sosok tampan dan cantik di sini.
Wajah mereka sangat menakutkan. Ada yang lidahnya menjulur ke luar, ada sosok lelaki tinggi besar dengan perut buncit dan kepala botak.
Beberapa lama kemudian karena kesabaran Doni berjalan melewati orang-orang yang dianggap aneh olehnya, Doni sampai ke tempat dimana Tumini dan Rita menari.
"Nona, apakah kau kenal aku?" tanya Doni mulai menyapa kepada Tumini dan Rita yang saat itu sedang asyik menari
Tumini menoleh sejenak tanpa menghentikan tariannya.
tanpa menjawab sepatah kata apapun, Tumini memandang ke arah Doni dan berusaha memakai kode bahasa tubuh untuk mengungkapkan bahwa dirinya belum bisa berkomunikasi dengan Doni saat dirinya menari.
__ADS_1
Sepertinya Doni mengerti bahasa tubuh Tumini dan dirinya mulai duduk di belakang panggung untuk menunggu Rita dan Tumini selesai menari.
Doni mulai merasakan hawa mistis ada di dekat tubuhnya.
"Hem, aku tak punya siapa-siapa sekarang selain dua wanita itu"
"Siapa tahu mereka bisa memberi informasi kepadaku jalan keluar dari desa inia" gumam Doni dalam hati.
Sementara itu, di alam manusia, Sandra dan Ustadz Rosi bersiap menuju ke tempat desa dedemit dengan membawa bekal doa yang diberi oleh kyai Yusuf.
Kebetulan mereka berangkat mencari Doni tepat jam 18.00 malam dimana pada jam itu di desa Dedemit diadakan pesta tari yang memang setiap hari di lakukan.
Mereka berjalan membawa obor dan memanggil jiwa Doni agar jiwa Doni bisa mendengar dsn kembali ke dalam tubuh nya lagi.
"Ustadz, ayo kita nyalakan obor sekarang"
"Kita sudah sampai di tengah hutan"
"Seingatku ,di tempat inilah aku tersesat bersama Doni, dan di tempat ini pula aku bisa kembali" ucap Sandra dengan penuh keyakinan.
__ADS_1