
Rita dan Tumini mulai berlari tanpa kenal lelah. Tenaga mereka mulai terkuras habis namun hal itu tak mengalahkan tekad dan semangat mereka untuk pergi dari tempat terkutuk itu.
"Kita harus secepatnya pergi dari tempat ini"
"Lihatlah ke arah depan"
"Disanalah tempat pertukaran antara dunia manusia dan dunia jin ada" ucap Rita kepada Tumini.
Sebelum sampai di tempat itu, Rita dan Tumini membersihkan diri mereka di telaga jin yang berada tak jauh dari tempat dimana mereka akan keluar dari alam jin.
Tubuh mereka yang penuh darah segar akhirnya bersih seketika akibat dibasuh dengan air yang ada di telaga itu.
Telaga di negeri jin sangatlah jernih, dan airnya berbeda dengan air yang berada di dunia manusia.
"Tumini, apakah kau sudah membersihkan seluruh tubuhmu?" tanya Rita kepada Tumini yang saat itu masih membetulkan rambutnya yang panjang
"Tenanglah Rita, aku pasti mengikuti arahanmu" ucap Tumini kepada Rita yang sejak tadi sudah menyelesaikan semuanya.
Beberapa lama kemudian, Tumini telah selesai melaksanakan aktivitas nya dan segera berlari mengikuti kemana Rita pergi.
Di tempat lain, Ririn, Amin dan Hendra masih saja terjebak di alam roh yang penuh sesak. Banyak roh berkeliaran waktu itu.
"Amin, hendra, ayo cepat kita pergi dari sini"
"Di alam ini penuh sesak"
"Aku sudah tidak kuat lagi melihat orang berlalu lalang tanpa jeda baik di belakang ku maupun di depan ku" ucap Ririn kepada kedua temannya itu.
"Iya, sabar"
"Aku dan Hendra juga masih mencari kemana arah kita pergi" ucap Amin sambil melihat kesana kemari demi mencari arah jalan pulang.
Tak disangka-sangka, di ujung jalan, tampak wanita cantik duduk di tempat ayunan dan sosok anak kecil sedang bersamanya.
Wanita itu menerima fasilitas lebih dari roh yang lain, dan masih banyak ruangan kosong di dekatnya sehingga dirinya bisa leluasa bergerak.
Melihat hal itu, Amin segera menarik tangan hendra dan Ririn agar mereka bisa mengikuti nya menemui wanita cantik itu.
Selain untuk beristirahat dari tempat yang penuh sesak, Amin berharap bisa mengetahui jalan keluar dari wanita itu.
__ADS_1
"Permisi, apakah engkau bisa membantuku wahai nona" tanya Amin saat sampai di tempat itu...
Mendengar panggilan dari Amin, rupanya wanita cantik itu menoleh.
Amin, terkejut karena roh lain tak pernah mau mendengar tegur sapa darinya walau hanya sebentar.
"Iya, kau meminta bantuan apa kepadaku?"tanya wanita itu sembari tersenyum.
Sosok anak kecil yang ada di dekatnya langsung pergi ke pangkuannya seolah takut jika Amin akan berbuat macam-macam kepadanya.
Hendra terdiam terpaku karena wajah itu mirip dengan mantan kekasihnya dulu.
"Tunggu, " ucap Hendra sambil terus melihat wajah wanita cantik itu
"Apakah kamu mantan kekasihku dahulu yang bernama citra?" tanya Hendra penasaran.
Citra yang mendengar pertanyaan Hendra tersenyum tipis seperti tak begitu terkejut dengan kedatangan Hendra.
"Iya benar, aku citra mantan kekasihmu dahulu ketika berada di dunia" ucap Citra dengan nada datar.
Hendra terdiam sejenak mendengar jawaban daro citra. Ternyata wanita itu benar-benar mantan kekasihnya dulu.
Saat aku mendengar kabar kematian mu, aku sangat terkejut"
"Bukankah kita berencana menikah waktu itu?"
"Tapi mengapa kau malah membunuh dirimu sendiri?" tanya hendra penasaran
Pertanyaan Hendra membuat citra berpaling dan berkata
"Hendra, aku tak perlu menjelaskan tentang hal ini karena hal ini sudah tak penting bagiku" jawab citra pendek.
"Siapakah anak itu?"
"Apakah kau telah berselingkuh dengan lelaki lain selain aku?"
"Setauku, kau tidak menikah dan meninggal dunia secara tiba-tiba" ucap hendra
Citra tanpa emosi menjelaskan kepada hendra dengan nada tetap datar
__ADS_1
"Hendra"
"Aku juga tak perlu menjawab nya karena hal itu sudah tidak penting lagi"
"Jika aku menceritakan kepadamu, apa yang akan kau lakukan?"
"Kau tidak akan bisa berbuat apa-apa" jawab Citra
Mendengar jawaban dari citra hendra semakin dibuar penasaran
"Hendra, kau lihat saja"
"wajah anak ini mirip siapa?"
"Apakah kau tak mengenalinya?" ujar citra balik bertanya.
Hendra dengan cepat melihat wajah anak itu dan setelah dia pikir-pikir, wajahnya sama persis dengan dirinya.
"Jika kau ingin tau kejadian sebenarnya ketika aku di dunia, lihatlah ke layar itu" ucap citra sambil menunjukkan sebuah layar dan layar itu mirip dengan film tentang dirinya.
Hendra melihat sebuah layar yang saat itu berada di depannya. Dan anehnya, Ririn dan Amin tak bisa melihat layar itu. Hanya Hendra yang bisa melihatnya.
Hendra merasa terkejut melihat sosok citra dan dirinya yang tengah berbahagia bercanda dan bercinta. Air mata Hendra menetes melihat fenomena itu.
Citra seorang wanita baik-baik yang berjalan dengan keinginan nya sendiri. Dirinya hanya berkencan dengan hendra dan hal itu berbeda dengan Hendra yang suka berkencan dengan banyak wanita.
Tiba saat nya ketika citra pergi ke rumahnya, dan dirinya rupanya sedang berkencan dengan wanita idaman lainnya.
Citra dengan setia menunggu Hendra di depan rumah hendra dan secara tiba-tiba, ayah hendra datang menghampiri Citra.
Ayah Hendra mulai menyapa Citra dan mengajak Citra masuk ke dalam rumah mereka. Kebetulan ibu Hendra berada di luar kota dan di dalam rumah itu hanya ada ayah Hendra dan Citra saja.
Citra masuk ke dalam rumah Hendra dan percaya begitu saja ajakan dari ayah hendra karena menganggap ayah hendra sudah menjadi ayah sendiri.
Saat Citra masuk ke dalam rumah Hendra, beberapa menit kemudian terdengar suara teriakan Citra yang sangat keras.
Seperti suara rintihan akibat pemaksaan. Dan tak lama kemudian Citra keluar dari rumah Hendra dengan wajah yang suram dan tampak air mata menetes di wajahnya.
Setelah itu, layar yang dilihat hendra hilang dan hal itu membuat Hendra kebingungan. Sementara itu, citra yang tadi berada di depannya tiba-tiba saja menghilang entah kemana
__ADS_1