
Satu gelas air putih sudah tersedia tepat dihadapan Ririn. Dan ririn pun segera meminumnya.
""Ah, segar sekali"
"Terimakasih pak parjo" ucap Ririn sembari menatap pak parjo tanpa berkedip. Akhirnya Ririn mulai berani berkata lagi setelah sekian lama terdiam seribu bahasa.
"Sudahlah, sekarang kau sudah pulang kembali ke kampung"
"Jalani aktivitas seperti dulu lagi"
"Jangan pikirkan hal yang menguras air matamu"
"Untuk kakak mu, jangan kau tangisi"
"Jika dia memang ditakdirkan kembali, maka akan cepat kembali"
"Tunggulah dia di sini sambil membuka usaha baru Ririn"
"Jangan larut dalam kesedihan" ucap pak suparjo panjang lebar.
"Iya pak"
"Aku akan menata hidup yang sempat tertunda"
"Saat ini, usia ku sudah 40 tahun dan aku belum menemukan pasangan yang cocok untuk aku jadikan suami pak"
"Perjalanan mencari kak Tumini cukup menguras waktuku" ucap Ririn kepada pak Suparjo.
__ADS_1
"Pak, aku istirahat dulu ya?"
"Aku sangat capek sekali" ucap Ririn
"Baiklah nak"
"Istirahatlah" jawab pak parjo dan setelah berkata demikian, pak parjo kembali ke rumah nya.
Ririn memandang ke sekeliling ruangan kamarnya, tak banyak perubahan yang telah terjadi.
Ririn mulai teringat dengan selendang ijo milik kakak nya Tumini dan dengan penuh rasa penasaran Tumini mencari selendang ijo milik Tumini yang seharusnya berada di dalam almari.
Saat Ririn membuka lemari milik kakak nya, ternyata tak ada selendang itu disana.
"Hem, ternyata selendang itu udah gak ada"
"Mungkin saja dia masih hidup sekarang" gumam Ririn dalam hati.
Menurut pandangan Ririn, aki mamang adalah biang kerok dari semua hal yang menimpa dirinya maupun menimpa kakak nya Tumini.
"kali ini, atau besok, aku akan menbuat perhitungan dengan aki mamang"
"Aku harus tau apa yang sebenarnya ada di selendang ijo itu" gumam Ririn dalam hati.
Ririn mulai merebahkan tubuhnya tanda dirinya sudah sangat lelah.
Di dunia lain, Tumini dan Ratna mulai berjalan menyusuri hutan di alam jin. Mereka berlari sangat cepat dan tanpa mengenal lelah. Dalam benak mereka, ingin secepatnya kembali ke alam dunia agar bisa bertemu dengan sanak keluarga mereka di sana.
__ADS_1
Untuk Rita, sudah tak mungkin dirinya bisa bertemu sanak keluarganya karena pasti seluruh keluarganya telah meninggal karena Rita telah menghilang selama seribu tahun.
"Tumini ayo cepat!" kita akan melewati roda waktu itu" panggil Rita yang sudah berada di sana duluan.
"Iya Rita sabar dulu" ucap Tumini sambil bergegas pergi menuju ke roda itu.
Roda itu berputar sangat keras, dan hal itu menbuat Tumini dan Rita ragu untuk masuk ke dalam nya.
"Tumini" Rita memanggil Tumini untuk kedua kalinya.
"Iya Rita, ada apa?"jawab Tumini dengan nada sedikit kesal..
"Jangan lupa makanlah bubuk pemurni jasad dan jiwa sebelum kau memasuki roda itu"
"Aku baru saja memakannya" ucap Rita mengingatkan Tumini.
"Oh ya, hampir saja aku lupa" jawab Tumini tersenyum kegirangan.
Tumini sudah membayangkan jika nanti dia sampai di alam dunia, wajahnya akan tetap muda sama seperti saat dirinya mulai meninggalkan alam dunia.
Tumini mulai memakan bubuk pemurni jasad dan jiwa dan setelah memakan bubuk tersebut, Tumini dan Rita segera masuk ke dalam roda perbatasan antara dunia jin dan dunia manusia.
Tubuh Rita dan Tumini berputar-butar bagai gasing. Kecepatan roda itu seperti kilat petir menyambar. Tumini yang berada di dalam nya tak merasakan apa-apa. Mereka berdua pingsan seketika karena roda itu berputar melebihi batas kemampuan Tumini dan Rita untuk beradaptasi dengannya.
Dan beberapa waktu kemudian, Tumini dan Rita telah sampai ke alam manusia sesuai dengan prediksi mereka selama ini.
Sementara itu Di alam jin, raja jin sangat marah besar karena pintu perbatasan antara alam manusia dan alam jin terbuka tanpa sepengetahuannya.
__ADS_1
Dengan amarah yang semakin memuncak, raja jin menghukum penjaga tahanan yang telah lalai menjaga Tumini dan Rita karena mereka bisa kabur dengan mudah.