Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Rudi Hilang


__ADS_3

Di gunung kalong, nenek jin mulai masuk ke dalam gua, dimana disitu dijual beberapa macam peralatan yang biasa di pakai oleh bangsa jin.


Situasi dalam gua sangat ramai sekali hingga di sana para jin sedang berdesak-desakan.


Saat situasi sedang ramai, beberapa dari jin yang ada di sana mendengar suara langkah kaki manusia yang berada di atas gua mereka.


"Hei, siapa keempat manusia itu?"


"Mereka mengusik acara jual beli yang kita lakukan"


"Lihatlah sampah mereka dibuang di lembah ini" ucap salah satu jin pedagang yang menjual beberapa bahan makanan untuk kalangan jin.


"Ayo kita pergi ke sana untuk menyapa mereka" ucap salah satu jin lainnya.


Kedua jin itu segera pergi ke atas, dimana para mahasiswa sedang melakukan pe dakian menuju ke puncak gunung.


"Beni, ayo cepat jalannya" ucap Rudi yang berada di belakang sendiri.


"Iya, suasana di depan agak berkabut"


"Aku tak bisa melihat dengan jelas nih" ucap Beni sambil mengucek matanya.


Rudi dengan muka kesal akhirnya berjalan pelan di belakang dan sambil melihat situasi di bawah gunung yang begitu curam.


"Sial sekali hari ini"


"Mengapa sampai ada kabut" gumam Rudi kesal


Karena terlalu lama menunggu, Rudi duduk bersantai sambil memakan camilan yang ada di sakunya. Rudi duduk diantara ke dua tebing yang curam. Sementara ketiga temannya merangkak pelan menuju ke puncak.


Saat duduk dan memakan makanan yang ada di sakunya, Rudi melihat dua sosok pemuda yang menawarkan barang dagangannya.


"Permisi, saya mau menawarkan roti"


"Barangkali mas mau membeli" ucap salah satu pemuda misterius yang menawarkan sebuah roti kepada Rudi.


"Mengapa ada orang di tempat ini?"


"Bukankah aku sekarang berada di gunung?" gumam Rudi dalam hati


Rudi tak menyadari jika bahaya mengancam jiwa nya.


"Bolehlah pak"


"Saya beli 4" ucap Rudi pendek


"Oh ya"


"Ini kue nya mas" ucap salah satu pemuda penjual roti itu


Rudi pun menerima kue pemberian dari kedua pemuda itu. Setelah kue itu berada di tangannya, Rudi mencoba mencicipi roti itu.


Tiba-tiba, Rudi melihat suasana di samping nya tampak ramai oleh orang yang memperjual belikan sesuatu.

__ADS_1


"Kok di sini ada pasar ya?" gumam Rudi dalam hati


Rudi melihat barang yang diperjual belikan bermacam-macam mulai dari baju, aksesoris dan benda-benda pusaka jaman dahulu.


"Oh, bagus sekali"


"Aku harus mampir sebentar dan mengajak teman-teman" gumam Rudi bersemangat


"Beni, Intan, Maya"


"Ayo kita mampir dulu, belanja di sini" ajak Rudi sambil memanggil ke tiga temannya.


Tak ada jawaban dari mereka bertiga


"Sungguh aneh sekali"


"Mengapa tiba-tiba Beni dan teman-teman ku yang lain tak ada di depanku?"


"Tadi mereka ada di depanku dan menghalangi ku untuk melangkah karena cuaca sedang berkabut" gumam Rudi dalam hati.


Rudi terus berjalan menuju ke tempat dimana orang-orang ramai berjualan.


"Mas, mau membeli apa?"


"Ini ada barang bagus-bagus lo" salah satu pedagang memberikan sebuah penawaran kepada Rudi.


"Aku pilih yang ini" ucap Rudi sambil menunjukkan sesuatu berupa benda pusaka yang sangat menyilaukan matanya


Kala itu, nenek jin berada di samping Rudi dan mengambil benda yang sama sehingga keduanya saling berebut.


"Aku butuh benda ini" ucap nenek jin


"Anak muda, kau beli benda yang lain saja, masih banyak" ucap nenek jin sambil memandang ke arah Rudi.


"Ya, nenek, ambillah"


"Aku akan mencari barang yang lain" ucap Rudi sambil pergi ke arah dimana barang pusaka lain dijual di sana.


Nenek jin segera pergi meninggalkan gunung Kalong karena barang yang dicarinya sudah ketemu.


"Aku akan segera kembali menemui Tumini"


"Sebentar lagi, aku akan mengadakan ritual paku jiwa untuk Tumini" gumam nenek jin sambil tersenyum lepas.


Nenek jin akhirnya terbang meninggalkan gunung Kalong. Saat terbang, nenek jin melihat ada sosok manusia yang tersangkut di dua pohon kayu, dan letaknya di dasar tebing jurang.


"Sepertinya, aku mengenal pemuda ini" gumam nenek jin sambil mendekati tubuh manusia itu.


Sementara itu, Di alam dunia, ketiga teman Rudi telah sampai di puncak gunung dan mereka kebingungan karena Rudi telah hilang dan tak bersama mereka lagi


"Rudi, apakah kau mendengar suara kami?" panggil Beni


"Kemana Rudi ya?"

__ADS_1


"Tadi dibelakang ku" ucap Maya sambil berusaha mencari Rudi.


Tak ada tanda-tanda bahwa Rudi ada di belakang mereka.


"Aduh, bagaimana ini?"


"Apakah Rudi telah hilang?" tanya Intan kebingungan


"Sudahlah, kita tenang dulu"


"Sebentar lagi, kita turun ke dasar gunung dan kita laporkan kejadian ini pada warga sekitar" ucap Beni menenangkan kedua temannya yang saat itu sedang panik.


Akhirnya karena tak sabar dengan situasi yang ada, ketiga teman Rudi yang masih tersisa segera turun ke dasar gunung, dan pergi ke rumah warga setempat.


Mereka bertiga berjalan menuju ke rumah kepala desa setempat, yang rumahnya persis di bawah gunung kalong


"Permisi pak" ucap Beni sambil mengetuk pintu rumah pak kepala desa yang bernama pak suparjo


"Oh, iya sebentar" jawab pak suparjo


Terdengar suara langkah kaki dan tiba-tiba pintu rumah terbuka


"Oh, silahkan masuk" pak Suparjo mempersilahkan ketiga mahasiswa itu masuk ke rumahnya.


"Silahkan duduk nak"


"Ada keperluan apa kalian datang kemari malam-malam?" tanya pak Suparjo sambil memandang ke arah Beni.


"Maaf pak, kami mengganggu istirahat bapak"


"Kami adalah mahasiswa yang sedang mendaki gunung kalong"


"Salah satu teman kami yang bernama Rudi telah hilang saat kami melakukan pendakian" ucap Beni sambil menunduk sedih


Pak Suparjo terkejut mendengar ucapan dari Beni.


"Kalian mendaki gununh Kalong tanpa ijin?"


"Apakah kalian tidak melihat jika ada tulisan besar yang mengatakan gunung ini sangat berbahaya dan tidak ada yang boleh melakukan pendakian di sini?" ucap pak Suparjo dengan kecewa.


"Maafkan kami pak"


"Kami tidak menyangka jika kejadian nya seperti ini" ucap Beni menyesali perbuatannya.


Pak suparjo menarik nafas dalam dan berkata


"Kalau begitu, kalian berdua tunggu di sini"


"Aku akan memanggil sesepuh disini"


"Semoga saja Rudi bisa selamat, karena setiap orang yang telah hilang disini, sembilan puluh sembilan persen dia tidak akan kembali" ucap pak suparjo


Mendengar ucapan pak Suparjo, Maya dan Intan menangis tiada henti. Mereka menyesal telah mendaki di gunung Kalong. Kalau saja mereka pergi ke tempat lain, semua ini tidak akan terjadi.

__ADS_1


Sementara itu, Beni berusaha untuk tegar. Hatinya juga sangat terpukul, namun apa daya. Dirinya hanya bisa berdoa ada satu persen keajaiban yang membuat teman nya Rudi bisa kembali di tengah-tengah mereka


__ADS_2