
Perjalanan Tumini dan Rita menuju ke rumah nenek jin rupanya telah sampai. Sesampai di kediaman nenek jin, Tumini memperkenalkan bayi anak kebo ijo pada nenek jin
"Nenek, ini bayi siapa ya?"
"Dia mengaku anakku, padahal aku tak pernah melahirkan sama sekali" ucap Tumini sambil berbisik.
Nenek jin segera mendekati bayi dedemit kebo ijo dan mulai menerawang jauh.
Kebo ijo yang mengintip dari luar rupanya tak mendengar ucapan Tumini. Dengan mengendap-endap kebo ijo mendekatkan telinganya agar dirinya bisa mendengar semua percakapan antara nenek jin dan Tumini.
Tapi sial bagi kebo ijo. Nenek jin yang mempunyai kesaktian tinggi mengetahui keberadaan kebo ijo yang mengintip mereka di balik pintu.
Dengan kekuatan nenek jin, tubuh kebo ijo ditarik dan masuk ke dalam.
"Hei, kebo ijo"!
"Kenapa kau mengikuti Tumini?" tanya nenek jin dengan nada marah.
Matanya melotot sampai bola mata hampir keluar.
Kebo ijo ketakutan melihat nenek jin. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, kebo ijo langsung lari karena tak ingin kemarahan nenek jin semakin memuncak.
Setelah kepergian kebo ijo, situasi aman lagi. Tumini bisa leluasa menceritakan rasa penasaran nya kepada nenek jin.
Nenek jin berkata pada Tumini tentang bayi dedemit yang selalu mengikutinya.
"Tumini"
"Sebenarnya, bayi itu keturunan dedemit kebo ijo"
"Lebih baik, kau tampung anak itu"
"Anak itu selamanya tetap kecil tak akan pernah tumbuh" ucap Nenek jin
"Kelebihannya hanyalah memperbanyak diri jika manusia telah menyusuinya"
"Kenapa nek?" tanya Tumini penasaran
"Dia keturunan manusia yang lemah di campur dengan dedemit rendahan seperti kebo ijo"
"Jadi, dia hanya bisa kau manfaatkan untuk menambah pundi kekuatan mu dengan memperkerjakannya sebagai tuyul" ucap nenek jin panjang lebar
"Kau bisa memanfaatkan manusia untuk memeliharanya, menyusuinya, dan sebagai balasannya dia akan memberikan uang hasil curiannya pada manusia yang mau menyusui nya"
"kau tak perlu capek-capek diikuti dia terus" ucap nenek jin panjang lebar
Tumini sedikit bingung akan ucapan nenek jin. Melihat Tumini yang bingung, nenek jin mulai berkata
"Tenang saja Tumini, Dia akan menuruti semua kemauan mu, dan dia sangat bodoh" kata nenek jin.
__ADS_1
"Oh ya nek, benarkah?"
"Kalau begitu, aku akan memanfaatkan manusia yang meminta kekayaan kepadaku"
"Mereka bisa memilih jenis pesugihan apa yang mereka mau"
"Oh ya nek, untuk tumbal apa yang diinginkan bocah tuyul ini ketika sudah dipelihara oleh manusia?" tanya Tumini
"Tak ada tumbal apapun, hanya saja istri pelaku harus memberi susu kepadanya"
"Setiap dia selesai memberikan uang, istri pelaku harus memberikan air susunya"
"Tuyul ini tak mempunyai ibu karena ibunya telah meninggal setelah melahirkannya"
"Oleh karena itu, dia haus akan air susu manusia karena ya memang dia dilahirkan oleh seorang manusia" ucap nenek jin
Penjelasan nenek jin rupanya sudah jelas di mata Tumini. Rita pun yang berada di samping Tumini juga telah mengerti penjelasan dari nenek jin.
"Baiklah nek, kalau begitu, aku akan memperkerjakannya nanti"
"Untuk sementara waktu, aku akan memberi dia makan saja" jawab Tumini penuh semangat
"Hei nak, kesinilah" panggil Tumini kepada bayi dedemit yang saat itu asyik bermain di rumah nenek jin
"Iya ibu, ada apa?" tanya bayi itu
"Aku akan memberikan nama yang bagus untuk mu nak"
"Nanti, kalau kau mempunyai majikan baru, aku akan memberikan kabar kepadamu" ucap Tumini sambil membelai kepala gundul si bocah dedemit itu.
"Baiklah bu, semua perintah ibu akan aku laksanakan" jawab bayi dedemit itu
Tumini tersenyum puas. Setelah berkata demikian, Tumini menggendong tuyul itu dan meletakkan nya di taman bunga milik nenek jin.
"Tuyul, kau disini dulu ya?"
"Makanlah buah yang ditanam disini"
"Ibu akan mencarikan kamu majikan baru" kata Tumini sambil pergi meninggalkan tuyul itu.
Tuyul itu mengangguk senang. Setelah ditinggal oleh Tumini, Tuyul itu bermain di halaman belakang rumah nenek jin, yang berisi tanaman dari jiwa manusia yang di belenggu.
Di tempat lain, arwah Indah rupanya tak terima dengan nasibnya dan selalu menangis. Arwahnya getayangan menggoda beberapa penduduk yang ada di wilayah perbatasan alam dedemit dan alam manusia.
Desa perbatasan itu bernama desa Kasemek. Di desa itu arwah Indah bergentayangan mencari anaknya yang hilang.
Rambut indah acak-acakan dan perut nya terburai. Arwah indah berjalan tak tentu arah, hingga akhirnya Indah menemukan tempat tinggal yang lebih layak dibanding dengan alam dedemit yang selama ini dia tinggali.
Tempat tinggal Indah berada di kuburan tua yang terletak tak jauh dari rumah penduduk desa kasemek.
__ADS_1
Suatu hari, ada seorang petani yang bernama pak Robi, pulang terlalu malam. Petani itu terbiasa melewati jalan yang sepi hingga akhirnya Indah datang untuk meminta bantuan kepadanya.
Kebetulan, hari itu adalah malam jumat dan hujan juga turun rintik rintik.
Karena tak membawa payung, pak Robi berteduh di emperan toko dekat kuburan tua tempat Indah tinggal. Toko itu ternyata tak dihuni pemilik sudah beberapa tahun karena dagangannya tak laku.
"Pak, pak, tolong saya"
"Saya ingin mencari anak saya yang hilang" ucap Indah pada Robi
"Oh, mbak"
"Memangnya anaknya dimana?" tanya Robi penasaran
"Aku tidak tahu pak"
"Anakku tiba-tiba hilang setelah aku melahirkan dirinya" ucap Indah sambil memandang ke arah Robi.
Tatapan Indah sangat sayu sehingga membuat Robi kasihan kepadanya.
"Oh ya mbak, kalau boleh tahu rumah mbak dimana?"
"Malam-malam mbak jalan sendirian kok nggak takut?" tanya Robi penasaran
"Itu rumahku" ucap Indah sambil menunjukkan rumah yang sangat besar.
"Hem, bukankah dulu disini tak ada rumah?"
"Mengapa tiba-tiba ada rumah sebesar itu?" gumam Robi penuh tanda tanya
Robi sedikit curiga pada Indah karena wajah Indah menunjukkan wajah yang sangat pucat seperti hantu
Hingga akhirnya Robi memberanikan diri melihat tubuh Indah dari atas sampai bawah.
Betapa terkejutnya Indah dengan apa yang dia lihat.
Kaki indah tak berpijak di tanah, dan rambut Indah tiba-tiba panjang yak beraturan.
Mata Indah yang awalnya cantik berubah menjadi melotot dan bola mata nya menjulur keluar.
Lidah indah makin panjang seperti akan memakan Robi saat itu.
Robi juga bisa melihat perut Indah yang penuh dengan darah, mengucur dan perut Indah bolong di tengah.
"Ha ha ha hantuuuu" Robi berteriak keras karena rasa takut yang menyelimuti alam pikirannya.
Robi seketika itu lansung kencing di celananya. dan langsung pingsan.
Keesokan harinya Robi baru ditemukan pingsan di pemakaman tua di perbatasan desa itu.
__ADS_1
Bersambung tunggu episode selanjutnya kawan kawan