Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Dapat tempat menginap


__ADS_3

"Oh, jadi begitu" ucap Tumini


Setelah mengetahui nya, Tumini dan Rita pergi ke sebuah hutan di negeri Jin. Mereka berdua mulai mencari beberapa tulang belulang. Konon katanya, tulang adalah makanan pokok bangsa jin.


Tulang belulang itu mereka dapat dari bekas manusia yang telah memakannya dan dibuang ke sembarang tempat tanpa mengucapkan doa.


Setelah berhasil mendapatkan tulang belulang itu, Tumini segera pergi ke pasar dimana mereka dapat menukarkan tulang belulang disana.


Rupanya tulang belulang milik Tumini bisa ditukar dengan pakaian dana bahan makanan lainnya. Mereka berdua senang kala itu dan setelah selesai melakukan transaksi, mereka berdua pergi ke pinggir kota jin dan menikmati pemandangan alam jin saat sore hari.


"Tumini, sepertinya alam ini sangat cocok untuk kita"


"Apakah kita akan kembali ke alam manusia untuk mencari darah perawan nantinya?" tanya Rita sambil duduk melihat pemandangan.


"Selama selendang ijo berada di tangan kita, mau tidak mau, aku harus tetap mencari darah perawan itu"


"Kau tahu tubuhku sudah menghitam jika dilihat di alam manusia"


"Aku tak mungkin tinggal disana lagi"


"Mungkin, aku tidak ditakdirkan hidup di alam manusia sejak dahulu oleh Tuhan" ucap Tumini sambil meneteskan air mata


"Sudahlah Tumini"

__ADS_1


"Aku akan selalu menemanimu untuk mencari darah perawan"


"Selama kita masih ada jeda, ayo kita cari penawar bubuk pemurni jiwa itu" ucap Rita sambil menggandeng tangan Tumini.


"Bagaimana kita bisa mencari?"


"Teman di negeri jin saja kita tidak punya" ucap Tumini sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.


Tak ada satupun bangsa jin yang menyapa mereka. Suasan seperti acuh tak acuh dan asyik dengan kehidupannya sendiri.


Hingga akhirnya, ada dua pasang mata memandang mereka. Rupanya dua pasang mata itu adalah mata lelaki yang pernah mengintip nya saat mereka berdua mandi di sungai yang ada di hutan negeri jin.


"Hei, berhenti"


"Aku sepertinya mengenal wajah kalian berdua" tanya Tumini sambil menarik salah satu tangan pemuda itu.


"Kita memang pernah bertemu sebelumnya" jawab pemuda itu gugup


"Ya, kalian yang berani mengintip kami saat mandi kan?" tanya Tumini sambil menatap tajam ke arah dua pemuda itu


"Maafkan kami nona"


"Kami tak sengaja mengintip kalian berdua"

__ADS_1


"Kami rasa, kalian berdua bukan dari bangsa jin"


"Apakah benar?" tanya salah satu pemuda itu


"Benar, kami bukan dari bangsa jin"


"Kami berdua berasal dari bangsa manusia"


"Karena usia kami tak mungkin bisa hidup di sana akhirnya kami tersesat di sini" jawab Tumini singkat.


Tampaknya salah satu pemuds itu merasa iba melihat Tumini dan Rita yang sebatang kara di negeri jin.


"Nona, kalau boleh saya kasih saran, bagaimana jika kalian berdua ikut kami?"


"Dan tinggal di rumah kami?" tanya salah satu pemuda itu.


"Memangnya, kalian berdua berusia berapa tahun?" tanya Tumini penasaran


"Perkenalkan, namaku Alung, usia ku 1000 tahun dan yang disamping ku ini adalah adikku"


"Dia berusia 500 tahun" jawab Alung


Tumini menatap mereka tak berkedip. Jika berusia 1000 tahun berarti pemuda itu seumuran dengan Rita, sedangkan Adiknya jauh lebih tua dari Tumini.

__ADS_1


"Oh, ternyata disini usia ku termasuk usia paling muda" gumam Tumini dalam hati


Melihat wajah kedua pemuda itu tulus, akhirnya Rita dan Tumini mau diajak pergi ke rumah kedua pemuda itu.


__ADS_2