Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Tatapan mata aneh


__ADS_3

Di negeri peri, sosok Amin, hendra dan Ririn sepakat datang ke pesta kaum peri tanpa memakai cincin yang telah diberikan oleh peri cantik itu.


Mereka bertiga membaur dengan kaum peri yang lain dan tak menujukkan rasa takut sama sekali. Peri cantik memandang ke arah Amin dan berusaha melihat apakah cincin yang diberikannya tempo hari telah dipakai oleh Amin dan kawan-kawannya.


Namun, tangan Amin dan kawan-kawan nya rupanya telah disembunyikan oleh Amin di saku celana mereka masing-masing.


"Ah sial"


"Aku tak bisa melihat apakah cincin itu dipakai oleh ketiga manusia bodoh itu atau tidak" gumam peri cantik menggerutu.


Raja peri yang ada di tempat itu tak melihat ada 3 manusia menyusup dalam pestanya. Aneka jamuan dan makanan disediakan oleh para pelayan dan para penari mulai menunjukkan keahlian nya dalam menari.


Amin memandang ke arah kanan dan kiri untuk melihat apa yang akan terjadi setelah itu. Mulut Amin komat -kamit mengucapkan zikir dan doa dan ternyata doa amin membuat situasi pesta menjadi panas.


"Ah panas"


"Mengapa hawa nya menjadi panas" ucap beberapa peri lain yang berada di dekat Amin.


Wajah peri yang semula cantik dan tampan berubah menjadi sosok yang menyeramkan dan hal itu membuat Amin, Hendra dan Ririn menjadi ketakutan.


Mereka bertiga berteriak sekuat tenaga dan berlari menghindari pesta itu. Raja peri memandang ke arah mereka bertiga seperti ada sebuah dendam yang tak bisa tersampaikan. Begitu pula dengan peri cantik itu. Wajahnya gini berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan. Lidah nya menjulur keluar dan matanya melotot penuh darah segar.


Amin tetap memanjatkan doa dan pada akhirnya sampailah mereka bertiga di sebuah danau yang jernih airnya.


"Amin, ayo kita cuci muka"


"Sudah lama kita tidak cuci muka, dan kau kau mau, kita mandi di sungai ini" ucap Hendra


"Sepertinya, air di sungai ini tampak jernih" ucap Hendra sekali lagi


Amin mencoba memperhatikan air yang jernih itu. Tak biasanya ada air yang sangat jernih mengalir di tempat seram seperti itu.


"Kawan, tunggu"


"Alangkah lebih baiknya, kita tak menyentuh air itu"


"Aku takut, air itu mengandung hal yang tidak baik untuk kita" ucap Amin melarang Hendra untuk menyentuh air itu


Namun, terlambat bagi Amin untuk mengingatkan Hendra tentang hal itu.


Sebagian tangan Hendra telah menyentuh air itu dan keanehan pun terjadi.


Air yang semula jernih berubah menjadi air yang berwarna merah darah.


"Haa, mengapa air nya berubah menjadi merah?" ucap Hendra terkejut.


Hendra mulai mencium tangan nya yang terlanjur menyentuh air itu dan ternyata air sungai itu mengeluarkan bau amis, mirip bau darah manusia yang telah membusuk.


"sial"


"Di dunia peri ini, tak ada hal yang indah"


"Semua menjijikan"


"Ayo Amin, kita cepat pergi dari sini".

__ADS_1


"Aku sudah tak betah lagi" ucap Hendra sambil melihat di sekeliling


"Tenang hendra"


"Jika kita pergi dari sini, memangnya kita mau pergi ke arah mana?"


"Aku masih belum melihat jalan keluar" ucap Amin sambil melihat kiri dan kanan.


"Sudah lah ayo kita berjalan saja"


"Lihatlah ke sekeliling dan kita ambil arah barat" ucap Hendra sambil memandang ke arah Ririn


"baiklah ayo"


"Kita tak boleh berpikir lama"


"Kita tak kan pernah sampai kita ke dunia manusia jika kita terus berdiam disini" ucap Hendra sambil berlari duluan meninggalkan Amin dan Ririn.


Melihat tekad penuh yang dimiliki Hendra, Amin dan Ririn mengikuti perjalanan Hendra dari belakang dan perjalanan mereka untuk mencari jalan keluar sangatlah rumit.


Situasi sangat mencekam dan hanya asap putih dan cahaya matahari remang-remang yang menerpa mereka.


"Aku menyesal berusaha mencari Tumini sampai ke tempat ini" gumam hendra dalam hati.


Amin yang melihat hendra seperti memikirkan sesuatu langsung bertanya kepada Hendra apa yang sedang dipikirkannya kala itu.


"Hendra, apa yang kau pikirkan?"


"Sepertinya kau memikirkan sesuatu yang sangat berat" tanya amin kepada Hendra.


"Aku tak mau bicara apapun kali ini"


"Sekarang, yang aku inginkan adalah kita kembali ke alam manusia yang penuh damai" ucap Hendra kepada Amin.


"Tuan hendra, berarti pencarian kita kepada kak Tumini sudah selesai?" tanya Ririn sambil menepuk bahu hendra.


"Ririn, ketahuilah"


"Kita sudah berusaha mencari kakak mu sampai kita tersesat disini"


"Aku sudah menyerah sekarang"


"Aku akan kembali ke alam ku" jawab Hendra ketus.


Seketika, badan Ririn lemas melihat Hendra sepertinya sudah tak mau lagi mencari kakak nya.


"Aku akan hidup sebatang kara kali ini tanpa kakak ku" gumam Ririn dalam hati.


Air mata Ririn tak kuasa menetes karena hatinya teramat sedih.


Amin yang saat itu berada di samping Tumini berusaha menenangkan hati Tumini dan menyarankan untuk ikhlas atas kepergian Tumini karena mereka bertiga juga sudah berusaha mencari hingga sejauh ini.


Tak terasa, mereka bertiga tepat berada di persimpangan jalan dan hal itu membuat ketiga manusia itu kebingungan.


"Kita lewat mana ini?" tanya Amin

__ADS_1


Hendra menoleh ke kanan dan kiri memastikan jalan mana yang akan mereka tempuh agar bisa terlepas dari alam itu.


"Aku harus segera mengambil keputusan"


"Sepertinya, kita harus belok kanan"


"Aku yakin, arah ini semakin dekat dengan alam manusia" ujar Hendra.


Amin terlihat sangat lelah karena jalan yang mereka tempuh tak kunjung sampai. Begitu juga dengan Ririn.


"Amin, kenapa badanku semakin lemah saja"


"Aku sudah tak kuat lagi untuk berjalan" ucap Ririn sambil mencoba duduk di bawah pohon rindang.


"Ririn, aku juga merasakan hal yang sama dengan mu"


"Aku juga merasakan hal yang sama dengan mu"


"Aku merasakan lelah yang amat sangat" ucap Amin


"Aneh"


"Lihatlah Hendra"


"Dia masih sangat kuat berjalan" ucap Ririn memperhatikan hendra yang sejak tadi berjalan jauh di depan mereka.


"Hendra, ayo kita istirahat dulu" panggil Amin memanggil Hendra yang berjalan jauh di depan mereka.


"Amin, bukankah kita masih berjalan sebentar?"


"Mengapa kau sudah capek?" tanya Hendra kepada Amin.


"Aku juga tak tau mengapa tenagaku sudah habis"


"Padahal, kita memang masih berjalan sebentar" jawab Amin kepada Hendra.


"Sudahlah, ayo cepat"


"Sebentar lagi kita pasti sampai"


"Lihatlah cahaya putih itu"


"Mungkin saja alam kita telah dekat" ucap Hendra sambil terus berjalan ke arah cahaya putih itu.


Amin dan Ririn berusaha sekuat tenaga mengikuti arah dimana Hendra pergi. Walau berjalan terseok-seok mereka lakukan agar bisa mengimbangi Hendra yang sudah jauh di depan mereka.


Tak terasa mereka telah mencapai pusat cahaya itu.


"Amin, Ririn, lihatlah"


"Ada cahaya di pohon itu"


"Kita masuk aja ke sana" ajak Hendra kepada Amin dan Ririn


"Baiklah, ayo" jawab Amin tanpa berpikir lagi begitu juga dengan Ririn.

__ADS_1


__ADS_2