
"Ya benar sekali"
"Semakin lama sikap Indah semakin aneh saja"
"Apalagi sejak kandungannya makin membesar" ucap Doni
"Kita lihat saja gelagat nya"
"Bagaimana jika malam ini kita tidur terpisah dari Indah?"
"kita berdua tidur di ruang tamu, dan biarkan Indah tidur di dalam kamar"
"Kita lihat apa yang terjadi pada Indah malam ini" ucap Sandra memberikan ide
"ya ya ya"
"Ide mu bagus juga" ucap Doni sambil melihat ke arah Indah. Terlihat Indah asyik makan tanpa henti membuat Doni semakin jijik melihatnya.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita keluar sekarang" bisik Sandra pada Doni
Akhirnya, dengan berbagai alasan, Sandra dan Doni meminta ijin pada Indah untuk keluar dari kamar untuk mencari udara segar.
"Indah, aku dan Doni ingin menikmati udara segar di luar sana"
"Nanti, kami akan menyusul tidur bersamamu" ucap Sandra meminta ijin oada Indah
"Baik kak Sandra, aku akan menunggu kalian di dalam kamar"
"Nih, makan ku sebentar lagi hampir selesai"
"Entah mengapa aku bisa selapar ini"
"Mungkin memang lumrah ya"
"Ibu hamil memang suka makan" ucap Indah sambil melahap satu sendok terakhir.
"Sandra dan Doni akhirnya keluar meninggalkan Indah sendirian di dalam kamar.
Di pojok ruangan, terlihat Kebo ijo melahap sisa makanan milik Sandra dan Doni. Tampaknya saat memakan makanan yang disajikan, Doni dan Sandra lupa untuk berdoa sehingga kebo ijo ikut menyantap makanan milik mereka.
Tentunya, nasi yang ada di piring doni dan Sandra tak luput dari air liur kebo ijo yang berbau anyir.
Untung nya bau itu tak sampai ke hidung Sandra dan Doni karena dalam kamar kyai yusuf, ada semacam mutiara tasbih penawar dari berbagai macam bau lelembut. Walaupun tak semuanya dedemit bisa keluar dengan tasbih itu, namun ada sebagian dedemit yang tak tahan juga dengan hawa panas tasbih milik kyai yusuf.
Di samping kebo ijo yang asyik menyantap sisa makanan milik Sandra dan Doni, Indah tampak kekenyangan. Selama makan, kebo ijo tak pernah mencicipi makanan yang dimakan Indah karena kebo ijo tak ingin anaknya kelaparan di perut Indah.
"Untuk sementara waktu, selama Indah hamil anakku, aku tak akan menyantap makanan sisa milik Indah. Biarlah Indah makan sepuasnya tanpa campur tangan ku" ucap kebo ijo sambil meneruskan melahap sisa tulang belulang ikan kambing yang telah disediakan oleh pembantu kyai yusuf
(konon katanya, makanan utama bangsa dedemit dan jin adalah sisa tulang belulang dan hal itu menjadi makanan penambah energi bagi mereka)
__ADS_1
Di dunia jin, Tumini dan Rita pergi ke rumah nenek jin untuk menanyakan persyaratan yang harus dilaksanakan jika ingin menjadi istri dari raja jin.
"Tumini, apakah kau siap ikut kompetisi ini?" tanya Rita mempertanyakan kembali keputusan Tumini yang bersemangat menggoda raja jin
"Iya Rita"
"Ini juga berkat ide kamu"
"Aku ingin mencobanya" jawab Tumini singkat
"Lagian, di dunia manusia kita sudah sangat tua dan tak mungkin bisa menikah"
"Lihatlah tulang belulang kita saat berusia 100 tahun dunia"
"Pasti rapuh"
"Aku sudah mengalami tersiksanya hidup di dunia karena raga kita sangat rapuh"
"Berbeda di alam jin"
"Kita bisa hidup abadi sampai kiamat tiba tanpa merasakan sakit"
"Masalah surga dan neraka urusan belakangan"
"Aku malas memikirkan hal itu" ucap Tumini ketus
"Ya, baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan mu"
"Kita sudah menyatu menjadi satu kesatuan tak mungkin terpisahkan"
"Jika kau susah, aku juga susah" ucap Rita sambil membelai tangan Tumini.
"Ya, Rita"
"Menuju ke tempat nenek jin butuh waktu sehari"
"Ayo kita singgah dulu di gubuk reot itu" ucap Tumini sambil menunjuk ke arah gubuk yang ada di pinggir sungai.
Akhirnya mereka berdua pergi ke sebuah gubuk reot, sebagai tempat peristirahatan sementara bagi mereka.
Selama di negeri jin, Tumini dan Rita belum mempunyai tempat tinggal yang tetap. Nenek jin yang sangat akrab dengan mereka terkadang memberikan tumpangan menginap. Kedua cucu nenek jin juga sangat akrab dengan mereka berdua
Namun, mereka berdua merasa tak enak saja jika menginap terlalu lama. Jadinya rumah nenek jin hanya sebagai temoat persinggahan sementara bagi mereka berdua.
Sesampai di gubuk reot, ternyata tak ada siapapun di dalam sana. Suasana hening dan sepi.
"Tumini, sepertinya gubuk ini sudah kosong tak berpenghuni" ucap Rita sambil mengamati gubuk reot itu.
"Ya, benar sekali"
__ADS_1
"Bagaimana kalau tempat ini menjadi tempat tinggal tetap kita"
"Aku akan memperbaiki gubuk ini sedikit demi sedikit hingga menjadi cantik nantinya" ucap Tumini memberikan ide
"Idemu bagus juga"
"Ya udah"
"Kita untuk sementara waktu beristirahat di sini, besok kita lanjutkan perjalanan menuju ke tempat nenek jin" ucap Rita sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang terbuat dari kayu jati.
Tumini melihat ke sekeliling dan saat mereka berdua sedang bersantai, Tumini mulai mengambil selendang ijo miliknya yang sejak tadi disembunyikan di dalam ****** ***** nya.
"Tumini, kau menyembunyikan selendang ijo mu di ****** ***** mu"
"Aku baru tau" ucap rita setengah tak percaya
"Rita, aku menemukan tempat persembunyian yang aman berkat lentera yang aku dapatkan saat aku berada di pohon sawon"
"Ceritanya sangat panjang"
"Intinya, jika aku menyimpan selendang ijo di ****** ***** milikku, kekuatan nya akan bertambah"
"Dan kau tahu apa yang terjadi jika selendang ini aku gunakan untuk menari?"
Rita tertegun mendengar ucapan Tumini dan langsung menanyakan apa yang akan terjadi jika Tumini mulai menggunakan selendang ijo itu.
"Apa Tumini?" tanya Rita penasaran
"Nafsu birahi orang yang melihat aku menggenggam selendang ijo ini akan meningkat"
"Selama 7 hari, dia akan mengejarku tanpa henti meminta cinta kepadaku"
"Oh, baguslah"
"Tumini, aku ingin bertanya satu lagi" tanya Rita masih penasaran
"Apa Rita?" ucap Tumini sambil menyembunyikan selendang ijo di ****** ***** nya kembali
"Bagaimana jika yang melihat pelet selendang mu bukan orang yang kamu sukai?" tanya Rita
"Oh, kalau itu aku juga tak berharap"
"Akan aku tanyakan ke nenek jin dulu jika itu terjadi, karena akupun masih mempelajari bagaimana cara mengendalikan selendang ijo ini tanpa membuat beban pada diriku sendiri" ucap Tumini pendek
Rita mengangguk tanda mengerti ucapan Tumini, dan pada akhirnya mereka beristirahat karena besok mereka berdua akan melakukan perjalanan lagi
Saat mereka selesai berbincang, tampak di luar gubuk, ada sosok bermata mata merah melihat Tumini dan Rita yang mulai terlelap.
Tampaknya, sosok itu tak sengaja melihat selendang ijo yang digenggam Tumini.
__ADS_1
Sosok bermata merah mulai bernafas tak beraturan. Nafsu birahi nya terlihat mulai meningkat tanpa bisa dikendalikan lagi.