Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
misteri gunung kalong


__ADS_3

Jiwa kyai yusuf bersama dengan Doni dan Sandra terbang melayang menuju ke alam pusat pikiran mereka masing-masing. Dengan kekuatan gaib, akhirnya mereka bertiga berhasil kembali ke dalam raga mereka yang saat itu berada di tempat kediaman kyai Yusuf.


"Kyai Yusuf, kita kembali ke tempat semula" ucap Sandra sambil melihat ke sekeliling


"Ya, kita sudah sampai"


"Sekarang, istirahatlah dahulu"


"Energi kalian pasti terkuras banyak" ucap kyai yusuf. Setelah berkata demikian, kyai yusuf mulai berdiri dan pergi meninggalkan Sandra dan Doni di ruangan itu.


"Kyai, kau mau kemana?" tanya Sandra penasaran


Sandra langsung bertanya spontan karena kyai Yusuf tak mengatakan apa-apa pada mereka setelah meminta mereka berdua beristirahat.


"Aku akan meletakkan botol ini ke dalam lemari ku"


"Aku takut jika botol ini ditemukan oleh orang yang tidak tepat, karena bisa membahayakan semua orang" ucap kyai yusuf pelan


"Baiklah kyai" jawab Sandra pendek.


Kyai yusuf segera menuju ke suatu ruangan khusus dimana disitu dijadikan tempat penyimpanan pusaka keris, tasbih dan beberapa botol yang memiliki bentuk aneh.


Rupanya, semua barang itu diperoleh oleh kyai Yusuf sejak dia muda dulu. Kyai Yusuf bertugas untuk menyembuhkan segala macam santet. Beberapa benda aneh yang berada di dalam ruangan itu adalah sebagian kecil dari sisa santet milik beberapa orang yang berhasil diobatinya.


Santet dan tenung yang masih tersisa kekuatannya disimpan oleh kyai Yusuf di sebuah ruangan khusus dengan tujuan, agar energi santet itu tidak dipakai kembali oleh dukun yang tidak bertanggung jawab.


"Koleksiku sudah sangat banyak"


"Jika aku nanti telah wafat, aku tak tahu siapa yang akan menjaga barang ini" gumam kyai yusuf dalam hati.


"Semua barang yang aku simpan sangat bahaya dan jika berada di tangan orang yang tidak tepat, maka akan banyak kejahatan di muka bumi ini" gumam kyai yusuf dalam hati.


Setelah meletakkan botol yang berisikan bayi dedemit itu di dalam lemari, kyai yusuf kembali menemui Sandra dan Doni.


"Sandra, Doni, sering-seringlah datang kemari, dan cepatlah kalian menikah"


"Aku sudah tua dan butuh penerus yang akan meneruskan pekerjaan ku" ucap kyai Yusuf sambil memandang ke arah Sandra.


"Maksud kyai yusuf apa?" tanya Sandra penasaran


"Sandra, dalam darahmu ada keturunan yang bisa melihat dedemit dan merasakan getarannya"

__ADS_1


"Itu sudah turunan dan sedikit orang yang bisa melakukannya"


"Sempat aku melihat saat melakukan perjalanan melewati negeri jin, nenek moyang mu terperangkap di negeri jin itu dan saat ini dia masih berada di sana"


"Aku harap, kelak keturunan mu bisa membawa mereka semua pulang dan dikuburkan seperti layaknya manusia biasa" ucap kyai Yusuf


Mata kyai Yusuf menerawang ke arah jauh seakan mengisyaratkan banyak beban yang dideritanya.


"Iya kyai, kami berdua memang merencanakan pernikahan dalam waktu dekat"


"Semoga saja keinginan kami terwujud" jawab Sandra sambil memandang ke arah Doni yang sejak tadi terlihat bengong saja melihat percakapan antara kyai Yusuf dan Sandra.


Doni menganggukkan kepala tanda dia juga sependapat dengan Sandra, walaupun sebenarnya Doni tak bisa mencerna arah pembicaraan Sandra dan kyai Yusuf. Pikirannya terbang kemana-mana memikirkan peristiwa yang terjadi baru saja.


"Kalau begitu, kami akan pulang dulu pak kyai"


"Banyak pekerjaan yang akan kami selesaikan" ucap Doni meminta ijin pada kyai yusuf.


Wajar saja mereka berdua terburu-buru ingin segera pergi kembali karena sudah 3 hari ini, mereka ijin tidak masuk kerja hanya karena ingin mengurus Indah.


Kyai yusuf mengiyakan dan memberikan sebuah bekal untuk mereka berdua. Bekal itu berupa tasbih dan sebuah cincin bermata biru.


"Sandra, simpan barang ini baik-baik, siapa tahu bisa membantumu" ucap kyai yusuf


"Baiklah kyai" jawab Sandra


Di tempat lain, yaitu di negeri jin, nenek jin sudah sampai di gunung Kalong. Gunung kalong kala itu menunjukkan cuaca yang tidak bersahabat. Ada beberapa manusia yang ternyata mendaki di sana. Beberapa manusia itu adalah anak kuliah yang sedang bersenang-senang.


Mereka terdiri dari 4 orang berpasang-pasangan. Padahal sudah ditulis jika kawasan itu berbahaya, namun keempat mahasiswa itu secara diam-diam pergi ke sana karena ingin mencari hiburan.


Keempat mahasiswa itu bernama Rudi, beni, Intan dan maya. Keempat mahasiswa itu berasal dari kota dan tidak percaya hal-hal mistis.


Nenek jin rupanya mengamati mereka dari kejauhan, dan tanpa memikirkan mereka lagi, nenek jin masuk ke dalam sebuah gua yang ada di lembah gunung, dimana perekat paku jiwa untuk ritual tumini berada.


Sementara itu, keempat mahasiswa itu bersenda gurau dan makan di tempat terlarang.


"Intan, makanlah yang banyak"


"Sebentar lagi, waktu sore hari"


"Lebih baik, kita berempat menginap saja di sini" ucap Rudi sambil mencolek pipi Intan yang cuby

__ADS_1


"Rudi, aku takut jika tak segera pulang"


"Bukankah ada papan peringatan jika gunung kalong ini sangat berbahaya?" ucap Intan sambil memakai jaket nya.


Situasi di gunung kalong kala itu sangat dingin. Suhu nya mencapai 3 derajat celcius.


"Ya, cuaca disini sangat dingin pula"


"Aku takut kita mati sia-sia di sini" ucap Maya menambahkan.


"Sudahlah, jangan percaya tulisan papan peringatan"


"Itu adalah tulisan manusia" ucap beni sambil memakan bekal yang dibawanya dari rumah.


"Yasudah, ayo kita lanjutkan perjalanan"


"Lihatlah, di atas gunung pemandangan sangat Indah"


"Aku ingij melihat matahari terbenam" ucap Rudi sambil membereskan barang-barang yang dibawa oleh mereka.


"Baiklah, ayo, kita berangkat sekarang"


"Nanti kemalaman" ucap Beni


Intan dan maya akhirnya ikut juga karena pihak teman laki-laki mereka tak ada yang mendukung untuk kembali pulang.


Sementara itu, perjalanan menuju ke puncak gunung, mereka harus melewati tebing yang curam dan hanya cukup untuk satu pendaki. Mereka secara bergantian mendaki gunung itu. Jarak antara sisi kanan dan kiri sangat sempit.


Beginilah kiranya gambaran gunung nya jika dilihat pada siang hari



"Beni, kau jalan terlebih dahulu, ntar biar intan dan maya berada di tengah, aku yang dibelakang menjaga maya dan Intan" ucap Rudi memberi arahan pada keempat temannya


"Baiklah, ayo kita cepat mendaki"


"Lihatlah jam kita sudah menunjukkan jam 3 sore"


"Dua jam lagi, kita harus segera sampai di puncak untuk melihat pemandangan matahari terbenam"


"Jangan lupa bawa kamera foto agar tak sia-sia kita pergi ke tempat ini" ucap Beni

__ADS_1


Mereka berempat akhirnya mendaki secara perlahan-lahan.


Di tengah perjalanan, ternyata cuaca berubah menjadi sangat suram. Banyak asap yang tiba-tiba ada di sana. Rupanya di negeri jin, tempat itu adalah pasar tempat beberapa jin memperjual belikan barang dagangannya.


__ADS_2