Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Sampai di negeri jin


__ADS_3

Sementara itu, Tumini terbang menuju ke negeri Jin dengan membawa Tuyul peliharaannya.


"Nak, apakah kamu terluka?" tanya Tumini sambil membelai kepala sang tuyul yang gundul.


"Ya bu"


"Tubuhku tak kuat mendengar mantra dari manusia tua itu"


"Lihatlah wajahku"


"Sekarang, aku sedikit kurus karena majikan ku devi jarang menyusui ku tiap malam jumat kliwon" ucap tuyul pada Tumini


Mendengar keluh kesah sang tuyul, Tumini berkata


"Maafkan ibu yang jarang memperhatikan mu"


"Sekarang, kamu sudah bebas"


"Walau devi jarang menyusui kamu, paling tidak kau sudah merasakan air susu Devi.


"Energi mu secara otomatis sudah bertambah tanpa kamu sadari"


"Berkat kamu menyusu pada devi, kau telah mempunyai banyak teman sekarang" ucap Tumini tersenyum senang.


"Hah?"


"Teman?"

__ADS_1


"Teman seperti apa bu?"


"Sekarang, mereka ada di mana?" tanya sang tuyul pada Tumini.


Tumini langsung menjawab pertanyaan sang tuyul untuk menghilangkan rasa penasaran tuyul itu


"Sebentar lagi, aku akan membawamu ke tempat dimana teman mu berada"


"Untuk sementara waktu, kau harus istirahat dulu di sana bersama teman-teman mu" ucap Tumini memberi harapan pada sang tuyul.


"Aku sudah menyediakan sebuah tempat khusus untuk kalian" jawab Tumini


"Baiklah bu" Tuyul peliharaan Tumini langsung sumringah mendengar perkataan Tumini yang sedikit menyejukkan hatinya.


Mereka berdua akhirnya pergi ke sebuah tempat dimana disitu ada beberapa tuyul duplikat yang merupakan saudara kembar sang tuyul.


Rupanya, Tumini membawa sang tuyul ke sebuah tempat di rawa rawa dekat pantai selatan, dimana di situ merupakan perbatasan antara negeri manusia dan negeri jin.


"Tempat barumu yang sekarang" ucap Tumini sambil membukakan pintu tempat baru sang tuyul.


Terlihat sebuah ruangan yang sangat luas. Di tempat itu terlihat pohon dengan buah yang mirip kepala manusia. Buah itu berbuah tiap seminggu sekali. Saat pohon itu berbuah, para tuyul kecil penghuni tempat itu berkerumun untuk berebut buah yang sudah terlihat matang.


Waw, bagus sekali ibu" ucap Tuyul


Tuyul peliharaan Tumini mulai melihat ke arah pohon yang akan menjadi sumber makanannya nanti.


"Bu, tempat ini sangat mirip dengan tempat dimana aku dahulu tinggal"

__ADS_1


"Bedanya, dulu di tempat lamaku, aku menghisap sari bunga yang berasal dari jiwa manusia" ujar sang tuyul pada Tumini.


"Oh, benar anakku"


"Sebelum kau disini, memang aku menitipkan mu di tempat nenek jin"


"Berhubung tuyul lainnya sudah mulai banyak, aku menampungnya disini bersamamu" jawab Tumini.


Tuyul peliharaan Tumini itu pun mengangguk, tanda dirinya telah mengerti apa yang dijelaskan oleh Tumini kepadanya.


Terlihat suasana di tempat itu sangat ramai. Banyak penghuni tempat itu yang mirip sekali dengan wajah sang tuyul.


Melihat kedatangan Tumini dan sang tuyul, beberapa tuyul lainnya mulai mendekat dan berkerumun di samping Tumini. Mereka mulai mencium kaki Tumini sampai puas.


"Ibu, sepertinya aku akan betah di sini" ucap sang tuyul


Tumini menanggapi ucapan sang tuyul dengan senyuman.


"Baiklah kalau begitu"


"Aku pergi dulu"


"Nanti, aku akan mencarikan majikan baru untuk mu"


"Aku harap, kau ajari adik adikmu disini agar mereka bisa sepertimu" ucap Tumini


"Ibu, memangnya, ibu mau kemana?" tanya sang tuyul pada Tumini

__ADS_1


"Aku akan pergi ke kerajaan jin, yang letaknya tak jauh dari sini" jawab Tumini pada sang tuyul


"Oh ya bu" tuyul itu akhirnya pergi bermain bersama teman tuyul yang lain. Wajah bahagia terpancar di wajah mereka.


__ADS_2