
Setelah Rita dan Tumini menolak tawaran Doni, akhirnya Doni meninggalkan mereka berdua dan pergi menyusuri Hutan. Harapannya hanya satu, ingin kembali ke rumah Sandra.
Jiwa Doni terombang-ambing oleh pikiran yang kacau dan tampak bayangan hitam sedang mengintai nya.
Bayangan hitam itu adalah dedemit jahil yang menempel di tubuh Doni. Akibat makan terlalu banyak di negeri dedemit, akhirnya Dedemit jahil yang selama ini mengikuti pesta tari di malam itu mulai mengikuti Doni tanpa Doni sadari.
Dedemit jahil itu bernama Pandawi. Dia adalah dedemit yang suka keluar masuk wilayah dan tak punya tempat tinggal yang tetap di negeri dedemit.
Lidah nya menjulur keluar dan air liur dedemit pandawi selalu menetes setiap kali dirinya berjalan.
Perut dedemit pandawi juga besar karena makannya selalu banyak. Sosok Doni yang makan terlalu lahap di desa dedemit tempo hari membuat dedemit pandawi tertarik dan terus mengikuti Doni. Dia menyangka bahwa Doni bisa menjadi temannya.
Sebelum bisa masuk ke mengambil jiwa Doni, dedemit pandawi hanya menempel saja di tubuh Doni, karena saat itu Doni dalam suasana bingung dan takut, akhirnya Doni tak bisa mengendalikan jiwa nya dan jiwanya terlepas bersama dedemit pandawi.
"Dimana aku?" ucap Doni sambil terus berjalan memyusuri hutan namun dirinya tak kunjung sampai ke rumah Sandra.
Karena rasa bingung yang melanda, akhirnya Doni beristirahat di sebuah pohon besar di dekat hutan itu.
Sementara itu, Tumini dan Rita akhirnya bisa masuk ke dunia dedemit. Rasa sakit yang mereka derita sedikit demi sedikit mulai hilang.
"Rita, ayo kita lakukan aktivitas kita seperti kemarin" ucap Tumini sambil mempersiapkan selendang ijo miliknya.
__ADS_1
Selendang ijo itu memancarkan energi yang sangat kuat. Pancaran nya sanggup memelet bangsa dedemit sekalipun.
Rita dan Tumini mulai melakukan aktifitas seperti biasanya. Beginilah pekerjaan Rita dan Tumini. Mereka berdua hanya mengulur waktu dan tak kunjung menemui titik akhir dari kehidupan mereka.
Sebenarnya, mereka ingin melepas semua dan mengalami kematian seperti manusia normal lainnya. Namun semua yang dilakukan tak membuahkan hasil.
Di tempat lain, Sandra dan ustadz Rosi telah sampai di rumah kyai yusuf. Sesampainya disana, kyai Yusuf menanyakan keberadaan Doni dan kenapa sampai terlambat menemuinya lagi.
"Sandra, dimana Doni?"
"Bukankah kau awal datang ke sini sedang bersama Doni?" tanya kyai Yusuf penasaran
"Kyai, Doni saat ini berada di dalam mobil" ucap Sandra sambil melihat ustadz rosi memapah Doni yang terlihat bengong terusm
"Saat kami perjalanan pulang dari rumah kyai, kami tak langsung segera pulang"
"Kami mengulur waktu hingga kami tersesat di desa dedemit" ucap Sandra
"Setelah kejadian itu, awalnya Doni biasa saja".
"Dia menyapa ibu saya dan berkativitas seperti biasa"
__ADS_1
"Tapi setelah melihat makanan yang dia bawa, sikap nya berubah dan sampai sekarang, Doni bengong seperti ini" ucap Sandra.
Kyai yusuf terdiam sejenak dan akhirnya menerawang Doni dengan memejamkan matanya.
"Sandra, jiwa Doni ada di perbatasan negeri dedemit dan negeri manusia"
"Untuk menolongnya sekarang, kita belum terlambat" ucap kyai yusuf sambil terus berkonsentrasi menerawang jauh.
"Bagaimana kyai, tolonglah kami" ucap Sandra sambil melihat ke arah Doni.
"Oh ya, bawa Doni kemari"
"Selama seminggu, raga Doni biar aku yang urus"
"Kamu dan ustadz Rosi, yang akan pergi ke negeri dedemit"
"Saat pergi ke sana, aku akan membawakan bekal untuk kalian"
"Jika berhasil, jangan lagi kau coba-coba melewati hutan itu tanpa berdoa" ucap kyai yusuf mengingatkan
"Baiklah kyai" jawab Sandra.
__ADS_1
Sementara itu, ustadz Rosi masih terdiam dan ikut membantu kyai yusuf dalam berdoa.
Melihat hal itu semua, Sandra semakin yakin jika Doni akan bisa cepat terselamatkan.