Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Keadaan Rudi


__ADS_3

Pak Rt akhirnya memanggil sesepuh desa yang berada tak jauh dari rumahnya. Sesepuh itu bernama Pak Suroso.


"Asalamualaikum pak Suroso, saya pak Rt mau minta tolong" ucap pak Rt sambil mengetuk pintu rumah pak Suroso.


Kebetulan, pak Suroso berada di dalam rumahnya dan mendengar salam dari pak Rt.


Pak suroso langsung berjalan pelan karena usianya sudah sangat renta.


"Oh, pak RT rupanya, masuk pak" ucap pak Suroso mempersilahkan masuk


"Pak, saya butuh bantuannya pak"


"Warga saya menemukan seorang mahasiswa yang tersesat di gunung Kalong"


"Hanya saja, dia tak bisa diajak bicara sampai saat ini" ucap pak Rt


Pak Rt pun menceritakan kronologi kejadiannya kepada pak Suroso tanpa mengurangi maupun menambahkannya


"Oh, ya pak RT"


"Saya akan menuju ke sana"


"ayo" ucap pak Suroso.


pak Suroso pun berjalan pelan keluar dari rumahnya. Tak lupa dirinya memakai kopyah yang sudah usang.


Karena rumah pak Suroso dan pak Rt tak terlalu jauh, mereka berdua akhirnya cepat sampai ke rumah pak Rt.


Beberapa warga sudah menunggu pak Suroso di tempat itu. Rudi yang melihat wajah pak Suroso terlihat tersenyum senang karena dirinya merasa ada orang yang akan menolongnya.


"ini anaknya pak" ucap pak Rt sambil menunjuk ke arah Rudi yang terlihat segar bugar namun tak bisa berkata apapun alias bisu.


"siapa namamu nak?" pak Suroso mulai menyapa Rudi dan perkenalan yang pertama dilakukan pak Suroso adalah bertanya tentang nama Rudi.


Rudi hanya berdehem dan berusaha menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pak Suroso, namun usahanya untuk berbicara sia-sia.


Rudi tetap pada keadaannya semula yaitu tak bisa berkata sepatah katapun kecuali hanya mengerang saja.


"ah, uh ,hikz, wzwzkqhbbb"


"kata-kata tak jelas yang terlontar dari mulut Rudi membuat beberapa warga desa berdoa untuk keselamatan Rudi.


Sementara itu, Pak Suroso akhirnya berusaha menenangkan pikirannya. Dirinya berusaha membuka tabir gaib yang ada pada Rudi.


Mata pak Suroso terpejam dan beberapa saat kemudian, muncullah dua jin yang pernah menjual sebuah roti kepada Rudi.


"Pak Suroso, kenapa kau mengusik kami?" tanya salah satu jin yang berada di gunung Kalong.


"Aku ingin lelaki ini bisa bicara" jawab jiwa pak suroso yang kala itu terbang ke negeri gaib.

__ADS_1


"pak Suroso, tidak bisa"


"Rudi telah menjadi bagian dari kami setelah memakan Roti pemberian kami"


"Dia tak akan bisa bicara selamanya karena jika dia bisa bicara, dia akan membocorkan semua yang dia lihat di alam kami"jawab kedua jin penunggu gunung Kalong.


Pak suroso manggut-manggut mendengar ucapan dari dua jin penunggu gunung Kalong itu.


"Bagaimana jika aku memintanya kepadamu agar pemuda ini bisa berbicara lagi?" tanya pak Suroso berusaha meminta jalan terbaik untuk Rudi.


"Tak bisa pak Suroso"


"Semua yang telah melihat pasar kami, akan mati karena arwah mereka akan kami jadikan pembantu kami saat kami akan berjualan nanti" jawab salah satu jin itu.


Pak Suroso mulai berpikir keras


"Oh ya pak, Berhubung Rudi bisa hidup dan ditolong oleh salah satu jin tamu, kami memberikannya kelonggaran" ucap salah satu jin yang ditemui pak Suroso


"Oh, ya baiklah"


"aku pergi dulu, terimakasih kalian sudah memberi penjelasan yang sangat jelas" ucap pak Suroso


Jiwa Pak suroso akhirnya kembali ke tempat dimana dirinya berada. Perlahan, pak Suroso bisa membuka matanya sedikit demi sedikit.


Saat membuka matanya, pak suroso mulai berkata kepada pak RT yang kala itu ada di sampingnya.


"pak Rt, aku ingin membicarakan hal penting kepadamu" ucap pak Suroso


Akhirnya, pak Rt dan pak Suroso masuk ke dalam kamar rahasia untuk membicarakan perihal penting tadi.


Sementara itu, Beni, Intan dan Maya mulai memikirkan sesuatu yang menyangkut Rudi. Mereka bertiga mulai berbincang dan menebak apa yang akan dilakukan pak Suroso kepada Rudi yang kala itu tak bisa berbicara sepatah katapun kepada mereka.


Selain tak bisa berbicara, menulis pun Rudi tak bisa melakukannya.


Sosok Rudi kini menjadi orang yang paling tidak berguna kala itu.


Di tempat lain, yaitu di kediaman nenek jin, Tumini dan Rita asyik ngobrol berdua.


"Kemana nenek jin, sepertinya lama sekali dia mengambil perekat paku jiwanya" ucap Tumini ketus.


"Iya, nih"


"aku tidak sabar dengan ini" jawab Rita


Karena tak sabar dengan keadaan yang ada, Tumini pergi menuju ke ruang belakang yang ada di rumah nenek jin.


"wah, banyak sekali tumbuhan dan tanaman disini"


"Sepertinya, aku tak asing dengan tanaman yang ada di sini"

__ADS_1


"tapi apa ya?" tanya Tumini penasaran


Tumini terus saja mengamati tanaman itu dan barulah dia paham dengan tanaman yang ada di belakang rumah nenek jin.


"Rita, lihatlah"


"Ada tanaman menangis karena dirinya ingin bebas?"


"Apakah tanaman ini berasal dari jiwa manusia yang tersesat?"


"Sama dengan jiwa kita saat pertama kali berada di negeri jin ini"


"Apa hubungan nya dengan nenek jin?" tanya Tumini penasaran, begitu pula dengan Rita


"Ayo kita mendekati salah satu tanaman yang menangis itu" ucap Tumini sambil pergi menuju ke tempat salah satu tanaman aneh dengan bunga yang membentuk kepala manusia penuh dengan darah.


Darah yang ada di sekitar tanaman rupanya sangat nyata dan hal itu membuat Tumini dan Rita sedikit ciut nyali.


"Rita, banyak rahasia di dalam rumah ini"


"Sebaiknya, kita menunggu nenek jin datang ke mari" ucap Tumini


Tak lama kemudian, nenek jin telah datang dan Tumini serta Rita menyambut kedatangan mereka...


"Nak, aku sudah pulang"


"Ayo kita lakukan ritual paku jiwa " ucap nenek jin sambil mengeluarkan perekat jiwa di balik bajunya.


"Tumini, apa kau siap?" tiba-tiba nenek jin berkata kepada Tumini.


"nenek, aku sudah siap"


"Namun, aku masih penasaran dengan tanaman yang nenek pelihara di belakang rumah nenek" ucap Tumini sambil menunjukkan tanaman aneh yang sangat subur tumbuh di belakang rumahnya.


"Oh, tanaman itu"


"Itu adalah tumbal yang nenek miliki" ucap nenek jin sambil mengajak Tumini untuk melihat tanaman miliknya.


"Tumbal apa nek?" tanya Tumini penasaran


"Itu adalah tumbal manusia yang meminta pesugihan kepadaku"


"Aku mengkoleksi tanaman ini, untuk membantu menyuburkan tanahku"


"Mereka, para manusia yang sudah melakukan perjanjian kepadaku, jiwanya tertanam disini sampai hari kiamat nanti"


"Oh ya, kau mendapatkan salam dari jin mata merah Tumini" ucap nenek jin sambil memberikan sebuah cincin kepada Tumini


"Oh, jin mata merah?"

__ADS_1


"Aku tidak mengenal nya nek" ucap Tumini sambil melihat cincin yang dibawa oleh nenek Jin itu


__ADS_2